Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 81 : Masalah Baru


__ADS_3

"Oh ya, aku harus cepat balik ke hotel. Embun sendirian di sana." Aby menepuk bahu sahabatnya itu.


Namun, Reno hanya mengangguk pelan. Niatnya untuk meminta maaf agar Mega mendapat keringanan hukuman menemui kegagalan.


Sepertinya kali ini Aby benar-benar marah dengan tindakan yang dilakukan Mega.


"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan Mega kepada Embun. Aku tahu itu sudah di luar batas. Siapapun yang jadi korban pasti akan marah. Aku cuma nggak tega lihat Mega ditahan."


"Aku dan Embun bisa saja memaafkan, tapi proses hukum harus tetap berjalan. Maaf ya, nggak bisa bantu apa-apa," tambah Aby lalu langit dari kursi.


Reno memulas senyum tipis, memandang punggung Aby yang kemudian menghilang dari pandangannya.


.


.


.


Mobil yang dikemudikan Aby melaju pelan di tengah keramaian jalan. Sambil menyetir, ia memperhatikan sisi jalan yang dilewati. Sebelum tiba di hotel, ia ingin membeli sesuatu untuk istrinya. Seharian di kamar hotel pasti membuat Embun jenuh. Meskipun hotel tempat mereka menginap menawarkan fasilitas cukup baik.


Sebuah food court dipilih Aby untuk mampir sebentar. Ia menelusuri setiap kedai dan melihat-lihat menu menarik yang tersedia di sana. 


"Kira-kira Embun suka apa, ya?" gumamnya sambil menatap deretan gambar makanan yang menggugah selera. 


Akhirnya, beberapa menu berbeda pun menjadi pilihan Aby. Sambil menunggu, ia memilih duduk di sebuah kursi tepat di depan kedai sambil memainkan ponsel miliknya, yang sudah berdering untuk ke sekian kali.


"Mas, kamu di mana sekarang?" Isi pesan yang baru saja masuk.

__ADS_1


"Masih di jalan, Sayang. Tunggu sebentar, ya. Aku udah dekat, kok." Balasan pesan Aby ditambah dengan beberapa gambar hati sebagai pemanis.


"Jangan lama, Mas."


"Iya."


Beberapa menit berlalu.


Tiba-tiba perhatian Aby jatuh kepada sepasang anak kembar perempuan berusia kira-kira empat tahunan yang duduk di meja sebelah. Bibirnya mengembangkan senyum, memikirkan sepertinya akan sangat lucu jika nanti ia dan Embun memiliki beberapa anak yang lucu dan manis. 


Pasti akan sangat menyenangkan jika sepulang kerja, ia disambut anak-anak yang lucu di rumah.


"Mas, ini pesanannya sudah jadi." Panggilan seorang pria yang berada di kedai membuyarkan lamunan Aby. Pria itu segera bangkit.


"Berapa, Mas?" tanya Aby sambil mengeluarkan dompet dari saku celana bagian belakang. 


"Semuanya 125 ribu, Mas." 


Aby mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan kepada sang penjaga kedai.


"Nggak usah dikembaliin, Mas," ucapnya, membuat sang penjaga kedai tersenyum senang.


Setelah melakukan pembayaran, Aby kembali ke mobil dengan membawa beberapa kantongan makanan. Sesekali ia masih melirik meja di mana sepasang anak kembar sedang menikmati makanan dengan mulut yang belepotan kecap.


Aby terkekeh. 


"Lucu banget sih mereka." 

__ADS_1


Hingga akhirnya, mobil melaju meninggalkan food court. Hanya dalam dua puluh menit, Aby telah tiba. Begitu memasuki kamar hotel, ia meletakkan beberapa kantongan ke atas meja, lalu melirik Embun yang tengah rebahan di sofa sambil menonton TV. 


Wanita itu segera bangkit menyambut sang suami dengan bergelayut manja di dalam dekapannya. 


"Kenapa pulang malam? Tadi katanya pulang sore," protes Embun tanpa melepas pelukan. Menyesap aroma tubuh suaminya yang seharian ini begitu ia rindukan. 


"Tadinya memang mau pulang cepat, tapi ada beberapa masalah yang harus aku urus di pabrik pengolahan susu." Ia melepas pelukan dan membawa istrinya duduk di sofa. 


"Masalah apa, Mas?" tanya Embun tampak penasaran. 


Hembusan napas Aby terdengar berat. Dari raut wajah suaminya, Embun dapat menebak bahwa masalah di pabrik cukup serius.


"Bulan ini produksi susu menurun drastis, sementara kebutuhan meningkat karena ada produk baru dengan bahan baku susu sapi," jelas Aby, mengusap wajah dengan telapak tangan.


"Jadi bagaimana?"


"Aku baru kirim laporan ke Dewa tadi." Aby menyandarkan punggung tegapnya di kursi, dengan seringai tipis di sudut bibirnya. "Kebutuhan susu memang sedang meningkat ini," ucapnya sambil melirik bagian dada sang istri. 


Embun langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada. Apa lagi saat menyadari tatapan genit suaminya.


"Ngomongin susu kenapa lihatnya dada aku?" 


Aby nyengir menyerupai suara kuda. "Nggak tahu kenapa kalau yang dibahas tentang susu jadi semangat aja." 


Membuat Embun melayangkan cubitan di lengan suaminya.


***

__ADS_1


 


__ADS_2