Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Tidak Banyak Menantu Seperti Kamu!


__ADS_3

"Sayang, kita bicara di depan dulu, yuk!"


Aby merangkul bahu Embun dan menuntunnya keluar ruangan. Di depan ia mendudukkan istrinya di sebuah kursi.


Keraguan masih memenuhi hati Aby. Ia takut Oma akan bersikap buruk atau bahkan memarahi Embun. Terlebih, selama ini Oma secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap cucu menantunya itu.


"Sayang, aku tahu maksud kamu baik untuk merawat Oma. Tapi apa kamu yakin?"


"Memangnya kenapa sih, Mas?"


"Kita semua tahulah bagaimana sikap Oma selama ini terhadap kamu. Aku nggak mau kalau nanti kamu malah tertekan sama Oma."


"Oma lagi sakit, Mas. Mana bisa Oma galak-galak dalam kondisi seperti sekarang."


Embun masih kekeuh dengan pendiriannya. Membuat Aby menghembuskan napas panjang. Istrinya itu memang sedikit keras kepala kalau sudah memutuskan sesuatu. Akan susah untuk merubahnya.


"Tapi nanti kamu capek. Aku nggak mau itu mempengaruhi kehamilan kamu. Ingat pesan dokter, jangan melakukan aktivitas berlebihan. Si Buta dari Goa Hantu aja sampai aku liburkan untuk sementara."


Gerutuan panjang dan menekan suaminya itu hanya dibalas Embun dengan tawa kecil. Apalagi jika sudah menyebut monster kecil yang bersemayam di balik celana.


"Aku nggak apa-apa, Mas. Aku akan hati-hati. Lagi pula, aku cuma bantu oma minum, makan atau ganti diapers. Nggak sampai gendong Oma, kan?"

__ADS_1


"Aku tahu. Tapi tetap saja aku nggak bisa tenang kalau kamu sendirian menjaga Oma." Aby pun tak mau kalah dan tetap tak memberi izin. Seolah Oma adalah monster menakutkan yang siap melahap istrinya kapan saja.


"Mas ... oma nggak suka sama aku karena belum mengenalku dengan baik. Mungkin dengan begini pandangan Oma akan berubah tentang aku."


Sebelah tangan Aby terangkat membelai puncak kepala istrinya. Setiap kata yang terucap dari bibir Embun menciptakan rasa hangat di hatinya.


"Ya sudah, kalau kamu tetap mau menjaga Oma."


Tak lama berselang, pintu ruangan itu kembali terbuka dan memunculkan bunda. Wanita paruh baya itu memilih duduk di samping sang menantu.


"Embun, kamu yakin mau jaga Oma, Nak?"


"Yakin, Bunda."


"Susah, Bunda. Mantu Bunda ini keras kepala!" ucapnya setengah bergurau.


Mendengar itu, Embun langsung melayangkan cubitan tipis di pinggang suaminya.


"Awh, sakit tauk, Mbun!"


"Bunda sama Mas Aby jangan khawatir. Aku bisa jaga Oma. Aku akan hati-hati."

__ADS_1


"Bukan begitu, Nak," bujuk Bunda. "Ya sudah kalau kamu mau tetap jaga Oma. Tapi ingat, kalau Oma mulai bicara sembarangan atau memarahi kamu, jangan dengar! Kalau perlu kamu pulang saja. Nanti biar bunda sewa perawat untuk jaga Oma."


"Jangan, Bunda. Kalau sewa perawat nanti Oma akan merasa sendiri. Masa orang lain yang rawat sih, sementara Oma masih punya cucu."


Wanita paruh baya itu memeluk menantunya penuh kasih. Sekarang ia dapat bernapas lega.


"Terim kasih, Nak. Bunda dan ayah memang tidak salah menjadikan kamu menantu. Tidak banyak menantu seperti kamu yang mau merawat orang tua yang sakit. Mita saja yang dibesarkan sama oma menolak merawat oma."


"Biar itu jadi cermin untuk Oma, Bunda. Cucu kesayangannya nggak mau rawat," celetuk Aby.


"Mas!"


Lagi, Embun mencubit pinggang suaminya.


*


*


*


...Halo teman-teman. Label End untuk karya ini sudah aku buka. Artinya sudah mulai lanjut lagi. Yuk berpetualang di dunia Aby....

__ADS_1


...Mohon dukungannya dengan like dan komentar yupsss....


...😊😊...


__ADS_2