Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 88 : Saling Terbuka


__ADS_3

Aby meraih selembar tissue dan mengusap air mata yang meleleh di pipi, juga keringat yang mulai membasahi kening istrinya. 


"Kamu mikirnya kejauhan, Sayang." 


Embun tak menyahut. Hanya suara sesegukan yang terdengar di sana. Membuat Aby kembali memeluk wanitanya itu. 


"Dapatin kamu itu susah, tahu. Masa mau ditinggal," tambahnya sembari membelai wajah. 


"Aku takut kamu akan benar-benar meninggalkan aku." 


"Nggak akan." Sejenak Aby melepas pelukan, lalu menatap lekat wajah Embun. "Aku minta maaf kalau sikapku beberapa hari belakangan ini membuat kamu sedih. Aku juga nggak tahu kenapa bisa bersikap berlebihan seperti itu." 


"Aku juga minta maaf. Aku menyembunyikan keadaan sebenarnya dari kamu." Embun menyeka air mata yang kembali membasahi pipi. "Sebenarnya aku—" 


"Aku tahu." 


Terlihat kerutan tipis di dahi Embun mendengar ucapan suaminya. Dalam benaknya timbul pertanyaan dari mana Aby tahu tentang sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Detik itu juga, Embun menundukkan kepala. Ada perasaan antara malu dan takut. 


"Kamu tahu dari mana?" lirihnya dengan suara pelan sekali. 


Aby mengulas senyum tipis ketika melihat keraguan yang tergambar jelas dalam tatapan istrinya. Ia genggam tangan wanita itu erat, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. 


"Dari mama." 

__ADS_1


Embun yang terkejut langsung mendongak dan menatap suaminya. 


"Maaf, aku terpaksa tanya sama mama. Tapi aku rasa keputusanku untuk tanya ke mama nggak salah. Karena akhirnya aku dapat jawabannya." 


"Mama kasih tahu semuanya?" 


Aby menjawab dengan anggukan kepala. 


"Sayang ... kamu nggak boleh putus asa. Kita akan cari solusi sama-sama. Kamu mau kan ke dokter, aku temani." 


"Tapi aku nggak yakin. Dokter sudah bilang kemungkinan untuk aku hamil sangat kecil." 


"Nggak apa-apa, yang penting kita usaha dulu. Kalau memang kita nggak bisa punya anak sendiri, kita bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Kita akan sayang sama dia seperti anak sendiri." 


"Kamu yakin?" 


Embun menyandarkan kepala di dada suaminya. Seluruh beban yang memenuhi hatinya selama ini lenyap seketika. 


"Aku minta maaf, Mas. Mulai sekarang aku nggak akan merahasiakan apa-apa lagi dari kamu." 


"Aku juga minta maaf, Sayang. Kamu jadi insecure begini pasti karena kesalahan aku juga." 


Keduanya saling berpelukan, saling mencurahkan isi hati masing-masing. Benar kata Aby, saling terbuka akan meluruskan salah paham. 

__ADS_1


"Kamu pasti belum makan seharian," tebak Aby, setelah mendengar bunyi keroncongan dari perut Embun. 


"Aku lagi malas makan." 


"Jangan gitu. Kalau kamu kurus, nanti mama minta anaknya dibalikin." Ia merapikan rambut yang menutupi wajah sang istri, lalu menyelip ke belakang telinga. "Kita makan dulu, yuk. Kamu habis masak, kan?" 


"Iya." 


Aby merangkul istrinya menuju ruang makan. Seperti biasa Embun melayani suaminya dengan baik.


"Oh ya, tetangga kesayangan kamu nggak main hari ini?" tanya Aby di sela-sela makan malam.


"Main, tapi aku suruh pulang," jawab Embun diiringi hela napas panjang.


"Kenapa disuruh pulang? Biasanya kamu betah ngobrol sama dia." 


Embun ikut tertawa mendengar candaan suaminya.


"Lagian main ke rumah orang pakai tanktop sama hotpants doang." 


"Kamu nggak ada rencana pakai gituan juga?" 


Sepasang mata Embun melotot menatap suaminya. Membuat Aby terkekeh geli.

__ADS_1


"Maksud aku nanti buat di kamar. Bukan buat main ke tetangga." 


*****


__ADS_2