
Untuk beberapa saat, Mama Rima seperti terpaku di tempat. Lelehan air mata yang mengalir di pipi seolah cukup mampu untuk menjelaskan bahwa putri semata wayangnya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Wanita berusia hampir setengah abad itu meraih selembar tissue dan mengusap pipinya yang basah. Tatapan Aby seolah mendesak sebuah jawaban.
"Mah, ada apa sebenarnya?" Aby mulai merasakan ketakutan menyusup secara perlahan ke hati. Bagaimana jika memang ada sesuatu yang disembunyikan Embun darinya.
"Apa Embun belum bilang apa-apa sama kamu tentang ini?" Pertanyaan itu membuat jantung Aby berdetak semakin tidak karuan. Berbagai dugaan buruk mulai mengakar di benaknya. Tak kuasa menjawab dengan lisan, pria itu hanya dapat menggelengkan kepala.
Membuat Mama Rima menarik napas dalam. Hanya dalam hitungan detik, sudah terdengar suara isak tangis.
"Dokter bilang kemungkinan Embun bisa hamil kecil karena ada kista yang tumbuh di rahimnya."
Jawaban yang diberikan mama layaknya sebuah sambaran petir bagi Aby. Tubuh laki-laki itu gemetar hebat. Untuk berpikirpun rasanya begitu sulit. Aby benar-benar berharap apa yang baru saja tertangkap oleh indera pendengarannya adalah salah.
"Kista?" tanyanya seakan tak percaya. "Tapi kenapa Embun nggak mau bilang? Setidaknya kalau dia jujur, kita bisa sama-sama cari solusi."
Mama tidak menampik bahwa diamnya Embun adalah sebuah kesalahan. Seharusnya, sebagai seorang istri ia lebih terbuka kepada suaminya. Namun, Mama Rima tahu betul apa yang membuat Embun diam dan menyimpan sendiri masalahnya.
"Mama sudah sering minta Embun untuk cerita ke kamu tentang ini. Dia bilang butuh waktu. Tapi mama tahu sebenarnya Embun takut kalau kamu tidak bisa menerima dan memilih meninggalkan dia."
__ADS_1
"Mama sama Embun tahu sejak kapan?" tanya Aby lagi dengan perasaan semakin tidak karuan.
"Beberapa minggu setelah kalian menikah. Mama juga baru tahu setelah tidak sengaja menemukan hasil pemeriksaan Embun di lemari."
Alis tebal Aby saling bertaut membentuk busur panah. Menghitung mundur waktu yang telah berlalu. Jika beberapa minggu setelah menikah, artinya sebelum mereka berbaikan.
Sepasang mata Aby terpejam bersamaan dengan embusan napas yang berat. Ia merasa telah gagal sebagai seorang suami. Kala istrinya berjuang seorang diri menghadapi ketakutan dan rasa sakit, ia malah menghabiskan waktu bersama wanita lain.
"Aku minta maaf, Mah. Aku benar-benar tidak tahu tentang ini," lirih Aby penuh sesal.
"Bukan salah kamu, Nak. Keadaan yang membuat semuanya seperti ini. Lebih baik, kalian bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Mama yakin, Embun tidak bermaksud menyembunyikan ini dari kamu."
Aby mengangguk pelan.
Beberapa waktu lalu ia telah membuat janji tidak akan menyakiti istrinya lagi. Namun, pagi tadi ia telah mengulang kesalahan sama dengan pergi begitu saja sambil membanting pintu. Bahkan sarapan yang susah payah dibuat Embun tak dilirik sedikit pun.
Butuh 20 menit bagi Aby untuk tiba di rumah. Ia terburu—buru masuk untuk mencari istrinya. Namun, Embun tidak tidak terlihat di tempat biasanya ia menunggu kepulangan suaminya.
"Sayang ...." panggil Aby, sambil melangkah menuju dapur. Tiadanya Embun di sana membuat Aby yakin bahwa istrinya ada di kamar.
__ADS_1
Benar saja, begitu tiba di depan pintu kamar yang setengah terbuka, ia melongokkan kepala ke dalam. Embun tampak sedang duduk memeluk lutut di lantai samping tempat tidur.
Aby membeku, ketika mendengar suara sesegukan dari dalam sana. Kemana wanita kuat dan tegas yang selama ini dikenalnya? Aby bahkan dapat mendengar bagaimana napas Embun tersendat-sendat menahan tangis. Lalu, apakah selama ini Embun kerap menangis diam-diam seorang diri?
Aby melangkah masuk dan berjongkok di hadapan istrinya. Tangannya terulur membelai puncak kepala.
"Sayang ... kenapa nangis?" tanyanya lembut.
Embun yang baru menyadari kedatangan suaminya segera mendongak.
Aby langsung mendekap wanitanya itu ketika melihat mata yang sembab dan memerah. Ia yakin Embun sudah cukup lama menangis.
"Kita duduk dulu, yuk," ajaknya lembut. Lalu menuntun istrinya untuk duduk di sofa.
"Maafin aku," ucapnya masih dengan suara tersendat-sendat menahan tangis. "Aku bukan nggak mau punya anak. Perempuan mana sih yang nggak mau menjadi seorang ibu?"
Aby tidak menjawab. Seolah memberi ruang bagi Embun untuk menumpahkan semua kesedihannya.
"Kamu pernah berniat untuk menceraikan aku di malam pertama kita menikah. Kalau aku tidak bisa memberi kamu seorang anak, apa kamu akan benar-benar meninggalkan aku?"
__ADS_1
Kepingan rasa bersalah semakin merasuk ke hati Aby. Yang ia lakukan hanya mendekap istrinya semakin erat.
*****