Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 65 : Kamu Sendiri Yang Harus


__ADS_3

Kenangan berputar ke masa lalu. Masih segar dalam ingatan Aby bagaimana Vania mengancam akan mengakhiri hidupnya beberapa bulan lalu—yang membuat Aby harus terikat dengan sebuah janji dan berakhir dengan pengkhianatan di malam pertama penikahannya dengan Embun.


Aby yang saat itu kalap dan panik tidak punya pilihan lain, selain memenuhi permintaan gila dari kekasihnya itu. Bahkan Aby tidak bisa menolak saat Vania memaksa bertemu di restoran dan membuatnya mengucap kata akan bercerai dari Embun dalam waktu enam bulan. Aby sadar apa dilakukannya kala itu salah dan ia sangat menyesal. Kepingan rasa bersalah bahkan masih begitu melekat dalam hati. 


Lamunan Aby membuyar. Ia menatap wajah sedih istrinya. Hal yang mendorongnya untuk menarik wanita itu ke dalam dekapannya.


"Aku nggak akan pernah melakukan kesalahan yang sama. Sudah cukup aku menyakiti kamu dengan kesalahan-kesalahanku yang lalu. Aku nggak akan ke sana." Tangannya yang lebar bergerak membelai rambut dan punggung.


Embun melepas pelukan dan menatap suaminya. "Kamu yakin?"


Aby mengangguk diiringi senyum tipis di sudut bibirnya. Ia kecup kening sang istri dalam-dalam.


"Tidak semua hal bisa berada di bawah kendali kita. Aku mau di sini aja temani kamu."


Embun pun tak banyak bertanya. Ia memilih membersihkan meja dan mencuci peralatan makan. 


Hanya beberapa menit berselang, ponsel milik Aby kembali berdering. Awalnya ingin mengabaikan, namun Aby pikir harus memberi penjelasan kepada orang tua Vania agar tidak bergantung lagi kepada dirinya. Cukuplah ia membantu menjaga Vania selama satu tahun belakangan ini. 


"Aby tolong Vania." Suara mami terdengar bercampur dengan isak tangis. 


"Maaf, Tante. Saya nggak bisa ke sana," tolak Aby. "Dulu saya memang bisa melakukan apapun yang Vania inginkan. Tapi, sekarang semuanya sudah berbeda, ada hati yang harus saya jaga. Saya mohon pengertian Tante." 


"Tapi, Aby ... hanya kamu yang bisa membujuk Vania." 

__ADS_1


"Sekali lagi saya minta maaf. Mungkin Om dan Tante bisa memberikan pengertian kepada Vania." 


Setelah mengucap kata  maaf, Aby memutus panggilan. Embun menatap punggung suaminya yang masih duduk di kursi. Perlahan ia mendekat dan mengusap bahu. Embun tahu masalah Vania membuat suaminya terbebani. Karena secara tidak langsung, Aby turut andil dalam kondisi Vania sekarang. Meskipun sebenarnya, Vania sudah mengidap bipolar jauh sebelum mengenal Aby. 


"Kenapa lagi?" tanyanya.


"Itu maminya Vania minta aku ke sana lagi. Aku bilang nggak bisa."


Embun terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku mau kamu ke rumah Vania sekarang." Ucapan Embun membuat Aby menoleh dan menatap istrinya seolah tak percaya. 


"Tapi, Embun—" Belum sempat Aby menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong lebih dulu oleh Embun.


Aby menggeleng pelan. Sekali ini ia ingin egois untuk Embun saja. Embun sudah banyak mengalah untuk Vania, dan sekarang giliran Aby yang harus menjaga perasaannya. Terserah nanti Vania akan berbuat apa. 


"Tapi, Sayang. Bukan Vania saja yang harus dijaga. Aku lebih wajib menjaga perasaan kamu." Aby membelai wajah istrinya.


"Aku tahu, tapi aku nggak mau suamiku jadi penyebab kematian seseorang. Kamu sendiri yang harus selesaikan semuanya dengan Vania, sampai benar-benar tuntas." 


Aby mendekap wanita itu. Lalu berbisik,


"Aku sayang kamu, Mbun!"

__ADS_1


.


.


.


Aby menggandeng tangan Embun memasuki halaman rumah Vania. Saat telah di ambang pintu, terdengar suara mami yang memelas. Aby yakin Vania sedang berada di balkon kamar seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.


Benar saja, mami terlihat sedang berusaha membujuk putri semata wayangnya itu bersama Mbak Siti. Ia terlihat panik.


"Vania, tolong turun, Sayang. Jangan seperti ini. Kamu bisa membahayakan diri kalau begini," bujuk sang mami.


"Biar aja, Mi. Tinggalin aku sendiri!" Vania masih betah dalam posisinya. Pintu kamar ia kunci rapat, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke kamar dan mencegah.


"Vania, tolong turun!" Suara yang tiba-tiba muncul membuat Vania menoleh ke bawah.


"Aby? Kamu sudah datang?" Seketika matanya berbinar saat melihat lelaki pujaannya di sana.


Namun, keberadaan Embun membuat senyum di bibirnya meredup. Apalagi setelah melihat Aby menggandengnya dengan mesra.


Menyadari tatapan Vania, Embun perlahan melepas genggaman Aby.


*****

__ADS_1


__ADS_2