Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 92 : Dipecat?


__ADS_3

Embun masih terpaku menatap punggung berbalut kemeja mahal yang baru saja menghilang di balik pintu rumahnya. Kepergian pria sombong dalam keadaan marah itu tak serta merta membuatnya bernapas lega. Hatinya malah dipenuhi rasa khawatir. 


Jika memang pria tadi cukup berpengaruh, mengapa Aby malah menantang? Bukankah itu akan membahayakan posisinya di kantor? 


"Kenapa berdiri di situ?" Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Embun. Tanpa ia sadari, Aby sudah berdiri tepat di sisinya. Menunjukkan senyum yang begitu menawan. Yang kemudian menjadi tawa kecil kala mendapati istrinya terbengong.  


"Orang tadi ...."


"Orang tadi kenapa? Apa perlu aku kasih tinju dulu?" 


"Nggak!" potong Embun cepat sambil menggelengkan kepala. Ia tak tahu ucapan Aby barusan sebatas candaan atau serius. Ia tak dapat menebak. Yang harus dilakukan sekarang adalah berusaha meredam amarah suaminya. "Memangnya kamu kenal orang tadi, Mas?" 


"Kenal. Dia salah satu pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan May-Day." 


Jawaban santai itu membuat Keraguan semakin tergambar jelas. Lihatlah, betapa risau kembali mewarnai wajah wanita itu dalam hitungan beberapa detik saja. 


"Berarti—" Ia menggantungkan jawaban seolah tidak sanggup untuk melanjutkan. Tetapi, Aby cukup tahu ke mana arah pembicaraan istrinya. 


"Berarti apa?" 


Embun terdiam memikirkan apakah penyerangan terhadap dirinya akan menciptakan masalah bagi suaminya, jika melakukan pelaporan. "Berarti dia nggak main-main. Kalau kamu dipecat beneran gimana?" 


"Bodo amat!" 


Hanya jawaban singkat itu yang terlontar bebas tanpa beban. Seolah ancaman itu bukanlah sesuatu yang berarti baginya. Berbeda dengan Embun yang cukup gelisah. 


"Kalau dipecat memangnya nggak bisa cari kerja di tempat lain?" tambah Aby.


"Bukan begitu. Cari kerja itu kan susah."


"Kata siapa? Nggak kok." Aby menjeda ucapannya dengan hela napas. "Udah yuk, kita ke kantor polisi dulu." Aby menarik tangan istrinya, namun Embun masih saja ragu.


"Yakin mau lapor, Mas?"


"Nggak yakin kenapa sih?"


Sebelum Embun membuka mulut untuk berucap sesuatu, Aby sudah membawanya keluar dari rumah. Sepertinya ia benar-benar akan memperkarakan penyerangan tadi. 


Di luar suasana sekitar tampak lebih tenang meski masih berbalut kekacauan dari kejadian mengejutkan itu.

__ADS_1


Baru saja akan membuka pintu mobil, sudah terdengar panggilan tak kalah tergesa dari arah samping.


"Embun, tunggu!"


Embun menolehkan kepala dengan tatapan nyaris tanpa ekspresi. Entah apa yang diinginkan Siska hingga menghentikannya secara tiba-tiba.


"Kenapa, Sis?"


Wanita berpakaian serba ketat itu tampak cukup terkejut melihat wajah tetangganya yang dihiasi tanda garis merah.


"Ya ampun. Kamu jadi korban perempuan gila tadi. Mungkin dia pikir kamu adalah aku."


Kedua alis Embun berkerut mendengar panggilan yang disematkan Siska untuk wanita pembuat kekacauan tadi. "Kamu sebut dia perempuan gila?"


"Memang dia gila, kan? Menyerang orang sembarangan?"


"Lebih gila mana sama perempuan yang nekat menjalin hubungan dengan laki-laki beristri?"


Siska terdiam seketika. Butuh beberapa saat baginya untuk dapat menjawab. "Aku tahu ini salah, tapi Mas Radit yang lebih dulu ...."


