
Seharian ini dihabiskan Embun seorang diri di kamar hotel hingga menjelang sore. Yang ia lakukan hanya menonton TV atau membuka sosial media. Menunggu suaminya yang sedang mengunjungi pabrik pengolahan bahan baku milik perusahaan tempatnya bekerja.
Sepertinya Aby sangat sibuk seharian ini. Tidak menjawab telepon dan tidak pula membaca pesan yang dikirim Embun.
Wanita itu lantas merebahkan tubuhnya pada sebuah sofa empuk, setelah menyantap hidangan makan siang yang tadi dipesannya di restoran hotel. Sekarang ia sedikit mengantuk. Namun, baru saja matanya terpejam sudah terdengar suara bel yang menandai adanya seseorang di luar sana.
Sudut mata Embun berkerut saat melihat Reno melalui layar monitor, tengah berdiri tepat di ambang pintu. Ia segera membuka pintu setengah dan hanya menyisakan celah untuk tubuh rampingnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Embun, tanpa mempersilahkan Reno masuk.
Pria itu tersenyum ramah, berdiri kokoh dengan tangan saling bertaut di balik punggung. "Maaf kalau aku ganggu. Kamu sibuk, nggak?"
"Nggak. Memang kenapa?" Embun masih bersikap acuh tak acuh.
"Kalau nggak keberatan, ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan kamu. Ini tentang Mega," ucapnya masih dengan keramahan yang sama. "Di bawah ada restoran. Apa kamu punya waktu?"
Embun terdiam. Sebelum berangkat tadi, Aby sudah berpesan agar tidak kemana-mana sendirian. Tentunya, Embun tidak akan berani keluar tanpa suaminya.
"Maaf, Kak. Mas Aby belum pulang. Kalau ada hal penting yang mau dibicarakan, nanti saja kalau Mas Aby sudah datang."
__ADS_1
"Tapi ini urusannya sama kamu, Embun." Reno tampak bersikeras.
"Dan urusan yang menyangkut aku adalah urusan suamiku. Maaf, aku tutup, ya."
Tanpa banyak kata, Embun merapatkan pintu, membuat Reno mematung di tempatnya berdiri.
Sementara Embun kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Memikirkan nasib Mega yang sekarang sedang menjalani hukuman.
.
.
.
Segera saja ia menghampiri Reno dan duduk di hadapannya.
"Maaf lama menunggu."
"Nggak apa-apa, By. Maaf ganggu waktu kamu."
__ADS_1
Keduanya duduk beberapa saat dalam diam. Aby dapat menebak apa yang membuat Reno meminta bertemu. Dan tentunya ini semua tentang adiknya, Mega, yang kini mendekam di balik jeruji besi karena kejahatan serius yang dilakukannya.
"Apa nggak ada keringanan untuk Mega, By. Aku tahu Mega sudah keterlaluan. Tapi kasihan, dia masih terlalu muda untuk dihukum selama itu."
Aby mendesahkan napas panjang. Benar dugaannya. "Maaf, Ren. Tapi kejahatan adik kamu itu sudah sangat serius. Ini menyangkut nyawa istriku. Tiga kali dia berusaha mencelakai Embun dengan cara yang kejam."
Reno menundukkan kepala malu. Seperti kehilangan muka di hadapan Aby untuk memohon demi adiknya.
"Aku tahu, By. Aku sangat sadar itu. Tapi—" Belum selesai ucapan Reno, sudah dipotong lebih dulu oleh Aby.
"Gini aja, coba kamu balik. Kalau misalnya Embun yang berusaha mencelakai Mega dengan cara yang sama, apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan memaafkan begitu saja?"
Pertanyaan itu kembali membungkam Reno. Ia sadar tidak semudah itu untuk melupakan perbuatan Mega.
"Aku rasa kamu tidak akan memaafkan siapapun yang berusaha mencelakai adik kamu. Begitu juga aku. Apa lagi Embun istriku, segala sesuatu yang terjadi kepada dia adalah tanggung jawabku."
Aby melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjuk ke angka tujuh dan Embun sedang sendirian di kamar hotel.
.
__ADS_1
.
.