Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 96 : Maaf, merepotkan kamu.


__ADS_3

Setelah menyadari keberadaan Pak Radit dan Siska di restoran yang sama, Aby memutuskan untuk cepat meninggalkan restoran. Ia dan Embun menuju kasir untuk melakukan pembayaran. 


Tetapi sepertinya pria tersebut memang suka mencari masalah. Aby memutar bola mata dengan malas ketika melihat Pak Radit sedang menuju meja kasir. Ia berdiri tepat di samping Aby. 


"Saya tidak tahu apa yang sudah kamu katakan kepada Pak Desta sampai membatalkan semua kerja sama dengan perusahaan saya. Tapi saya pastikan kamu akan menyesal," ucapnya tiba—tiba.  


Aby hanya menanggapi ucapan Pak Radit dengan tawa kecil. Pria sombong di hadapannya itu selalu mengancam dengan menggunakan kekuasaan. Tetapi, bukan Aby namanya jika peduli dengan ancaman Pak Radit. 


"Pak Radit ini aneh. Bapak sendiri yang mencampur masalah pribadi dengan pekerjaan. Saya tidak melakukan apa-apa. Bahkan saya tidak memberitahu Pak Desta alasan yang membuat saya melaporkan istri Bapak." 


"Kalau tidak kamu beritahu bagaimana mungkin Pak Desta membatalkan kerja sama dengan perusahaan saya?" 


"Kenapa Bapak tidak tanya sendiri ke Pak Desta? Bukannya pagi tadi Bapak sengaja mendatangi Pak Desta untuk meminta agar saya dipecat?" 


Seperti terperangkap ke dalam ucapannya sendiri, wajah pria itu mendadak merah padam. Aby pun  merangkul bahu istrinya. 


"Sayang, kita pulang aja, yuk!" 


Embun hanya mengangguk dengan seulas senyum tipis. Namun, baru beberapa langkah, sudah terdengar suara teriakan seorang wanita yang terdengar sangat lantang. 


"Jadi yang kamu maksud meeting dengan klien itu dengan perempuan ini, ya?" teriak wanita itu. 


Embun dan Aby resfleks menoleh ke sumber suara. Terlihat wajah istri Pak radit dipenuhi kemarahan. 


"Itu perempuan yang kemarin menyerang aku, kan?" bisik Embun. 


"Iya," jawab Aby. 


Sementara wajah Siska mendadak memucat. Ragu-ragu ia melirik ke sumber suara. Benar saja, wanita yang kemarin mendatanginya sedang berjalan ke arah mereka. 


Tidak ingin ikut campur, Aby segera membawa istrinya pergi, meninggalkan Pak Radit dan Siska yang mematung di tempat. Sudah bisa dipastikan akan ada keributan besar di restoran tersebut. 


*


*


*


*


Beberapa bulan berlalu .... 


Kehidupan Aby dan Embun berjalan seperti biasanya. Tidak ada masalah berarti beberapa bulan belakangan ini. Embun terus menjalani pengobatan secara rutin dan teratur.

__ADS_1


Sekarang ia juga sudah magang di kantor May-Day setelah membatalkan magang di perusahaan Pak Radit. Berkat bantuan Aby, Embun di terima magang di perusahaan tempat suaminya bekerja. 


Malam itu ....


Aby baru tiba di rumah setelah seharian bekerja. Malam ini ia agak terlambat pulang karena harus lembur demi menyelesaikan pekerjaan. Begitu tiba di ruang televisi, ia menatap ke sekitar. Biasanya saat pulang malam, Embun akan menunggu sambil tiduran di sofa. Namun, kini wanita itu tidak terlihat di sana. 


"Mungkin di kamar." Aby bermonolog sendiri setelah tak menemukan istrinya di dapur. 


Begitu membuka pintu kamar, sudah terdengar suara Embun yang berasal dari kamar mandi. Sepertinya sedang muntah. Beberapa hari belakangan ini, Embun memang sering mual akibat obat yang dikonsumsinya. 


Ia juga sudah beberapa hari tidak ke kantor karena tubuhnya terasa lemas. Padahal masa magang di kantor tinggal beberapa hari lagi.


Aby buru-buru melepas jaket dan menyusul ke kamar mandi. Embun terlihat sedang menyandarkan tubuhnya pada wastafel. 


"Sayang, kamu muntah lagi?" tanya Aby sedikit panik. Ia berdiri di belakang istrinya dan memijat punggung leher. 


Setelah memuntahkan semua isi perut, Embun membasuh wajahnya dengan air. Lalu terduduk sebentar sambil bersandar di dinding kamar mandi dengan mata terpejam. Muntah membuat tubuhnya terasa lemas. Belum lagi ia memang kehilangan selera makan beberapa hari ini. 


