
Tidak ada kalimat pembelaan yang terucap dari bibir Aby setelah mendengar ucapan terakhir Embun. Ya, Embun memang benar. Sejak awal menikah, Aby lah yang menciptakan jarak di antara mereka. Dan Aby paham Embun butuh waktu.
"Aku akan menunggu dengan sabar kapan pun kamu bisa memaafkan aku," ujar Aby, menatap lekat wajah istrinya.
Tak ada sahutan lagi dari Embun. Keduanya diam selama beberapa saat. Hingga ketukan pintu mengalihkan perhatian Embun. Wanita itu segera beranjak menuju pintu. Mama Rima berdiri di sana dengan senyuman tipis.
"Aby, Embun, ayo kita makan malam dulu."
Keduanya pun segera menyusul Mama Rima ke meja makan. Di meja sudah terhidang beberapa menu yang menggugah selera. Sederhana, namun, Aby tampak sangat menikmati.
"Oh ya, Nak Aby ... malam ini kamu nginap di sini, kan?" tanya sang mertua, di sela-sela makan malam. Sebab sejak tadi sepasang suami istri itu saling diam dan tampak kaku.
Aby melirik Embun sekilas. Kemudian kembali menatap Mama Rima dengan senyum penuh keraguan.
Kalau nginap tidurnya di mana, Mah? Takut disemprot sama anak mama yang cantik tapi galak ini. ucap Aby dalam hati.
"Memang boleh nginap, Mah?" tanyanya seakan ragu.
"Loh, kenapa tidak boleh?"
Mama Rima tersenyum tipis. Melihat kesungguhan Aby untuk memperbaiki hubungannya dengan Embun, ia pun mendukung penuh. Bila perlu akan membantu mendekatkan anak dan menantunya.
Sementara Aby melirik Embun yang terfokus dengan makanannya. Wanita itu tampak enggan menanggapi pembicaraan Aby dan Mama.
"Ya udah, Mah. Aku nginap. Kebetulan udah malam, nggak kuat nyetir lagi." Sebuah alasan mustahil baru saja terucap dari bibir Aby.
Makan malam pun berlalu begitu saja. Aby tengah mengobrol di ruang televisi bersama Mama sementara Embun sedang membersihkan dapur dan meja makan.
Dari tempatnya berdiri, Embun sesekali melirik ke arah ruang televisi. Dari sana, ia dapat melihat Mama yang sedang mengobrol seru bersama Aby. Entah membicarakan apa.
Embun termenung beberapa saat sambil menimbang, apakah dirinya terlalu keras terhadap Aby?
...****...
Waktu menunjuk ke angka sepuluh, namun Aby masih betah mengobrol dengan Mama Rima. Sementara Embun sudah kembali ke kamar sejak satu jam lalu.
__ADS_1
Sebuah album foto terus menjadi pusat perhatian Aby sejak tadi. Ia membuka halaman demi halaman dengan antusias. Album foto tersebut banyak berisi kenangan tentang masa lalu Embun.
Sesekali Aby bertanya kepada sang mertua jika ada foto yang begitu menarik perhatiannya. Aby ingin mengenal Embun lebih jauh melalui mama, dengan menanyakan apa saja yang disukai Embun dan apa yang tidak disukainya.
"Kamu belum istirahat, Nak? Ini kan sudah malam," ucap Mama Rima seraya melirik arah jarum pendek pada jam yang melekat di dinding.
Aby tersenyum tipis. Sebenarnya sejak tadi ia sudah diserang kantuk. Namun, untuk pergi ke kamar Embun ia masih ragu. Memikirkan apakah ia akan diusir oleh Embun.
"Kenapa?" tanya sang mertua lagi, saat tak mendapat jawaban dari Aby.
"Takut diusir Embun, Mah." Akhirnya kalimat itu terucap juga. Hal yang membuat Mama Rima terkekeh geli.
"Embun nggak akan usir kamu. Tadi mama sudah bicara sama Embun. Kalau kalian tinggal di rumah terpisah, itu justru akan semakin merusak hubungan kalian."
Akhirnya, Aby mengangguk pasrah. Ia meletakkan kembali buku album ke bawah meja.
