
Sepertinya keputusan Embun meminta suaminya menemui Vania adalah sebuah keputusan tepat. Berkat bantuan Aby, Vania dapat diluluhkan. Selain itu, setelah dibujuk Vania setuju untuk menjalani psikoterapi. Lega rasanya perasaaan Embun sekarang. Ia benar-benar berharap Vania bisa segera membaik dan hidup normal seperti gadis seusianya.
Akhir pekan ini dihabiskan Embun dengan membenahi rumah. Ia juga menyempatkan diri belajar memasak dengan berbekal buku panduan resep yang dibelinya beberapa hari lalu. Sekarang wanita itu sedang membersihkan peralatan dapur yang baru saja digunakannya.
"Sayang!"
Embun terlonjak ketika merasakan sepasang tangan tiba-tiba melingkar erat di perut. Hampir saja ia layangkan spons pencuci piring ke wajah suaminya itu. Kedatangan Aby yang tiba-tiba membuat jantungnya seperti akan keluar dari tempat. Namun, senyum mengembang di bibirnya ketika merasakan bibir kenyal suaminya mendarat di pipi.
"Bikin kaget aja," protesnya dengan bibir mengerucut.
"Lagian kamu cuci piring sambil melamun. Memikirkan apa?" Aby menggulung lengan kemeja hingga batas siku. Hal sederhana itu saja mampu membuatnya terlihat lebih keren. Pria itu baru pulang setelah hampir seharian mengawasi proses produksi di pabrik.
"Nggak mikirin apa-apa." Embun membersihkan tangan dari sisa busa sabun, lalu membuka celemek yang membalut bagian depan tubuhnya. Pekerjaannya sudah selesai sekarang.
"Oh, kirain mikirin yang semalam."
Spontan saja pipi Embun jadi merah mengingat aktivitas menguras tenaga semalam. Aby dengan licik berhasil menjebaknya dengan sentuhan yang melenakan. Membuat Embun tak berdaya hingga meminta lebih dulu. Menghela napas panjang, Embun melirik sang suami yang tengah duduk di meja makan.
__ADS_1
"Jangan diingat, aku malu!"
"Kenapa harus malu? Sama suami sendiri juga." Aby masih santai. Meraih potongan udang goreng tepung dan menyuapkan ke mulut. "Emm ... enak," pujinya, seraya menyuapkan satu potong lagi. "Makan dulu, yuk. Terus kita jalan-jalan."
"Jalan-jalan ke mana?"
"Nonton aja gimana?" tawar Aby. Mengingat selama menikah belum pernah nonton bersama. Kebetulan ini malam minggu dan ia ingin memanjakan istrinya. Berkencan layaknya pasangan muda pada umumnya. Pasti akan sangat menyenangkan dan menguntungkan baginya.
"Boleh, deh."
.
.
.
Vania menghela napas panjang. Kini, ia merasakan kekosongan di hatinya. Aby, seseorang yang dulu selalu ada untuknya sekarang sudah memiliki kehidupan sendiri dan berbahagia.
__ADS_1
Hingga tak lama berselang, ponsel berdering tanda panggilan masuk. Tampak nama mami tertera pada layar. Vania dapat menebak sang mami sedang panik mencari dirinya.
"Iya, Mi," ucap Vania sesaat setelah panggilan terhubung.
"Kamu di mana, Nak? Kenapa pergi dari rumah sendirian?" Suara mami terdengar sangat panik.
"Aku nggak apa-apa, Mi. Cuma mau jalan-jalan sebentar. Nanti aku pulang." Vania mencoba menenangkan sang mami.
"Tapi kamu sendirian di luar, Nak. Itu tidak aman untuk kamu. Kalau mau jalan-jalan mami akan temani. Kamu di mana sekarang?"
"Nggak usah, Mi. Aku mau jalan-jalan sendiri. Jangan khawatir, aku bisa jaga diri."
"Tapi, Vania—"
Wanita muda itu memutus panggilan. Vania menonaktifkan ponsel dan kembali menikmati udara malam seorang diri. Jika saja boleh, ia ingin melupakan semua dan memulai hidup yang baru dengan orang-orang baru. Namun, siapa yang mau memulai dengannya? Akankah Tuhan mengirim seseorang untuknya?
"Vania? Sedang apa kamu sendirian di sini?" Lamunan Vania membuyar saat Indra pendengaran menangkap suara yang terdengar cukup familiar.
__ADS_1
Ia mendongakkan kepala demi menatap sosok berwajah rupawan yang sedang tersenyum ke arahnya.
***