
Perlahan Aby melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Embun. Sehingga istrinya itu kembali menghadap lemari dan mengeluarkan pakaian tidur. Sementara Aby terdiam di tempat, memandangi sang istri yang malam itu tampak sangat cantik dalam pandangannya.
"Nasib," gumamnya dalam hati.
Pria itu menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Menyandarkan punggungnya yang terasa lemas. Sorot matanya mengikuti Embun yang kini tengah duduk di meja rias. Mengoleskan lotion ke kulitnya hingga menyisir rambut panjangnya. Sungguh keindahan yang sempurna.
"Sini!" Aby mengulurkan tangan saat Embun telah selesai dengan ritualnya. Uluran tangan itu segera disambut oleh sang istri. Membuat Aby menariknya hingga jatuh ke pangkuannya.
Aby membenamkan kecupan sayang di pipi.
"Berapa lama?" tanyanya.
Embun langsung mengerti arah pertanyaan sang suami.
"Paling satu minggu," jawabnya singkat dengan kedua tangan berada di dada Aby.
"Kok lama sih?"
"Memang begitu. Ini kan baru hari pertama."
Aby membuang napas panjang. Meskipun kecewa berat, namun tak menyurutkan rasa bahagia yang membuncah di hati.
"Ya udah, nggak apa-apa." Tangan Aby masih melingkar di pinggang istrinya. Sesekali ia menciumi pipi. "Kamu istirahat saja dulu. Nabung tenaga buat minggu depan."
Kalimat frontal itu membuat pipi Embun memerah. Aby membaringkan Embun di sisinya. Lalu, menarik selimut menutupi tubuh mereka. Posisi wajah keduanya yang sangat dekat membuat Embun dapat merasakan hembusan napas hangat suaminya.
Aby semakin mendekat, hingga Embun merasakan jantungnya seperti akan keluar dari tempatnya.
Sepasang mata wanita itu pun terpejam, saat merasakan betapa lembutnya Aby menyatukan kedua bibir itu.
Hangat
lembut
Dan dalam
Menciptakan sensasi hangat yang membuncah di hati. Aby yakin ini adalah ciuman pertama istrinya, karena Embun terasa sangat kaku. Dan tanpa Embun sadari, bahwa ini juga adalah ciuman pertama bagi Aby.
***
Pagi harinya ....
"Loh Aby kamu sudah mau berangkat kerja? Bukannya kamu masih butuh istirahat?" Bunda menatap Aby yang pagi itu sudah rapi dengan kemeja dan celana bahan. Padahal Aby belum pulih sepenuhnya.
Aby menarik kursi dan bergabung sarapan.
"Iya, Bunda. Aku makin lemas kalau di rumah terus. Aku sudah merasa lebih baik sekarang."
Bunda menatap Embun yang hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka. Sambil mengisi piring suaminya dengan menu sarapan.
"Sedikit aja, Sayang. Jangan banyak-banyak."
Sementara Galang yang juga sedang sarapan hanya menjadi penonton. Rasa cemburu masih menyergap ketika mendengar panggilan sayang yang disematkan Aby untuk Embun. Namun, ia berusaha sebisa mungkin menutupi.
"Oh ya, Kak Galang kapan berangkat?" Aby menatap kakaknya.
"Mungkin beberapa hari lagi. Sekarang sedang mengurus semuanya, termasuk paspor dan visa."
Aby mengangguk mengerti.
"Tapi kamu harus sering pulang tengok ayah sama bunda. Kalau perlu kamu cepat cari istri."
__ADS_1
Perkataan bunda membuat Galang tersedak roti tawar yang baru saja akan ditelannya. Galang meraih segelas air putih dan meneguk tergesa.
"Nanti cari di korea, Bun," balas Galang membuat bundanya terkekeh.
.
.
.
Di kantor ....
Aby sedang duduk di biliknya ketika tepukan mendarat di bahu. Ia menoleh sejenak, tampak Dewa berdiri di sisi meja.
"Bagaimana keadaan kamu setelah kecelakaan?"
"Baik, terima kasih."
Dewa mengangguk. "Maaf aku nggak sempat tengok kamu di rumah sakit, jadwalku kemarin sedang padat-padatnya."
"Nggak apa-apa, kok."
Aby tahu pekerjaan Dewa memang sangat banyak. Mengingat Dewa adalah kepala divisi produksi. Dan saat ini perusahaan tempat mereka bekerja sedang memproduksi produk baru berupa minuman kesehatan untuk ibu hamil.
"Ngomong-ngomong aku dengar dari Bundaku, katanya kamu sama Embun ijab kabul ulang kemarin. Aku ucapkan selamat, semoga pernikahan kalian langgeng."
"Terima kasih. Kamu juga, semoga cepat ketemu perempuan yang baik."
"Biar nggak kepikiran terus sama istri orang," tambah Aby dalam hati.
