
"Tapi hati laki-laki itu mudah berubah, loh. Aku sering lihat laki-laki seperti itu. Ngakunya cinta sama istri, tapi selingkuhan di mana-mana. Apa lagi kalau sudah kerja keluar kota. Jarang ada yang mau bawa istri."
Siska bergidik ngeri setelah menyelesaikan kalimatnya. Namun, Embun hanya memberi respon dengan sebuah senyuman.
"Tenang aja, Sis ... aku sudah punya pengalaman berhadapan dengan pelakor sebelumnya," ucap Embun santai.
"Serius, kamu?"
"Serius. Tapi itu dulu, sekarang sudah aman."
"Aman gimana?"
"Pelakornya sudah dipenjarakan."
Seketika kelopak mata Siska membulat mendengar ucapan Embun. Nyaris tak percaya dengan pengakuan Embun.
"Apa iya pelakor doang bisa dihukum penjara? Enggak deh kayaknya. Yang lagi viral aja nggak sampai dipenjara."
Keraguan merasuk dalam ke hati Siska. Sebab setahunya, belum ada undang-undang yang mengatur tentang perebut suami orang. Ia pikir, Embun pasti hanya ingin menakutinya saja.
"Kok bisa dipenjara?"
Embun menatap Siska lekat. Sorot matanya tajam menghujam layaknya busur panah yang siap melesat.
"Pelakornya pernah dorong aku ke jurang. Pernah mau nabrak aku pakai mobil juga. Terakhir dia mengurung aku di gudang dan menggores leher aku pakai belati."
Semakin membesar saja bola mata Siska. Bulu kuduknya seperti bangkit secara paksa. "Separah itukah? Apa pelakornya dihukum berat?"
"Sekarang dia resmi ditahan dan dijatuhi pasal pembunuhan berencana." Embun menyeringai. "Makanya, pelakor psikopat aja pernah aku hadapi. Apalagi kalau hanya pelakor kecil yang bisanya cuma dandan dan ngerayu."
Ucapan Embun membuat Siska memulas senyum getir. Suasana di rumah itu mendadak terasa horor baginya.
Meraba tengkuk yang terasa meremang, Siska membenarkan posisi duduknya yang mulai tidak tenang. "Ehm ... Embun, kayaknya aku harus pulang. Aku lupa belum bersih-bersih."
"Eh, tumben kamu mau cepat pulang. Biasanya betah main di sini sampai malam."
"Lain kali aku datang lagi."
Sesaat setelah berpamitan, Siska segera kembali ke rumah. Embun hanya cekikikan sendiri menatap wajah Siska yang tiba-tiba memucat.
__ADS_1
"Kenapa dia jadi ketakutan begitu?"
.
.
.
Embun berangkat ke kampus setelah melewati pagi yang cukup menyebalkan dengan tetangga barunya. Siang hari ia habiskan dengan mengobrol bersama Vania di kantin. Ini adalah hari pertama Vania datang ke kampus sejak kejadian kecelakaan yang menimpa Aby.
Embun ikut senang karena Vania mengalami banyak kemajuan. Sepanjang hari ini, ia tidak banyak melamun seperti biasanya.
"Aku ikut senang kamu sudah semakin membaik. Kamu harus semangat dan jangan merasa sendiri," ucap Embun sembari menerbitkan senyum yang begitu tulus.
"Makasih, Mbun. Maafin aku kemarin banyak salah."
"Nggak apa-apa. Nggak ada yang salah di sini."
"Oh ya, Setelah wisuda nanti, aku akan ikut mami sama papiku keluar kota," ucap Vania penuh semangat. Sepasang bola matanya tampak berbinar.
"Aku ikut senang mendengarnya. Jadi kamu nggak akan ditinggal sendirian lagi."
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika Aby tiba di rumah. Pria itu langsung menuju kamar dan melihat Embun yang sedang membereskan beberapa pakaian dan memasukkan ke dalam koper.
Diiringi senyum semanis madu, wanita itu menyambut kedatangan sang suami dengan pelukan dan ciuman yang manis.
"Tumben pulang cepat," ucap Embun. Beberapa hari ini Aby kerap pulang malam akibat kesibukan di kantor.
"Iya, ada sesuatu yang mau aku bicarakan dengan kamu." Aby menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang, lalu membuka kancing kemeja.
"Sesuatu apa, Mas?" Embun menghentikan aktivitasnya sejenak dan duduk di samping suaminya.
"Setelah aku pikir-pikir, sepertinya akan lebih baik kalau kamu ikut aku ke luar kota," pintanya, menatap Embun dengan serius.
__ADS_1
Embun sedikit terkejut mendengar permintaan suaminya. "Bukannya itu tugas kantor, ya? Memang boleh bawa istri?"
"Memang kenapa, bawa tetangga juga boleh," kelakar Aby jenaka. Pria itu malah terkekeh ketika melihat ekspresi wajah istrinya yang sudah pasti kesal mendengar kata tetangga. "Bukan tetangga sebelah maksud aku, Sayang." Ia masih tertawa kecil. "Kamu mau, kan? Biar aku ada yang temani tidur," ucapnya memelas.
"Bukannya ada Kak Dewa, ya?"
Aby menghembuskan napas panjang. Mendadak senyum lebar di bibirnya perlahan menghilang.
"Masa iya tidur sama Dewa," protesnya. "Bisa makin lemes si Marshmellow."
"Dasar me$um!" tegur Embun. Sudut matanya memicing mendengar nama aneh yang selalu disematkan Aby untuk monster kecil kebanggaannya.
"Bodo amat, me$um juga sama istri sendiri. Kalau mesumnya sama tetangga, itu baru masalah."
"Mas!" Cubitan keras dihadiahkan Embun di dada kiri suaminya, membuat Aby meringis dibuatnya.
.
.
.
Pagi hari
Siska menatap penuh selidik ketika mendapati Embun baru saja keluar rumah dalam keadaan sudah rapi seperti akan bepergian. Ia tampak tergesa-gesa memasukkan sebuah paper bag ke kursi belakang.
"Mau ke mana sepagi ini, Mbun?" tanya Siska, ketika melihat Embun hendak membuka pintu mobil depan.
"Mau ke luar kota," jawab Embun singkat.
"Keluar kota? Bukannya kamu nggak ikut, ya?" tanyanya heran.
"Tadinya memang enggak. Tapi suami aku bilang, nggak bisa tidur kalau nggak ada aku. Makanya dia minta aku ikut sekalian."
Embun melambaikan tangan diiringi senyum sebelum naik ke mobil. Sehingga Siska hanya dapat melambaikan tangan ke arah mobil yang sudah melaju dengan wajah tertekuk.
"Itu baru awal, makanya suami kamu masih setia. Coba udah lama, pasti bosan juga sama kamu! Lihat aja nanti, suami kamu akan tergoda dengan perempuan lain yang lebih cantik."
Siska masuk ke dalam rumah dengan hentakan kaki cukup keras.
__ADS_1
****