
Perasaan ayah, bunda, dan Galang menjadi lebih tenang setelah memastikan kondisi Aby perlahan mulai stabil. Sekarang mereka bisa tenang meninggalkan Aby dan Embun berdua saja. Terlebih, keduanya memang membutuhkan waktu lebih banyak berdua. Selain agar lebih dekat, keduanya butuh waktu dan tempat untuk membicarakan rumah tangga nya yang terancam kandas.
Sementara Galang, sejak Aby kritis, ia memutuskan akan merelakan Embun untuk adiknya dan melupakan niat nya untuk merebut kembali Embun. Aby sudah selamat dari maut saja sudah cukup baginya.
Sekarang mereka sudah berada di kantor polisi demi mendapatkan informasi terbaru dari pihak kepolisian. Penyelidikan masih terus berlanjut.
Sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan kejadian di depan restoran terlihat dari berbagai sudut. Galang memperhatikan sebuah mobil sedang mewah yang semula memasuki halaman restoran, lalu melaju dengan kecepatan tinggi. Hampir saja kendaraan mewah itu menghantam tubuh Embun. Namun, Aby bergerak cepat mendorongnya hingga terhempas ke trotoar. Sementara Aby sendiri terpental beberapa meter dan tergeletak tak berdaya di sisi jalan.
Bunda mengusap lelehan air mata menyaksikan kejadian yang nyaris merenggut nyawa putranya.
"Ya Allah ada ya, orang setega ini, sampai mau mencelakai orang," lirih sang bunda.
"Sabar, Bunda," ucap ayah berusaha menenangkan..
Sorot mata Galang menyala memancarkan kemarahan, juga tangannya yang terkepal sempurna, dengan rahang mengetat.
"Bangs@t!"
Ia menarik napas dalam-dalam demi mengurai kemarahan yang terasa menembus ubun-ubun. Entah apa yang akan ia lakukan kepada pelaku penabarakan adiknya, yang kini ditetapkan sebagai saksi. Galang benar-benar ingin tahu siapa orangnya dan membuat perhitungan.
"Sepertinya pengendara mobil ini memang sengaja mau menabrak Embun. Tapi ternyata Aby yang jadi korban," ujar Galang. Setelah mengamati rekaman CCTV.
__ADS_1
Dahi bunda berkerut dalam. "Memang siapa yang mau mencelakai Embun? Kalau bunda lihat, Embun anak yang baik dan pendiam. Dia tidak mungkin punya musuh, kan?"
Bunda tidak habis pikir jika sampai ada yang berusaha mencelakai Embun. Walaupun baru mengenal, namun ia dapat menilai menantunya itu wanita yang memiliki kepribadian baik. Embun bahkan menutupi sikap buruk Aby terhadapnya selama ini.
Galang kembali menatap pria berseragam di hadapannya.
"Apa pemilik mobil sudah diketahui, Pak?"
Pria berseragam itu tampak menarik napas dalam. "Pemilik kendaraan atas nama Bram Prasetyo. Menurut kesaksian beliau, mobil tersebut dihadiahkan untuk anak perempuannya yang berkuliah di Universitas yang sama dengan istri korban."
Ketiganya tampak sangat terkejut mendengar ucapan sang petugas. Apakah memang benar jika seseorang sedang berusaha mencelakai Embun?
"Namanya, Vania Athalia."
Spontan kelopak mata ayah dan bunda membeliak mendengar nama yang disebutkan sang petugas kepolisian.
"Vania?" Bunda menatap tak percaya.
"Benar, Bu. Sekarang Vania Athalia masih ditetapkan sebagai saksi dan sedang menjalani pemeriksaan."
.
__ADS_1
.
.
Di rumah sakit ....
Embun keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Seharian ini ia habiskan waktunya untuk merawat sang suami.
Beberapa luka di tubuh Aby benar-benar membatasi ruang geraknya. Sehingga melakukan apapun membutuhkan bantuan Embun.
Aby menatap lekat wajah istrinya yang terlihat sangat lelah. Beberapa hari belakangan ini, Embun memang kurang istirahat.
"Kamu istirahat, ya. Kamu pasti capek jaga aku terus. Muka kamu sekarang pucat." Tangan Aby terulur membelai wajah sang istri.
Embun mengangguk. Namun, bukannya membaringkan tubuhnya di sebuah pembaringan kecil yang tersedia di sudut kamar, ia malah memilih bersandar di bahu suaminya.
Membuat Aby mengelus pipinya dengan lembut.
"Ngajak ribut ini monster satu mata pakai bangun segala."
__ADS_1