Sementara Aby berjongkok di hadapannya dan menatap wajah istrinya dengan perasaan iba. Kondisi Embun beberapa hari belakangan ini membuatnya sangat khawatir. 


"Kita ke dokter, ya?" tawarnya sambil membelai wajah Embun yang kini tampak memucat. 


Belum ada jawaban dari Embun. Ia bersandar dengan menghadapkan wajah ke atas demi mengurangi sensasi mual yang terasa menyiksa. 


"Aku nggak mau ke dokter." Embun menjawab dengan suara lirih yang terdengar sangat lemah di telinga Aby. 


"Tapi kamu pucat. Kamu juga lemas begini." 


Embun masih menolak untuk ke dokter. Sebelumnya, Dokter Allan memang memberitahu tentang efek samping obat yang mungkin akan membuatnya mual. 


"Kamu yakin nggak mau ke dokter?" 


Embun kembali menggelengkan kepala. Membuat Aby meraih handuk kecil untuk mengusap wajah istrinya yang pucat dan basah. 


"Kalau begitu kita ke kamar. Aku pijat saja, ya?" tawarnya kemudian. 


Aby pun menopang tubuh lemah itu ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Kemudian tergesa-gesa membuka laci meja untuk mengambil minyak kayu putih yang selalu tersedia di sana. 


Dengan penuh perhatian dan kesabaran, ia menyibak pakaian istrinya hingga batas dada, lalu membalurkan minyak kayu putih di sekitar perut dan punggung sambil memberi pijatan lembut. Kaki dan tangan pun tak luput dari pijatan. 


"Kamu merasa lebih baik?" 


"Iya. Makasih, Mas." 

__ADS_1


"Mau aku buatkan minuman jahe?" tawar Aby lagi, mengingat Embun kerap membuat minuman jahe untuk mengurangi mual. 


"Nggak mau." 


"Teh, susu, jus, air putih." 


"Nggak mau juga." 


"Makan aja gimana? Kamu pasti belum makan, kan? Kamu mau makan apa? Atau mau makan di mana? Aku antar." Tawaran panjang itu membuat Embun menatapnya dalam.


Bukannya menjawab, ia malah meminta Aby berbaring di sisinya. "Mau tidur sama kamu aja." 


"Boleh. Tapi aku ganti baju dulu. Sebentar ya, Sayang." 


Embun melepas pelukan. Aby dengan cepat bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dalam hitungan menit, ia sudah keluar dengan lilitan handuk di pinggang. Embun hanya terbaring dengan pandangan mengikuti ke mana suaminya bergerak. 


"Sini!" ucap sesaat setelah kembali membaringkan tubuhnya. Seperti biasa, ia tidak pernah menggunakan baju saat tidur dan hanya menggunakan celana piyama. Dan kebiasaan Embun adalah bersandar di dada polos suaminya. Memeluknya dengan erat. 


"Maafin aku ngerepotin kamu belakangan ini," lirih Embun.


Entah mengapa beberapa hari belakangan ini ia merasa menjadi beban untuk suaminya. Bahkan Aby kerap terbangun di malam hari tanpa memerdulikan rasa lelah dan kantuk hanya untuk menemani Embun yang kadang kesulitan tidur. 


"Kamu bicara apa sih?" Aby mendekap istrinya lebih dalam, sambil membelai rambut. 


"Aku merasa terlalu merepotkan kamu. Kamu pasti capek pulang kerja, kan?" Sekarang ia malah terisak-isak hingga membuat Aby kebingungan sendiri. 


"Kata siapa ngerepotin? Nggak sama sekali." 


Aby mengeratkan dekapannya. Meyakinkan wanita itu bahwa dirinya sama sekali tidak menyusahkan.


"Kamu sama sekali nggak membuat aku repot, Sayang. Aku akan menemani kamu dalam keadaan apapun."


"Tapi aku merasa nggak berguna."


"Sudah, jangan pikir macam-macam. Aku bahagia sama kamu. Sekarang kamu tidur, ya."


Aby mencium kening, lalu membelai rambut istrinya dengan lembut. Setelah beberapa menit berlalu, Embun sudah terlelap. 


Balmond libur dulu, ya. Yang sabar!


Tak lama setelahnya, Aby pun menyusul istrinya. Keduanya tidur dengan saling berpelukan.


Embun dengan tubuh yang sangat lemas, sementara Aby yang tenaganya terkuras karena seharian bekerja di kantor. Dan setibanya di rumah, ia harus direpotkan dengan kondisi istrinya. 

__ADS_1


...****...


__ADS_2