
"Ehm!" Deheman keras yang berasal dari belakang membuat Andre menoleh. Ia menerbitkan senyum saat menyadari siapa yang sedang berdiri di belakang punggungnya.
"Selamat malam, Pak," sapanya dengan sopan.
Namun, Aby hanya memberi respon dengan tatapan dingin. Menyadari sikap Aby, pria itu meraba tengkuk lehernya. Tentunya ia tidak boleh macam-macam dengan Aby yang kini merupakan kepala divisi produksi. Aby baru bulan lalu naik jabatan menggantikan Dewa. Sekarang Dewa menjadi kepala cabang untuk salah satu kantor cabang May-Day.
"Lembur?" tanya Aby dengan tatapan menyiratkan kecurigaan.
"Iya, Pak. Lagi banyak kerjaan," jawab pria itu ragu-ragu. Padahal sebenarnya ia tidak sedang lembur. Menunggu Embun pulang adalah alasannya untuk tetap berada di kantor.
"Ngelemburin apa? Kalau memang lagi lembur kenapa kamu kelayapan di kubikel orang?"
Pertanyaan judes itu membuat Andre tergugu. Tak tahu harus menjawab apa. "Em ... saya sebenarnya cuma mau menyapa Embun."
"Tidak usah banyak alasan kamu! Kamu pikir saya tidak dengar tadi kamu ajak Embun makan bareng di luar?"
Pria itu menggaruk kepala yang tidak gatal. Sedikit heran, karena setahunya Aby adalah seseorang yang sangat ramah. Tetapi, jika sudah berurusan dengan Embun ia akan berubah layaknya seekor singa. Dan setahunya, Embun dan Aby adalah saudara sepupu. Begitu pengakuan Embun saat pertama kali kedapatan pulang kantor bersama Aby.
"Maaf, Pak."
"Saya ingatkan ke kamu jangan dekati Embun lagi. Dia itu sudah punya calon suami!"
Andre menatap Embun penuh tanya. Namun, sama sekali tidak ada respon dari Embun. Ia pun sebenarnya tidak menyukai Andre.
"Yuk, pulang!" Tanpa mengulur waktu, Aby menarik tangan Embun meninggalkan ruangan itu. Sementara Andre hanya terpaku di tempat.
"Sudah punya calon suami? Harus usaha lebih keras, nih."
*
*
*
__ADS_1
Tiba di parkiran, Aby membukakan pintu mobil untuk Embun. Kemudian duduk di kursi kemudi dan membantu memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya. Tersenyum nakal, ia sempat mencuri ciuman singkat di bibir lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat.
"Mas, aku capek deh kita harus sembunyi-sembunyi begini," ucap Embun. Ia mulai bosan dengan situasi yang ada karena harus menyembunyikan statusnya. Lebih lagi karena Andre tidak pernah bosan untuk mengejarnya meskipun terus ditolak.
"Ya mau gimana lagi, Sayang. Aturan kantor memang begitu. Lagi pula kamu kan tinggal beberapa hari lagi magang di sini. Daripada kemarin kamu magang di tempat Pak Radit. Aku nggak rela."
"Iya sih."
Tangan Aby terulur membelai puncak kepala istrinya. "Hari ini masih mual nggak?"
"Mendingan dibanding kemarin."
Aby menghela napas lega. Kondisi Embun beberapa hari ini membuatnya tidak tenang bekerja. Bahkan terkadang ia akan mengirimkan pesan berkali-kali hanya untuk menanyakan keadaan.
"Oh ya, Sayang, kita jemput oma dulu, ya? Kamu nggak lagi capek, kan?" Aby mulai menyalakan mesin mobil dan meninggalkan gedung kantor.
"Jemput oma?"
"Iya, tadi bunda minta aku jemput oma di bandara."
Oma Yulia tinggal di Surabaya bersama anak dan cucunya yang lain. Ia hanya datang berkunjung ke rumah orang tua Aby saat hari raya atau pun acara keluarga.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, sepasang suami dan istri itu tiba di bandara. Kemudian duduk di ruang tunggu sambil menunggu sang nenek.
"Mau minum?" tawar Aby beberapa menit kemudian.
"Mau."
Baru saja Aby akan berdiri, sudah terlihat seorang wanita tua yang berjalan keluar dari jalur kedatangan bersama Mita, seorang gadis berusia 22 tahun yang merupakan sepupu jauh Aby. Aby dan Embun langsung mendekat dan menyambut sang Oma.
Jika Oma memeluk Aby dengan perasaan haru, maka tidak dengan Embun.
"Apa kabar, Oma?" tanya Embun, sambil tersenyum ramah. Namun, wanita lanjut usia itu hanya merespon seadanya bahkan terkesan dingin.
__ADS_1
"Baik."
Embun sadar diri dengan sikap oma. Ia tak lagi banyak bicara. Menyadari situasi yang terjadi, Aby pun membawa omanya menuju mobil. Sepanjang perjalanan pulang, Embun tak banyak bicara. Ia bahkan diam saja saat oma, Aby dan Mita mengobrol.
*
*
*
Kedatangan oma disambut hangat oleh bunda dan ayah. Seperti biasa bunda sudah menyiapkan hidangan menggugah selera. Seluruh keluarga sedang berkumpul dan berbincang hangat. Hanya Galang yang tidak berada di sana karena masih di Korea.
Rencananya, Mita akan melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan Embun. Dan selama kuliah, Mita akan tinggal bersama ayah dan bunda.
Di antara kehangatan di meja makan itu, Embun sejak tadi terdiam. Entah mengapa ia merasa tersisih. Karena sejak tadi oma terlihat enggan menyapa dirinya. Bahkan terkesan menunjukkan ketidaksukaannya.
Oma memang tidak begitu menyukai Embun sejak awal. Dirinya juga sempat menentang pernikahan Aby dan Embun.
"Bunda senang Mita akan tinggal di sini. Rumah ini sepi sejak Aby pindah ke rumah sendiri," ucap Bunda.
Oma menyela dengan cepat. "Rumah ini kan besar, By. Kenapa harus tinggal terpisah? Kasihan ayah sama bunda kamu kesepian di sini. Tapi memang sih, banyak mantu yang tidak betah tinggal sama mertuanya."
"Bukan Embun yang mau tinggal sendiri. Aku yang mau," potong Aby segera. Begitu menyadari maksud ucapan Omanya.
Tatapan bunda langsung mengarah kepada Embun. Ia pun menyadari sikap Oma yang cenderung dingin terhadap menantu mereka itu.
"Oh ya, Aby ... istri kamu belum isi juga?"
Pertanyaan frontal oma membuat seisi ruangan itu hening. Embun menundukkan kepala dengan malu-malu. Karena seluruh keluarga Aby, kecuali oma belum mengetahui bahwa saat ini Embun sedang berusaha mengobati kista dan juga sedang menjalani program kehamilan.
Meskipun terakhir kali memeriksakan diri beberapa minggu lalu, hasil masih menunjukkan negatif.
Aby yang menyadari raut wajah sedih yang berusaha ditutupi Embun langsung menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Belum, Oma. Aku sama Embun masih berusaha," jawab Aby.
****