Dewa menepuk bahu Aby, lalu beranjak menuju ruangan pribadinya.
.
.
.
"Kok rumah sepi. Pada ke mana?" tanya Aby, sedikit heran. Karena sejak tiba di rumah, ia tak menjumpai siapapun, kecuali Embun.
"Bunda sama ayah lagi keluar sama Mas Galang. Tadi aku juga diajak. Tapi aku bilang mau tunggu kamu di rumah."
"Oh ..."
Aby menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan kamu."
Ia menarik tangan istrinya, hingga ikut duduk di sisinya.
"Hal penting apa, Mas?"
"Aku mau beli rumah untuk kita berdua. Sepertinya akan menyenangkan kalau kita tinggal di rumah kita sendiri dan nggak numpang sama orang tua lagi. Menurut kamu bagaimana?"
Aby menatap lekat wajah istrinya.
"Aku setuju saja. Yang namanya orang berumah tangga pasti senang kalau punya rumah sendiri."
Membelai puncak kepala istrinya, Aby memulas senyum. "Kalau begitu besok siang aku jemput kamu untuk lihat rumahnya. Aku sudah ada beberapa rekomendasi dari teman. Tapi, aku mau rumah kita, kamu yang pilih."
Embun mengangguk setuju. Lalu, mencium pipi suaminya dengan malu-malu. Membuat Aby menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Kamu lagi merayu aku, ya?"
"Nggak."
Tak tahan rasanya menatap bibir istrinya yang menggoda, Aby menarik tengkuk lehernya dan mendekatkan wajah. Namun, belum sempat dua bibir itu menyatu, sudah terdengar suara ketukan pintu. Membuat Aby menghela napas kasar.
"Siapa sih, ganggu kenikmatan orang aja?" gerutunya dalam hati.
Keduanya menoleh bersamaan ke arah pintu. Embun segera beranjak untuk membuka pintu. Tampak Mbak Iyem ada di sana dengan senyum tipis.
"Di bawah ada orang yang mengaku orang tuanya Neng Vania. Mau ketemu Den Aby sama Mbak Embun."
Embun menatap suaminya. Aby pun langsung bangkit dari duduknya.
"Orang tuanya Vania? Mau apa mereka?" tanya Aby.
"Nggak tahu, Den. Saya cuma disuruh menyampaikan itu."
Aby mengangguk mengerti. "Ya sudah, suruh tunggu aja, Mbok. Saya mau ganti baju dulu."
Wanita berusia 40 tahunan itu tersenyum, sebelum akhirnya beranjak pergi. Embun kembali menatap suaminya.
"Kenapa orang tua Vania mau ketemu kita, Mas?"
"Nggak tahu, Sayang. Kamu tenang aja, nggak apa-apa kok."
Embun membantu suaminya membuka pakaian. "Apa kamu pernah ketemu mereka?"
"Pernah."
Saat awal berpacaran dengan Vania, Aby pernah beberapa kali bertemu dengan kedua orang tua Vania. Mereka juga pernah makan malam bersama.
"Aku mau mandi dulu ya. Kita turunnya bareng aja."
.
.
.
Aby merangkul pinggang istrinya menuju ruang tamu. Dari jarak jauh, sudah terlihat pria dan wanita yang tengah duduk menunggu.
Langkah Embun sempat terhenti saat menyadari wanita yang tengah menunggu di sana menatapnya penuh amarah. Dan Aby menyadari itu, sehingga merangkul pinggang istrinya lebih erat.
"Selamat malam, Om, Tante," sapa Aby dengan ramah. Ia memulas senyum tipis, namun tak diindahkan sepasang suami istri itu.
"Aby, Tante ke sini untuk membicarakan anak tante yang sekarang ditahan karena kalian," ucapnya ketus. Wanita itu menatap Embun dengan tatapan tak bersahabat, seolah sedang meremehkan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tante?" tanya Aby. Masih menunjukkan sikap sopan.
"Tante mau minta kamu dan keluarga kamu mencabut laporan tentang Vania. Kamu tahu kan, kondisi Vania?"
Aby terdiam beberapa saat. Semakin erat menggenggam tangan istrinya. "Saya tahu, Tante. Tapi, kami sudah serahkan semua kepada pihak yang berwajib."
Jawaban yang diberikan Aby membuat wanita itu menarik napas dalam.
"Kamu tega ya, sama Vania?"
"Maaf, Tante. Ini bukan masalah tega atau tidak. Ini menyangkut nyawa. Untuk sementara semua tuduhan memang mengarah kepada Vania, karena mobil yang menabrak saya memang mobilnya Vania."
__ADS_1
"Vania bisa nekat seperti itu karena sakit hati sama kamu!" Tatapan tajam ia arahkan kepada Embun. "Dan ternyata hanya perempuan seperti ini istri yang dipilihkan keluarga kamu."
*****