"Kalau begitu aku istirahat dulu, Mah."
"Iya, Nak. Kebetulan Mama juga sudah ngantuk ini," ucapnya ramah.
Aby tersenyum. Ia benar-benar bersyukur memiliki ibu mertua sebaik Mama Rima. Pria itu pun segera beranjak menuju kamar.
Tanpa menunggu, Aby pun segera masuk ke kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan air. Lalu, keluar dari kamar mandi beberapa menit setelahnya. Embun masih terlihat duduk bersandar.
"Aku minta bantal satu, ya?" ucapnya seraya meraih bantal dan meletakkan di lantai.
Pria itu pun segera membaringkan tubuhnya di lantai keramik yang dingin. Sambil menghitung detik demi detik yang berlalu.
"Nggak usah tidur di lantai, di sini aja." Embun membuka suara setelah sejak tadi terdiam. Membuat Aby menoleh untuk menatapnya.
"Nggak apa-apa, Mbun. Aku di sini aja," jawabnya sedikit pasrah.
Embun menghela napas panjang. Ia melirik suaminya. "Kamu sengaja ya, mau aku dimarahin mama kalau kamu sakit karena tidur di lantai?"
Aby menyembunyikan seringainya. Teringat beberapa waktu lalu saat ayah dirawat di rumah sakit. Kala itu, Aby juga tidur di lantai, sementara Embun di sofa bed. Dan sejak malam itu, Aby sedikit tahu, bahwa Embun adalah wanita yang tidak tegaan.
__ADS_1
Aby bangkit dengan wajah seperti terpaksa. Meskipun dalam hati bersorak. Setidaknya, usaha untuk mendekati Embun sedikit demi sedikit berjalan.
"Ya udah, aku tidur di sini, ya," ucapnya seraya membenarkan bantal dan membaringkan tubuhnya.
"Hemm ...." Embun hanya menjawab dengan deheman. Lalu kembali terfokus dengan ponsel miliknya.
Sementara Aby yang terbaring dalam posisi membelakangi Embun menarik senyum.
"Lumayan lah, ada perkembangan. Setidaknya boleh tidur bareng. Yang sabar Toya Sakti," ucapnya kepada diri sendiri dalam hati.
Beberapa menit berselang, Embun bangkit dari posisi duduknya. Lalu, segera beranjak menuju kamar mandi. Cukup lama Aby menunggu, hingga akhirnya sesuatu yang tak terduga pun terjadi.
Lampu tiba-tiba padam, disusul dengan suara teriakan Embun dari dalam kamar mandi. Secepat kilat, Aby bangkit dan menyusul sang istri.
"Kamu kenapa?" tanya Aby panik, seraya melorotkan tangan di tengah kegelapan.
"Aku takut gelap," jawab Embun, suaranya terdengar gemetar.
Aby meraba ke sekitar, hingga akhirnya berhasil menjangkau sang istri. Ia dapat merasakan tubuh Embun yang gemetar. Sepertinya wanita itu memang sangat takut dengan gelap.
"Udah, nggak apa-apa," ucapnya seraya merangkul tubuh sang istri. "Kamu sudah selesai? Kita keluar aja, ya. Gerah di kamar mandi."
Dalam kegelapan, Embun menganggukkan kepala. Aby pun segera membawa Embun menuju kamar. Ia meraba ke sekitar hingga menggapai ranjang dan mendudukkan Embun di sana. Suasana benar-benar gelap gulita. Tak ada cahaya sedikit pun.
Aby menggeledah hingga menemukan ponsel di atas meja. Ia lantas menyalakan senter. Membuat pencahayaan kamar menjadi temaram.
"Kamu benar-benar takut gelap, ya?" tanya Aby.
Embun mengangguk sebagai jawaban.
"Aku mau tidur di kamar mama aja," lirihnya.
"Ya udah, mau aku antar?"
Lagi-lagi, Embun menjawab dengan anggukan kepala. Aby pun menggenggam tangannya dan menuntun untuk keluar kamar. Namun, kerutan tipis terukir di kening saat memutar gagang pintu.
__ADS_1
"Pintunya terkunci?"
...*****...