
"Makan dulu, yuk. Kamu pasti belum makan," tawar Aby seraya mengusap lengan kanan yang baru saja mendapat capitan dari Embun.
Dengan cepat Embun mengangguk. Ia memang belum sempat makan malam karena menunggu kepulangan sang suami. Mau memesan makanan di restoran seperti siang tadi pun rasanya malas, sehingga yang ia lakukan hanya rebahan di sofa sambil memainkan ponsel. Televisi dibiarkan menyala demi mengusir rasa sepi.
Keduanya pun makan bersama dengan lahap. Makanan yang dibeli Aby terasa nikmat disantap.
"Ini belinya di mana, Mas?" tanya Embun.
"Nggak jauh dari sini tempatnya. Di ujung jalan sana. Suka?"
"Suka sekali."
Sudut bibir Aby melengkung membentuk senyuman, melihat betapa Embun menikmati makan malam mereka. Namun, tiba-tiba saja ingatan Aby tertuju kepada anak kembar yang dilihatnya di food court tadi.
"Yang ... tadi aku lihat sepasang anak kembar di sana. Lucu banget mereka," ucap Aby sesaat setelah suapan terakhir. Ia
"Anak perempuan?"
__ADS_1
Aby mengangguk antusias. Embun dapat melihat binar di mata suaminya. Belum pernah sebelumnya Aby membahas sesuatu dengan penuh semangat seperti sekarang.
"Iya. Satunya punya rambut panjang dan satunya pendek." Ia tersenyum. "Aku pikir, sepertinya akan lucu kalau kita punya anak seperti mereka."
Detik itu juga, senyum di bibir Embun meredup. Ucapan Aby membuatnya terkejut hingga tersedak makanan yang baru saja melewati tenggorokannya. Membuat Aby segera menuang air putih ke dalam gelas dan memberikan kepada istrinya.
Sementara Embun meneguk air putih dengan tergesa. Kemudian menepuk dadanya yang mendadak terasa sesak.
"Kamu kenapa sih? Setiap aku bahas soal anak pasti reaksi kamu seperti ini," ujarnya seraya mengusap bagian belakang leher istrinya. Ini adalah kedua kali Aby mengutarakan keinginannya untuk memiliki anak dan reaksi Embun selalu sama.
"Aku belum siap untuk punya anak, Mas," lirih Embun. Sebisa mungkin menyembunyikan cairan bening yang menggenang di bola matanya.
"Belum siap kenapa, sih? Kalau dari segi usia kayaknya sudah cukup," tanyanya lembut.
"Bukan soal usia, Mas. Aku hanya—" Ucapan Embun menggantung. Aby dapat melihat keraguan dalam setiap kalimat yang didesiskan istrinya itu.
"Ya udah, nggak apa-apa kalau kamu mau. Kita tunda aja dulu."
__ADS_1
Aby meraih tissue ketika melihat keringat mulai membasahi kening istrinya. Meskipun penasaran mengapa Embun tampak ketakutan setiap kali membahas tentang anak, tetapi ia tak langsung bertanya. Embun mungkin butuh waktu. Dan Aby paham mengandung hingga melahirkan seorang anak bukan hal mudah bagi seorang wanita.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar belum siap," lirih Embun, tanpa mengungkap sebuah alasan.
"Ya udah nggak apa-apa." Aby mengelus puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan.
Tak ingin Embun terbebani, Aby memilih untuk tak lagi membahas tentang anak. Lagi pula ia dan Embun masih muda. Masih banyak waktu untuk membicarakan tentang anak.
"Kita jalan-jalan aja, yuk. Kamu pasti bosan sendirian di hotel dari tadi," ajak Aby, setelah suram di wajah Embun tak kunjung mereda. Mungkin jalan-jalan mampu mengurai rasa tidak enak dari pembicaraan barusan.
Embun mengangguk pelan. "Aku mau ganti baju dulu." Lalu bangkit dan mengeluarkan pakaian dari koper.
Sementara Aby terdiam memandangi istrinya.
"Embun kenapa ya? Setiap bahas anak selalu begitu reaksinya."
****
__ADS_1