Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
FINAL EPISODE


__ADS_3

Saat ini Embun sudah berada di ruang persalinan. Ia sedang berdiri dengan berpegang pada ujung tempat tidur. Rasa sakit yang bersarang di perut semakin menjadi.


“Mau minum nggak, Sayang?” tawar Aby, yang sejak tadi tak beranjak dari sisi istrinya.


“Nggak, Mas. Aku nggak haus.”


“Mau makan?”


“Nggak lapar,” tolak Embun lagi.


“Terus maunya apa?”


“Nggak mau apa-apa, Mas.” Di tengah rasa sakit, sesekali Embun terkekeh melihat suaminya yang sejak tadi terlihat sangat panik. Bahkan Aby sudah berulang-ulang menanyakan kepada dokter sudah bukaan ke berapa.


Sementara di luar ruangan Ayah, Bunda, Mama Rima dan Oma sedang mengobrol. Semua terlihat bahagia dan bersiap untuk menyambut cucu pertama di keluarga mereka.


Beberapa bulan lalu, persalinan melalui operasi caesar menjadi pilihan Aby setelah berkonsultasi dengan Dokter Allan. Namun, setelah beberapa bulan, ternyata kista di rahim Embun semakin mengecil, sehingga tidak perlu dilakukan operasi. Karena itu lah akhirnya mereka memilih persalinan secara normal.


Persalinan Embun sendiri akan ditangani oleh Dokter Maysha Hadikusuma. Putri sulung Dokter Allan yang mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang dokter ahli kandungan. Sebab malam ini sang ayah sedang berhalangan.


Beberapa jam berlalu


“Argh sakit!” keluh Embun yang kini sudah terbaring di ranjang pasien. Aby masih setia berada di sisinya. Sesekali mengusap perut, lalu mencium kening.


“Sabar ya, Sayang. Dokter bilang sebentar lagi.”


“Nggak kuat, Mas.”


“Harus kuat, Sayang.” Aby meraih tissue dan mengusap keringat yang meleleh di kening dan leher istrinya.


Sementara Embun terisak-isak sambil bersandar di dada suaminya. Lengan Aby pun tak lolos dari cakaran sebagai pelampiasan rasa sakit yang ia rasakan.


Dokter Maysha akan menangani persalinan Embun dengan didampingi oleh tiga orang bidan. “Embun, ikuti kakak, ya.”


Embun yang sedang menahan rasa sakit itu hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


“Tarik napas dalam, lalu tahan, dan buang napas melalui hidung.”


Embun mengikuti arahan sang dokter dengan baik.


“Nah, bagus. Kita ulangi lagi, ya,” pintanya, lalu diikuti anggukan kepala oleh Embun. “Tarik napas, tahan!”


Embun merasakan sakit yang berpusat di perut semakin menjadi.


“Dorong yang kuat!”


Embun mulai mengejan sekuat tenaga. Kemudian menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengulangi seperti arahan dokter.


“Coba ulangi sekali lagi!”


Embun meremas kain seprai kuat-kuat. Mendorong napas sekuat tenaga hingga membuat seluruh tenaga yang tersisa seperti hendak tercabut dari tubuhnya.


Detik itu juga, tangisan bayi melengking memenuhi seisi ruangan. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu baru saja menyapa dunia dengan tangisan. Semua orang yang ada di sana bernapas lega. Terutama Aby yang sejak tadi merasa ngeri-ngeri sedap dengan kondisi istrinya yang kesakitan.


Dokter Maysha langsung melakukan perawatan kepada bayi. Memotong tali pusar dan membersihkan tubuh bayi mungil itu. Selepas memakaikan selimut kecil, sang dokter menyerahkan bayi ke pangkuan Aby. Sementara di balik tirai, Embun masih ditangani beberapa bidan.


Aby merasakan jantungnya berdebar cepat saat pertama kali mendekap putranya. Bayi mungil yang kelahirannya ia tunggu setiap hari.


“Assalamu’alaikum, Nak,” bisiknya pelan. Lalu menciumi pipi halus itu penuh kasih.


Bibirnya melukis senyum bahagia. Bayi mungil yang terlelap dalam pangkuannya itu memiliki wajah yang sangat mirip dengannya. Tentu saja hal itu menciptakan rasa bangga sekaligus bahagia tak terkira.


“Uh, lucunya cucu oma.” Bunda tampak tak sabar menimang cucunya.


Begitu pun dengan yang lainnya yang saling bergantian menggendong bayi mungil itu. Ayah, Mama Rima dan Oma. Bahkan Mita juga tampak tak sabar untuk menggendong keponakannya.


“Aku dulu, dong, Bunda,” pinta gadis itu.


“Memang kamu tahu cara gendong bayi?” tanya Bunda, yang seakan ragu memberikan cucunya ke tangan Mita.


“Ya kan bisa belajar dari Bunda.” Ia mengerucutkan bibir. Merajuk sebal.

__ADS_1


“Ya sudah, kalau mau gendong harus duduk. Biar enak.”


Gadis itu tampak kegirangan, lalu memilih duduk agar dapat menggendong sang keponakan.


“Embun bagaimana, By?” tanya Bunda lagi.


“Sudah lebih baik, Bunda. Sekarang sedang istirahat di dalam. Ini baru mau dipindahkan ke ruang perawatan.”


“Alhamdulillah anak sama mamanya sehat.”


Beberapa jam berlalu, Embun sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ia baru saja menyusui putranya untuk pertama kali.


Ia memandangi wajah mungil yang sedang terlelap di pangkuannya dengan perasaan bahagia yang melambung.


“Dia mirip kamu ya, Mas,” ucapnya, sambil membelai rambut tipis putranya.


“Iya, dong. Kan papanya,” ucapnya penuh rasa bangga.


"Mau dikasih nama apa jadinya?" Sebelumnya mereka memang sudah menyiapkan beberapa nama yang akan diberikan kepada putranya.


"Aku suka nama Azka yang dikasih mama. Bagus, kan?"


Embun mengangguk setuju.


Beberapa saat dihabiskan keduanya dengan bergantian menggendong Azka. Aby tampak sangat bahagia dengan kelahiran putranya.


“Sayang, terima kasih sudah mau memaafkan semua kesalahanku di masa lalu. Terima kasih juga sudah menerimaku dan menjadi ibu dari anakku.”


"Sama-sama, Mas. Terima kasih juga karena sudah mau memperjuangkan aku di saat aku mulai menyerah."


Aby membelai wajah istrinya penuh cinta. Lalu, membenamkan ciuman sayang di kening.


“Dan terima kasih juga kepada Megalodon atas kerja kerasnya.” ^_^


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2