
*****
Embun masih larut dalam lamunan ketika pintu kamarnya terbuka, disusul dengan kemunculan mama dari balik pintu. Dahi wanita paruh baya itu tampak berkerut kala menyadari raut kesedihan yang tergambar jelas di wajah putrinya.
Ia lantas duduk di sisi Embun. Tangannya terangkat membelai rambut dengan penuh kelembutan.
"Kamu kenapa, Nak? Mukanya murung begitu?"
Namun, Embun diam seribu bahasa dengan tatapan menerawang. Layar ponsel yang masih menyala berhasil menyita perhatian Mama Rima. Ia lantas meraih benda pipih yang masih digenggam putrinya itu.
"Ini kan foto Aby sama ...." Seperti halnya Embun, Mama Rima pun begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya pada layar ponsel. Namun, wanita itu tak lantas menaruh prasangka buruk begitu saja. Terlebih, semalam Aby sudah mengakui semua perbuatannya terhadap Embun. "Siapa yang kirim foto ini?" tanya Mama Rima.
Embun menggeleng pelan. Dirinya pun tidak tahu siapa yang telah mengirim foto kebersamaan Aby dengan Vania di sebuah restoran. Ia masih ingat dengan jelas, restoran itu adalah tempat yang sama ketika Aby memberinya kejutan makan malam di malam pertama pernikahan mereka.
"Nggak tahu, Mah. Nomornya nggak dikenal," jawab Embun santai.
Mendapati kebersamaan suaminya dengan wanita lain bukan lagi hal yang aneh. Ia sudah belajar untuk membiasakan diri berdamai dengan rasa sakit itu. Embun juga tak ingin peduli atau sekedar memikirkan tentang siapa yang telah mengirimkan foto tersebut.
"Kamu jangan terburu-buru mengambil kesimpulan," bujuk sang Mama yang kembali membelai rambut Embun. "Mama yakin, Aby bertemu dengan perempuan ini untuk menyelesaikan masalah mereka baik-baik."
"Mau bicara baik-baik bagaimana lagi, Mah? Mas Aby sudah janji ke dia untuk menceraikan aku," lirih Embun. Sebisa mungkin menyembunyikan air mata agar sang mama tak melihat.
Selama ini, ia menyembunyikan lukanya seorang diri dan bahkan tak berani menceritakan kepada siapapun, bahkan terhadap mama. Namun, semalam Aby sendiri lah yang mengakui semua kesalahannya secara terbuka kepada Mama Rima.
"Tapi Aby sudah menyesal dan mau memperbaiki kesalahannya. Dia mau memulai semuanya dari awal bersama kamu."
Embun menarik napas dalam demi memenuhi kebutuhan oksigen dalam paru-parunya.
"Sudah terlambat, Mah."
Mendengar jawaban Embun, Mama Rima memulas senyum. Ia menarik sang putri agar bersandar di bahunya. Sementara sebelah tangannya membelai pipi. Wanita itu selalu tahu cara untuk meluluhkan putrinya. Karena sejatinya, Embun bukanlah seseorang yang keras kepala. Tetapi jika sudah terlanjur terluka, ia bisa sekeras baja.
"Embun ... pernikahan itu bukan main-main. Ada perjanjian dengan Allah yang harus dipertanggung jawabkan. Rumah tangga itu seperti air laut yang pasang surut. Ini baru awal pernikahan, kedepannya akan ada ujian-ujian lain yang mungkin lebih berat dari ini. Yang pasti, tidak ada pernikahan yang luput dari masalah. Dan tidak semua masalah harus diselesaikan dengan perpisahan."
__ADS_1
Embun terdiam, membuat Mama Rima merangkum kedua bahunya.
"Mama tahu kamu sakit hati sama Aby. Wanita mana pun pasti akan merasakan hal yang sama. Tapi dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan Aby sepenuhnya. Kamu, Aby dan Vania sama-sama korban. Jadi, kamu harus bisa menyikapi semuanya dengan bijak dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin."
"Menurut Mama aku harus bagaimana?" Tatapan Embun menerawang.