"Kalau sudah tahu salah, kenapa masih mau sama suami orang?" potong Embun cepat, kemudian naik ke mobil dan meninggalkan Siska begitu saja.


"Nggak tahu, Mas."


Aby mendesah kan napas panjang. "Mulai sekarang kamu harus benar-benar jaga jarak dari tetangga satu itu. Jangan sampai kamu dapat masalah lagi karena dia."


"Iya, Mas."


Malam itu, Aby benar-benar melaporkan penganiayaan terhadap Embun. Keduanya harus menghabiskan waktu lama di kantor polisi untuk memberikan keterangan.


*


*


*


Keesokan harinya .... 


"Pagi, Sayang." 

__ADS_1


Embun masih lelap ketika mendengar panggilan lembut menyapu indera pendengarannya pagi itu. Ketika membuka mata, hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah dengan senyum menawan, yang kemudian memberinya kecupan sayang di pipi. Lalu kemudian bangkit dan berdiri menghadap cermin sambil merapikan penampilan. 


"Aku kesiangan, ya?" Embun merubah posisi dengan duduk bersandar di tempat tidur. Angka yang ditunjuk jarum pendek pada jam dinding membuatnya terkejut. Sudah mau jam tujuh dan ia sama sekali belum menyiapkan sarapan untuk suaminya. "Ya ampun, aku benar-benar kesiangan. Kenapa nggak dibangunkan?" 


Baru saja akan menyibak selimut untuk segera turun, tetapi Aby sudah mencegah. "Nggak apa-apa. Aku sengaja nggak kasih bangun, biar kamu istirahat aja pagi ini." 


Aby memang sengaja tidak membangunkan. Ia pikir Embun pasti lelah karena mereka pulang larut setelah melaporkan penganiayaan semalam. 


"Tapi aku mau buat sarapan untuk kamu." 


"Sudah aku buat." Aby menunjuk meja nakas. Di sana ada sepiring nasi goreng lengkap dengan segelas teh dan beberapa potong buah. "Jadi hari ini kamu rebahan aja." 


Setelah mengancingkan ujung lengan kemeja, pria itu duduk di tepi tempat tidur. Memeriksa bekas cakaran di wajah istrinya. "Ini masih perih?" 


"Nggak lagi, kok." 


Embun masih duduk bersandar, ketika tiba-tiba mendengar keributan berulang. Wanita itu langsung menuju jendela dan menyibak tirai untuk mengamati keadaan rumah sebelah yang dapat terlihat dari lantai dua rumahnya.


Beberapa orang pria bertubuh besar terlihat tengah melempar koper keluar dari rumah Siska. Disusul dengan Siska yang tampak tidak terima dengan pengusiran tiba-tiba itu.


"Aku pikir masalahnya sudah beres. Ternyata masih dilanjut, ya?" gumam Embun.


Aby pun berdiri tepat di belakang punggung istrinya. Dari sana mereka dapat melihat Siska bertengkar hebat dengan tiga pria. 


"Sayang, sepertinya kamu harus lebih ketat menjaga suami kamu dari wanita seperti dia," bisik Aby ke telinga Embun. 


Membuat sudut mata wanita itu berkerut dalam. Tatapannya penuh kewaspadaan. "Awas saja kalau Mas berani macam-macam sama tetangga satu itu. Aku sunat dua kali tahu rasa!" 


Tetapi, ancaman serius terkesan mengerikan itu malah membuat tawa Aby pecah dan menyatu dengan keheningan pagi.


"Kamu yang rugi tahu, kalau sampai sunat dua kali." 


"Kenapa harus aku yang merasa rugi?" tanya Embun, masih dengan mengarahkan pandangan kepada Siska yang masih berdiri mematung di halaman rumahnya.


"Kalau potong dua kali, Gladiator jadi pendek!"


Embun menghela napas panjang mendengar nama aneh yang disematkan suaminya.


****

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2