Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Kabar Bahagia Untuk Semua


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Aby memasuki halaman rumah Mama Rima. Sebelum pulang ke rumah, terlebih dahulu Aby mengantar mertuanya untuk mengambil beberapa barang di rumah lama. Hasil pembicaraan antara Aby dan Mama Rima di rumah sakit tadi membuahkan sebuah kesepakatan, bahwa mulai hari ini Mama akan tinggal bersama Aby dan Embun di rumah mereka. Lagi pula selama Embun menikah, sang mama tinggal seorang diri. 


"Aku bantu beres-beres ya, Mah!" tawar Embun. 


"Tidak usah, Nak! Kamu istirahat saja dulu. Itu muka kamu juga masih pucat. Lagi pula mama cuma bawa pakaian, kok." Mama Rima membelai wajah putrinya sebelum masuk ke kamar.


Sementara Embun memilih untuk menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia masih merasa sedikit pusing dan lemas. Meskipun begitu, hatinya penuh dengan rasa bahagia hingga tak ada kata yang cukup untuk menggambarkannya. Ketakutan dan kekhawatiran yang dirasakan selama berbulan-bulan seketika sirna dengan hadirnya janin yang sedang tumbuh di rahimnya.


Embun masih terduduk lemas, ketika Aby datang dan duduk di sisi sang istri. Tangan lelaki itu terulur mengelus puncak kepala dengan lembut. "Kamu kenapa?"


"Nggak apa-apa, Mas. Cuma pusing sedikit kayak biasanya."


"Tapi nggak mual lagi, kan?"


Embun menggeleng pelan. "Nggak."


Sejenak, Aby mengarahkan pandangan kepada Mama Rima yang tampak sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. "Sambil tunggu mama beres-beres, aku buatin kamu susu, ya?" tawar Aby. Tadi, perawat memang sempat berpesan agar Embun banyak mengonsumsi susu, karena tekanan darahnya cukup rendah. 


"Boleh. Tapi susu coklat aja, jangan vanila. Aku mual kalau susu vanila." 


"Iya, Sayang." Aby segera menuju dapur untuk membuat susu. Di dapur mama selalu tersedia susu dengan berbagai rasa. 

__ADS_1


Kurang dari lima menit, Aby sudah datang dengan membawa segelas susu. Ia letakkan di hadapan Embun yang tengah bersandar sambil memainkan ponselnya. 


"Lagi chatingan sama siapa?" tanya Aby. Raut wajah cemburu sudah terlihat jelas dalam tatapan matanya. Embun hanya terkekeh.


"Sama teman, Mas," jawab Embun singkat. 


"Teman yang mana?" Aby mencondongkan kepala demi melihat layar ponsel. Ia baru bernapas lega setelah melihat nama wanita yang tertera pada layar. "Awas kalau chatingan sama cowok!"


Lagi, sikap Aby membuat Embun mengatupkan bibir demi menahan tawa. Beberapa waktu belakangan ini, Aby memang terkesan sangat posesif dan cemburuan. Pesan tidak dibalas saja sudah membuatnya kelabakan. 


"Sudah dulu chatingannya, minum susunya keburu dingin." 


Tak lama berselang, Mama Rima keluar dari kamar dengan menyeret sebuah koper. Aby langsung berdiri, mengambil koper sang mertua dan membawanya ke mobil. 


"Aby? Mau ke mana bawa koper?" Sapaan itu membuat Aby menolehkan kepala ke belakang. Dewa tampak berdiri di sana. Sejak Dewa dipindahkan ke kantor cabang lain, keduanya jarang bertemu.


"Oh ini ... koper mama. Mulai hari ini mama akan tinggal sama aku dan Embun." 


"Oh ya?" Terlihat kerutan tipis di dahi Dewa. "Bakalan sepi nih kalau Tante Rima pindah."


Aby hanya menanggapi dengan tawa kecil.

__ADS_1


"Hai, Aby." Sapaan penuh semangat itu mengalihkan perhatian Aby. Vania tiba-tiba saja berada di belakang tubuh besar Dewa. Membuat Aby sedikit terkejut sekaligus bertanya-tanya sedang apa Vania di rumah Dewa. 


"Hai, Van," balasnya singkat, sambil sesekali melirik mantan kekasihnya itu. Vania tampak sangat berbeda sejak dekat dengan Dewa. Ia menjadi lebih ceria. 


"Apa Embun ada di dalam?" 


"Ada." 


Vania melirik ke dalam rumah. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat Embun sedang duduk sambil memainkan ponsel. "Boleh aku masuk?" 


"Boleh. Masuk aja," jawab Aby, membuat wanita itu segera beranjak masuk. Sejak berbaikan beberapa waktu lalu, Embun dan Vania memang cukup dekat dan kadang menghabiskan waktu di kampus bersama.


"Jadi rumah ini akan kosong, ya?" tanya Dewa lagi.


"Iya. Belakangan ini aku agak sibuk dan sering pulang malam. Kasihan Embun ditinggal sendiri. Apa lagi sekarang lagi hamil." 


Tak dapat dipungkiri, ucapan Aby membuat Dewa sedikit terkejut. Meskipun belum sepenuhnya mampu melupakan Embun, namun Dewa ikut senang mendengar kabar bahagia itu.


"Selamat ya, aku ikut senang."


****

__ADS_1


__ADS_2