Membuat Mama kembali memulas senyum. "Bicarakan semua dengan suami kamu dan cari jalan terbaik."
.
.
Vania menyeka air mata yang membasahi pipinya. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa suatu hari nanti Aby akan meninggalkan dirinya demi Embun. Selama ini, ia yakin bahwa kehidupan seorang Abimanyu Fahreza hanya berpusat kepada dirinya.
"Aku nggak terima semua ini! Kamu benar-benar tega sama aku, By!"
Vania bangkit dari duduknya. Meraih tas miliknya dan pergi begitu saja meninggalkan restoran. Sementara Aby diam membisu menatap punggung mantan kekasihnya yang kemudian menghilang di balik pintu kaca.
Ia mendes@h panjang setelahnya. Lalu, melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
.
.
.
Aby tiba di rumah sang mertua, setelah pembicaraan yang cukup panjang dengan Vania. Setidaknya, kini Aby dapat bernapas lega. Ia benar-benar telah mengakhiri hubungan dengan Vania.
Baru memasuki rumah, kedatangannya sudah disambut sang mertua. Ia berucap salam, lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Kamu dari mana?" tanya Mama Rima.
"Aku habis ketemu Vania, Mah. Untuk memperjelas hubungan kami."
__ADS_1
"Vania mau mengerti?" Mama Rima menatap penuh tanya.
Aby tampak menghembuskan napas panjang. Teringat tadi Vania yang sempat terisak-isak, sebelum akhirnya pergi meninggalkannya begitu saja.
"Vania marah, Mah. Tapi aku sudah jelaskan semua. Semoga setelah ini tidak ada masalah lagi."
Mama Rima mengangguk seraya memulas senyum ramah. "Syukurlah, kalau begitu kamu temui Embun. Dia belum keluar kamar sejak tadi."
Ucapan Mama Rima membuat Aby tampak khawatir. "Embun sakit, Mah?"
"Bukan. Tadi Embun dapat kiriman foto kamu dan Vania di restoran, dari nomor yang tidak dikenal. Kamu jelaskan ke dia, ya. Jangan sampai ada salah paham lagi. Tadi mama juga sudah jelaskan ke Embun, tapi akan lebih baik kalau dia dengar langsung dari kamu."
Aby mengangguk mengerti. Ada rasa syukur yang besar dalam hati, Mama Rima tidak menelan mentah-mentah informasi yang masih kurang jelas.
"Makasih, Mah. Kalau begitu aku lihat Embun dulu."
Pria itu lantas beranjak menuju kamar sang istri. Ragu-ragu ia mengetuk pintu, hingga mendapat sahutan dari sang pemilik kamar.
"Aku boleh masuk?" tanya Aby, melongokkan kepala ke dalam. Embun tampak sedang duduk bersandar di ranjang sambil memeluk sebuah boneka.
"Boleh," jawabnya singkat.
Tanpa menunggu lagi, Aby segera mendekat. ia memilih duduk di kursi meja rias yang berjarak cukup dekat dengan tempat tidur.
"Aku mau jelaskan soal foto aku sama Vania yang dikirim ke nomor kamu."
Embun memilih diam. Tak pula menatap suaminya. Hal yang membuat Aby memberanikan diri untuk mengikis jarak dan duduk di tepi pembaringan. Ia raih tangan istrinya meskipun Embun sempat menolak.
"Tolong dengar aku dulu. Aku bertemu Vania untuk menyelesaikan masalah kami. Jangan salah paham, Mbun." Aby menatap lekat wajah istrinya dan berusaha meyakinkan sebisanya.
"Memang kata siapa aku salah paham? Mama sudah jelaskan semua tadi." Embun menjeda ucapannya dengan tarikan napas.
Sementara Aby hanya dapat menundukkan kepala. Rasa bersalah menyergapnya begitu kuat.
__ADS_1
"Tapi ... aku masih butuh waktu lebih banyak, Mas. Hari ini, kalau aku berdiri dalam jarak yang sangat jauh dari kamu, itu semua karena kamu yang minta. Jujur saja, aku bukan perempuan berhati malaikat yang mudah memaafkan."
****