Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 50 : Tunggu Aku


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Aby belum juga dapat terpejam. Berbeda dengan Embun yang sudah terlelap di ranjang kecil yang terdapat di sudut ruangan itu.


Pikiran Aby masih terganggu oleh pengirim foto tadi. Apakah pelaku penabrakan dirinya sama dengan pengirim foto? Benarkah Vania yang melakukan semuanya?


Aby tidak dapat menebak.


Hanya satu yang ia pikirkan sekarang, yaitu keselamatan istrinya yang benar-benar terancam. Ia yakin pelaku kejahatan sudah mengincar nyawa Embun. Lebih waspada dan berhati-hati harus dilakukannya sekarang.


Ponsel milik Aby berdering tanda panggilan masuk. Pria itu meraih ponsel miliknya. Nama pemanggil yang tertera pada layar membuat raut wajahnya menjadi serius. Dengan segera, Aby menggeser simbol hijau pada layar.


"Iya, Ver," sapa Aby sesaat setelah panggilan terhubung. Sejak tadi, dirinya memang menunggu informasi dari temannya itu.


"Aku sudah dapat data pemilik nomor yang tadi kamu tanyakan."


Alis tebal Aby saling bertaut mendengar ucapan temannya itu. Dirinya pun sangat penasaran dengan pemilik nomor tersebut.


"Siapa?"


"Nomor itu terdaftar atas nama Vania Athalia."


Spontan saja sepasang bola mata Aby melebar mendengar nama yang baru saja disebut Vero. Ia hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kamu yakin, Ver?"


"Yakin lah. Memangnya Vania Athalia siapa? Kamu kenal?" tanyanya.


Vero memang tidak mengenal Vania. Selain karena belum pernah bertemu, Aby memang tidak pernah mengenalkan Vania dengan teman-teman atau pun orang tuanya.


"Oh itu ... teman satu kampus istriku," jawabnya. "Makasih ya, Ver. Maaf merepotkan."


"Nggak apa-apa. Senang bisa bantu kamu."


Panggilan terputus. Aby meletakkan kembali ponsel ke atas meja.


Ia melirik sang istri dan tampak berpikir sejenak. Jika memang sang pemilik nomor tersebut adalah benar Vania, artinya Vania memang ada kemungkinan terlibat dalam kecelakaan itu. Perlahan Aby bangkit dari pembaringan. Dengan langkah tertatih menyeret tiang penyangga cairan infus dan duduk di sisi Embun.


Sebelah tangannya terulur membelai puncak kepala istrinya. Lalu membenamkan ciuman di kening berulang-ulang. Membuat wanita itu membuka mata perlahan, ketika merasakan benda kenyal bermain di keningnya.


"Loh Mas? Kamu kenapa?" Ia segera merubah posisi.


"Nggak apa-apa. Cuma mau baring dekat kamu."


Embun menatap pembaringan itu. Ranjang kecil tersebut memang muat untuk dua orang. Akhirnya ia menggeser posisi ke ujung, agar Aby dapat ikut berbaring di sana.


"Mbun, besok kamu temani aku di sini ya. Nggak usah ke mana-mana," pinta Aby. Kini sebelah tangannya sudah melingkar di perut sang istri.


Embun mendongak menatap suaminya. Membuat pipinya berubah merah. Untung saja suasana kamar temaram, karena hanya satu lampu yang menyala.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Mas?"


"Nggak apa-apa. Cuma mau dekat sama kamu."


Ia mendekap tubuh istrinya, sambil menciumi kening. Menciptakan sensasi hangat yang meledak.


Wajah Embun yang manis tanpa riasan berlebihan, rambut dan tubuhnya yang wangi seperti candu bagi Aby.


Ini Megalodon nggak tahu situasi banget ya?


"Mbun, kamu tahu nggak?"


"Apa, Mas?"


"Benda apa yang kalau dipakai bisanya cuma maju mundur. Makin maju mundur makin licin. Terus bisa ngeluarin air?"


Embun mengangkat wajahnya yang terbenam di dada suaminya. Dahinya berkerut beberapa saat seperti sedang berpikir.


"Setrika uap!"


