Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 37 : Mengakhiri Dengan baik-baik


__ADS_3

"Keterlaluan kamu, By!" Pria paruh baya itu hampir berteriak. Rahangnya mengetat, kedua tangannya terkepal kuat menahan amarah yang terasa meledak-ledak hingga ke ubun-ubun.


Sementara Aby terdiam, mulutnya seperti terkunci. Sama sekali tak ada kalimat pembelaan darinya. Ia akan menerima hukuman apapun yang diberikan sang ayah kepadanya.


Bunda yang tadi menunggu di luar langsung masuk ke dalam ruangan itu. Ia sudah menduga akan terjadi sesuatu setelah kedatangan Vania ke rumah tadi.


"Sabar, Yah. Jangan pakai kekerasan," ucapnya seraya merangkul bahu Aby.


"Anak kamu ini sudah keterlaluan. Bisa-bisanya dia berjanji kepada wanita lain akan menceraikan istrinya!" Suara ayah yang lantang menggema di ruangan itu.


"Maaf, Yah. Aku tahu aku salah. Aku sedang berusaha memperbaiki semuanya."


Ayah menghembuskan napas panjang. Lalu, mendudukkan tubuhnya di kursi. Kejadian hari ini membuat dadanya terasa penuh sesak.


"Ayah minta, sekarang juga kamu temui Vania dan akhiri hubungan kamu dengan dia."


Aby menganggukkan kepala. Tadi, ia memang berencana akan menemui Vania dan mengakhiri hubungan mereka baik-baik. Agar kedepannya tidak ada lagi permasalahan atau pun dendam di antara mereka.


"Apa mamanya Embun tahu tentang masalah ini?" Lagi-lagi tatapan tajam ia arahkan kepada putranya.


"Mama Rima tahu. Semalam, aku sudah jelaskan semuanya," jawab Aby tanpa ragu.


"Lalu bagaimana?" Pria paruh baya itu menyorot penuh tanya. Pikiran-pikiran buruk sudah terbayang di benaknya. Mama Embun pasti sangat kecewa, padahal ia telah berjanji kepada mendiang ayah Embun untuk menjaga putrinya.


Aby masih membungkam, membuat sang ayah memejamkan mata. Hela napasnya terdengar berat.


"Setelah kamu bicara dengan Vania, kita semua harus ke rumah orang tuanya Embun dan meminta maaf. Ayah sangat malu dengan kelakuan kamu ini, By."


Aby masih terdiam. Sementara bunda tidak banyak berkomentar. Tidak pula menyalahkan Aby, karena memang posisi saat itu serba salah bagi Aby, Vania dan Embun.


.


.


.

__ADS_1


Duduk di depan meja rias, Vania memoles wajahnya. Wanita itu harus tampil secantik mungkin malam ini. Aby baru saja menghubungi dirinya dan meminta bertemu. Karenanya, akan ia gunakan kesempatan ini untuk memiliki Aby kembali.


Di tempat tidur sudah berserakan pakaian-pakaian bagus miliknya. Ia baru saja memilih pakaian mana yang akan ia gunakan. Yang pasti, ia harus tampil sempurna.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Vania. Pintu terbuka setelah Vania menyahut, memunculkan sosok Mbok Siti dari balik pintu.


"Kenapa, Mbok?" tanya Vania, tanpa mengalihkan pandangan dari cermin.


"Belum siap juga, Non? Sudah jam berapa ini," ucap wanita itu seraya melirik jam yang melekat di dinding.


Vania tersenyum senang. Ia lantas meraih sisir dan merapikan rambutnya. "Iya, sebentar lagi, Mbok. Aku harus cantik malam ini."


Ia berdiri di depan cermin. Memutar tubuhnya demi memastikan penampilannya sempurna. Kemudian menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangan sebagai penyempurna. Senyum pun semakin lebar saat keluar kamar. Seorang sopir sudah menunggunya, yang akan mengantar ke sebuah restoran tempatnya janjian dengan Aby malam ini.


Menempuh perjalanan selama dua puluh menit, Vania akhirnya tiba di restoran. Begitu memasuki gedung berpintu kaca itu, pandangannya langsung tertuju ke meja sudut. Meja yang sama di mana ia dan Aby selalu duduk saat sedang berkencan. Restoran itu penuh kenangan tentang mereka.


