
Vania mengeratkan pelukan kala merasakan tubuhnya mendapat dorongan dari sosok yang dipeluknya. Demi apapun gadis itu tidak akan rela jika harus secepat ini berpisah dari lelaki yang dicintainya itu.
"Satu menit aja, By. Aku kangen kamu!" lirih Vania dengan berderai air mata.
Bukannya membalas pelukan, laki-laki itu malah mendorong Vania, namun dengan gerakan yang begitu lembut.
"Maaf, kamu salah orang. Aku bukan Aby." Suara bariton itu membuat sepasang mata Vania membulat. Ia mendongak demi menatap tubuh jangkung itu. Wajah pucatnya mendadak merah.
"Kak Dewa?" Seketika ia menunduk, lalu menyeka air mata yang membanjiri pipinya.
"Maafkan anak kami." Suara papi memecah kecanggungan yang ada. Pria paruh baya itu memeluk bahu putrinya seraya memulas senyum tipis kepada pria di hadapannya.
Dewa tahu betul kondisi kejiwaan Vania sekarang. Karenanya ia tidak begitu mempermasalahkan. Apa lagi, orang tua Vania memiliki hubungan yang cukup baik dengan orang tuanya.
"Nggak apa-apa, Tante, Om. Saya mengerti," balas Dewa menerbitkan senyum tipis.
"Oh ya, Nak Dewa ada keperluan apa ke kantor polisi?" tanya papi.
"Saya masih ada pemeriksaan sebagai saksi, Om. Kebetulan saat Embun disekap, saya ada di sana."
Sepasang suami dan istri itu mengangguk mengerti. "Baik, Nak Dewa. Kalau begitu, kami duluan."
"Silakan, Om, Tante."
Dewa masih mematung menatap punggung Vania yang berjalan bersama kedua orang tuanya. Ada sedikit rasa iba melihat kondisi gadis itu sekarang. Vania yang biasanya cantik dan ceria berubah menjadi gadis pendiam dan sedikit berantakan.
__ADS_1
.
.
.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Aby bahwa menemani seorang wanita berbelanja akan semenyenangkan ini. Sekarang ia sedang menemani sang istri berbelanja di sebuah swalayan yang berlokasi tidak begitu jauh dari rumah.
Embun terlihat sangat antusias mencari beberapa bahan makanan. Sesekali, ia juga menanyakan makanan apa yang disukai dan tidak disukai Aby.
"Nggak usah repot-repot kalau urusan makan. Aku nggak rewel kok makannya."
Diakui Embun, suaminya itu memang tidak pemilih soal makanan. Selama ini, apapun yang dibuatnya selalu dinikmati Aby tanpa keluhan sama sekali. Meskipun Embun hanya berbekal kemampuan memasak seadanya.
"Aku tahu, tapi kata mama seorang istri harus bisa menyenangkan perut suaminya," balas Embun sambil memilah beberapa bahan makanan dari etalase.
Jawaban Aby membuat Embun melebarkan kelopak matanya. Sejak berbaikan, Aby memang lebih berani mengekspresikan diri. Kadang terasa sangat manis, romantis, dan lebih banyak kadar me$um. Terutama di malam hari.
Meskipun pernikahan sudah berjalan beberapa bulan, namun keduanya baru merasakan indahnya masa pengantin baru dan sedang hangat-hangatnya.
Embun meninggalkan suaminya menuju rak sayuran lain. Beberapa bahan makanan dimasukkan ke dalam keranjang. Aby mendorong troli belanjaan dan mengekor di belakang istrinya.
"Kamu suka makan terong?" tanya Aby, begitu melihat Embun memasukkan beberapa buah terong ke dalam keranjang.
"Suka, buat lalapan."
__ADS_1
"Nggak usah beli kalau cuma mau lalapan terong, nanti aku kasih di rumah."
"Di rumah kan belum ada apa-apa," protes Embun, mengingat kulkas di rumah masih dalam keadaan kosong. "Memang di taman rumah kita ada kebun terong?"
Embun memang belum sempat berkeliling di taman rumah. Mungkin saja Aby menyediakan sebuah kebun kecil, seperti kebun mini yang dibuat Awan sebagai bentuk cinta untuk istrinya, Pelangi. Embun masih ingat beberapa waktu lalu pernah memetik buah sendiri dari kebun kecil itu.
Aby hanya merespon dengan senyum hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Perasaan Si Pitung udah dua kali menang tarung, tapi lawannya masih polos juga. Dikodein nggak ngerti.
.
.
.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang sore itu. Vania duduk di belakang dengan pandangan terus mengarah pada jalan yang dilewati. Sejak meninggalkan kantor polisi, belum ada kata yang terucap dari bibirnya.
Seseorang yang berada di seberang jalan pun mengalihkan perhatian gadis itu. Tiba-tiba saja rasa sakit terasa menjalar. Aby baru saja keluar dari sebuah pusat perbelanjaan bersama Embun. Keduanya tampak sangat bahagia.
"Van, kamu mau mampir dulu ke restoran favorit kamu?" tawar mami.
"Nggak." Vania menjawab singkat, lalu kembali menyandarkan punggung.
"Dulu Aby selalu ada untuk aku. Sekarang semua waktunya hanya untuk Embun."
__ADS_1
****