
"Ehem ...." Deheman Embun yang baru keluar dari kamar mandi di samping dapur menyadarkan Siska dari lamunan. Wanita itu sempat terpaku selama beberapa saat, menatap pintu kamar di lantai dua yang dapat terlihat dari tempatnya duduk.
"Eh, Embun ...." Ia tergugu mengusap tengkuk leher.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Embun heran.
"Oh, nggak apa-apa. Aku ... cuma suka lihat rumah kamu. Bagus banget menurutku," jawabnya asal. "Oh ya, suami kamu barusan pulang, tapi langsung ke atas."
Embun mengangguk. Itu memang sudah kebiasaan sang suami yang akan langsung menuju kamar. Biasanya Aby akan mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum berangkat lagi ke kantor.
"Sepertinya Mas Aby mau ganti baju. Biasanya begitu." Embun memilih duduk di samping wanita itu. "Ngomong-ngomong kamu tinggal sama siapa? Beberapa hari tinggal di sini, aku baru lihat kamu."
Tadinya, Embun pikir rumah yang berada satu dinding dengannya itu adalah sebuah rumah tak berpenghuni.
"Aku tinggal sendiri. Orang tuaku di luar kota. Aku juga nggak punya saudara di kota ini."
"Oh ...." Embun tak lagi banyak bertanya. Sekarang ia sedang memikirkan cara agar tetangganya itu pulang. Mau menyuruh pulang pun tidak enak. Apa lagi baru tadi pagi mereka berkenalan.
Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara panggilan Aby dari dalam kamar.
"Sayang ... bisa ke sini dulu?"
__ADS_1
"Sebentar!" jawab Embun, lalu menatap Siska. "Aku tinggal sebentar ya, Sis. Sepertinya suamiku lagi kesulitan cari baju."
"Iya, nggak apa-apa."
Embun berharap Siska akan berpamitan pulang. Namun di luar dugaan, wanita itu malah duduk dengan santai di kursi sambil meraih sebuah buku album foto. Membuka lembar demi lembar dengan antusias. Sehingga Embun segera beranjak menuju lantai atas.
"Kenapa, Mas?" tanya Embun sesaat setelah masuk ke kamar. Aby tampak berdiri di depan lemari dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi area pribadinya. Melihat dari rambutnya yang basah, Embun yakin suaminya itu baru saja mandi.
"Kemeja abu-abu aku di mana, ya?"
"Sebentar, aku ambilkan." Embun menjongkokkan badan, lalu meraih selembar kemeja berwarna abu-abu dengan logo May-Day pada bagian dada—yang ia letakkan di lemari bagian bawah bersama pakaian kerja Aby yang lain.
"Tetangga kamu masih ada?" tanya Aby sembari mengenakan pakaian dengan diibantu Embun.
"Oh ... kalian lumayan cepat akrab, ya?"
"Biasa aja, sih."
Setelah memastikan penampilan suaminya sudah rapi, Embun hendak keluar kamar, namun secepat kilat Aby menarik pergelangan tangannya hingga tubuh kecil Embun membentur dada bidang suaminya.
"Mau ke mana sih, buru-buru amat," protes Aby seraya melingkarkan tangan di pinggang.
__ADS_1
"Aku mau keluar. Kamu siap-siap aja dulu."
"Sini dulu, bentar. Naikin imun dikit."
Tanpa aba-aba, Aby sudah membenamkan bibirnya di bibir tipis sang istri. Mengecupnya dalam.
"Imunnya sudah normal. Makasih, Sayang." Ia tertawa nakal sambil mengusap bibir. "Naikin imunnya lanjut malam aja, ya."
Embun terkekeh mendengar ucapan nakal suaminya. Lalu, segera keluar kamar dan kembali ke ruang makan.
"Mau ikut makan siang di sini, nggak?" tawar Embun setelah mendapati Siska belum juga pulang. Ia masih duduk sambil memainkan ponsel.
"Boleh, deh. Kebetulan hari ini aku nggak masak."
Tak lama berselang, Aby tampak menuruni tangga. Siska kembali terpaku memandangi wajah yang tampak sangat segar setelah mandi itu. Namun, raut wajahnya seketika berubah saat penglihatannya yang jeli menangkap noda lipstik di sudut bibir Aby.
"Padahal Embun nggak sampai sepuluh menit di kamar, tapi sempatnya mesra-mesraan," ucapnya dalam hati, lalu berdiri meninggalkan tempat duduknya.
"Embun ... aku pulang dulu, ya. Terima kasih sudah diizinin main ke sini."
"Loh, nggak makan dulu, Sis?" tanya Embun dengan kedua alis saling bertaut. Padahal Siska terlihat sangat senang ketika diajak makan siang bersama.
__ADS_1
Siska hanya tersenyum kecut. "Aku lupa tadi habis pesan makanan lewat Go-food, takut mubazir," ucapnya sambil berlalu pergi.
***