Aby menarik napas dalam.


"Benar!" jawabnya lesu.


.


.


.


Selama dirawat di rumah sakit, keduanya menjadi semakin dekat. Ada banyak hal dalam diri Embun yang baru diketahui Aby, begitu pun sebaliknya. 


Embun, yang sebelumnya di mata Aby cenderung dingin dan acuh tak acuh justru kini terlihat manis, manja dan perhatian. Sementara pandangan Embun terhadap Aby sebagai suami tidak bertanggung jawab dan tidak berpendirian sudah berubah. Aby bahkan sanggup mengorbankan diri untuk menyelamatkannya.


Dan hari ini, setelah satu minggu menjalani perawatan intensif, akhirnya Aby mengantongi izin dokter untuk meninggalkan rumah sakit. Tentunya, setelah dokter memastikan tidak ada cedera serius pada tubuhnya. Hanya beberapa luka sobekan yang sudah dalam tahap penyembuhan. 


Embun tengah memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam sebuah koper kecil. Sementara Aby masih memainkan ponselnya.


"Nggak ada lagi yang ketinggalan, kan?" tanya Embun, sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu.


"Nggak ada kayaknya."


Keduanya segera meninggalkan gedung rumah sakit. Seorang sopir sudah menunggu di lobi. Mobil pun melaju meninggalkan gedung tinggi itu. Sepanjang perjalanan pulang, Aby tak pernah melepas genggaman tangannya dari sang istri.


.


.

__ADS_1


.


Kini seluruh keluarga sedang duduk bersama di ruang keluarga. Aby dan Embun sepakat, akan menjalankan ijab kabul ulang keesokan harinya.


"Embun, sekarang bawa suami kamu ke kamar, Nak. Dia masih butuh banyak istirahat," ucap Mama Rima, setelah melihat wajah Aby masih sedikit pucat.


"Iya, Mah." 


Embun pun membantu Aby untuk berdiri dan menuntunnya menuju kamar mereka. Sementara Mama Rima masih mengobrol dengan bunda dan ayah.


Sesampainya di kamar, Embun membantu suaminya duduk bersandar di ranjang. Aby memandangi Embun yang sekarang terasa jauh berbeda. Tidak ada lagi istri galak dan dingin. Yang ada hanya perhatian dan kelembutan. Hal yang membuat Aby seakan tidak sabar lagi untuk kembali memulai semuanya. 


"Kamu masih butuh sesuatu?" tanya Embun. Duduk di tepi ranjang sambil membuka sepatu suaminya.


"Nggak butuh apa-apa selain kamu." 


Sebuah kalimat gombalan baru saja terucap dari bibir laki-laki itu, yang menciptakan semburat merah di pipi Embun.


Tanpa kata, Aby menarik Embun ke dalam dekapannya. Membelai rambutnya dengan penuh kasih. 


"Embun, terima kasih kamu sudah memberi aku kesempatan. Jujur saja, aku merasa tidak layak untuk kamu."  


"Mama bilang perpisahan dijadikan pilihan untuk menyelesaikan masalah pernikahan, maka nggak akan ada pernikahan yang bertahan lama."


Aby mengangguk. Rasa bahagia tak terkira menghangatkan hatinya.


.


.


.


Embun keluar dari kamar setelah beberapa saat kemudian.


Ketika melewati sebuah kamar, tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Galang dengan seseorang melalui telepon. Embun terdiam beberapa saat sambil mencoba menajamkan pendengaran. Ia baru saja mendengar Galang menyebut nama Aby dan Vania.


"Iya, Pak! Saya harap pelaku sebenarnya segera ditangkap," pinta Galang.  


Pria itu kemudian terdiam dengan mimik muka serius. Seperti sedang mendengarkan penjelasan seseorang yang tengah berbicara dengannya di telepon.


"Pasti, Pak. Kalau pun Vania Athalia terbukti terlibat, saya harap dia juga mendapatkan hukuman sesuai peraturan hukum yang berlaku." 


Kening Embun berkerut dalam. Mencoba menangkap isi pembicaraan Galang.


"Apa memang benar Vania adalah dalang dari kecelakaan itu?" 


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2