Namun, apa yang Vania dapati membuatnya kecewa. Pria yang tengah menunggunya itu tak seperti biasanya. Aby bahkan terlihat enggan menatap dirinya dan lebih banyak menunduk.


"Kamu sudah lama?" tanya Vania, begitu telah berada di hadapan Aby.


Sudut bibir Vania melengkung membentuk senyuman. Ia menarik kursi dan duduk tepat di hadapan pria itu.


Baru saja mulutnya akan terbuka untuk mengucapkan sebuah kata, namun sesuatu mengalihkan perhatiannya. Di jari manis tangan kanan Aby melingkar sebuah cincin.


Dalam kekecewaan yang besar, Vania teringat malam pertama pernikahan Aby. Dirinya lah yang meminta pria itu melepas cincin pernikahannya. Namun, kini benda itu kembali melingkar di jari manisnya.


"Kamu pakai cincin itu lagi?" Sekuat tenaga Vania menahan air mata.


Tetapi, Aby tak begitu menanggapi.


Beberapa saat kemudian, seorang pramusaji datang dengan membawa menu yang telah dipesan Aby. Dan pria itu tahu betul apa menu andalan Vania di restoran itu.


"Van, aku ajak kamu ketemu di sini karena ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan kamu."


Hati Vania seketika mencelos mendengar ucapan Aby. Mungkinkah Aby meminta bertemu untuk memutuskan hubungan? Apa lagi, kini ia telah memakai kembali cincin pernikahannya.

__ADS_1


"Aku harap kamu minta bertemu di sini untuk memperbaiki hubungan kita."


Aby masih enggan menatap Vania. "Aku memang mau memperbaiki hubungan kita."


"Kamu benar-benar mau memperbaiki hubungan kita?" tanya Vania ingin memastikan.


Aby mengangguk pelan. "Iya," jawabnya mantap. "Van ... aku minta maaf kalau apa yang akan aku bicarakan mungkin akan menyakiti kamu. Tapi ... aku rasa ini yang terbaik."


Mendadak sepasang bola mata Vania kembali tergenang kristal bening. "Kenapa harus menyakiti aku? Bukankah kamu mau ...." Vania belum menyelesaikan ucapannya, sudah dipotong terlebih dahulu oleh Aby.


"Aku mau hubungan kita berakhir baik-baik. Tanpa ada lagi masalah dan tanpa dendam."


Cairan bening yang menggenangi bola mata Vania akhirnya meleleh di pipi. "Apa maksud kamu, By? Jadi kamu minta bertemu di sini hanya untuk mengakhiri hubungan kita?"


Aby mengangguk. "Aku benar-benar minta maaf, Van. Aku rasa ini yang terbaik untuk aku, kamu dan embun. Mungkin kita memang nggak berjodoh. Aku sudah terlalu banyak menyakiti Embun dan aku merasa berdosa untuk itu."


Tidak ada kata yang dapat terucap dari bibir Vania. Untuk beberapa saat, wanita itu terdiam. Hanya isak tangis yang mewarnai pertemuan mereka. Menandai berakhirnya hubungan yang ia bangun setahun ini.


"Aku harap kamu mau mengerti. Aku mau memulai semuanya dari awal lagi bersama Embun. Aku juga berharap kamu akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku."


.


.


.


Sementara itu ....


Embun tengah membaringkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Seharian ini ia terus memikirkan ucapan Aby tadi pagi, yang ingin memperbaiki rumah tangga mereka. Embun tidak tahu harus senang atau sedih.


Ponsel berdering menandai adanya pesan masuk. Embun bangkit dan meraih ponsel miliknya. Di layar tertera pemberitahuan pesan masuk dengan nomor tak dikenal.


Dahi wanita itu berkerut tipis. Penasaran, ia akhirnya membuka pesan. Namun, apa yang ia temukan membuat tubuhnya terasa meremang.


Foto kebersamaan Aby dengan Vania terpampang jelas pada layar ponselnya. Kelopak mata Embun terpejam. Ponsel di tangannya terjatuh begitu saja.

__ADS_1


****


__ADS_2