Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 55 : Apa Sudah Boleh?


__ADS_3

Beberapa hari kemudian .... 


Galang baru saja selesai memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Semua persiapan telah selesai.  Hari ini ia akan berangkat ke Korea. Bunda masuk dan duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat murung. 


"Bunda kenapa wajahnya sedih begitu?" Galang meletakkan koper di depan pintu dan duduk di sisi bundanya. 


"Nggak apa-apa. Bunda cuma kepikiran kamu yang akan sendirian di sana." 


Galang memulas senyum. Melalui senyum itu ia ingin meyakinkan sang bunda bahwa dirinya akan baik-baik saja. 


"Nggak usah khawatir, Bunda. Lagi pula aku nggak sendirian di sana. Ada teman-teman juga, kok. Nanti aku kembali ke sini bawa mantu orang Korea buat Bunda," kelakarnya mencoba menghibur. 


Bunda mencubit lengan putranya itu. Membuat Galang pura-pura kesakitan. Kemudian menyeka lelehan air mata yang mengalir di pipi bundanya. 


"Pokoknya kamu nggak boleh pacaran sama sembarangan orang yang nggak jelas dan hindari pergaulan bebas." 


Galang terkekeh. "Siap, Bunda. Nanti aku kirim skincare dari Korea buat Bunda, deh." 


Akhirnya tawa bunda pecah. Ia memeluk putra sulungnya itu. Mereka kemudian beranjak menuju lantai bawah. Aby dan ayah sudah ada di depan, sementara Embun masih berada di ruang tengah. 


Galang menatap wanita yang sekarang menjadi adik iparnya itu, lalu melepas genggaman tangan bunda. 


"Bunda, apa aku boleh bicara sebentar dengan Embun? Aku mau minta maaf sama dia." 


Bunda mengangguk sebagai jawaban, lalu keluar lebih dulu. Sementara Galang menghampiri Embun. 


"Sebelum pergi, aku mau minta maaf untuk semua kesalahanku. Aku benar-benar menyesali malam kecelakaan itu." 


Galang masih ingat malam kejadian saat dirinya tidak sengaja menabrak papa Embun. Hingga terluka parah dan akhirnya menghembuskan napas terakhir, setelah dirawat berminggu-minggu di rumah sakit. Karena kejadian itu pula yang mengenalkan Embun dengan Galang sehingga terjadi perjodohan di antara  mereka. 


"Aku sudah ikhlas, Mas. Papa sudah istirahat dengan tenang." 


Galang memulas senyum. 


"Terima kasih, Embun. Aku berharap kamu dan Aby selalu bahagia." 


.


.


.

__ADS_1


Galang baru saja tiba di bandara dengan diantar ayah, bunda bersama Aby dan Embun. Galang meletakkan kopernya di lantai, kemudian berpamitan. Ia memeluk adiknya sambil menepuk punggung. 


"Hati-hati di jalan, Kak," ucap Aby.


"Makasih, By. Aku sangat berharap kalau balik nanti kamu sudah ada anak." 


Aby terkekeh, lalu kembali memeluk kakaknya. "Baru juga mau usaha." 


Galang melepas pelukan, lalu menatap Bunda, ayah dan Embun. "Aku pergi ya. Kalian semua sehat selalu." 


"Kamu juga, Nak," balas ayah dan bunda. 


Setelahnya,  Galang menyeret kopernya menuju pintu masuk. Ia masih sempat melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu kaca. 


*** 


Sementara itu kantor polisi 


Vania terduduk sambil memeluk lutut di sudut ruangan kecil seorang diri. Sejak ditahan beberapa hari lalu, ia tak banyak bicara dan lebih banyak melamun. Vania juga menolak siapapun yang ingin bertemu dengannya. 


Bahkan saat diminta keterangan oleh pihak kepolisian, ia lebih banyak diam. Kalau pun memberi keterangan, sering kali berubah-ubah. Dan hal itu membuat pihak kepolisian bingung. 


"Vania ...." panggilnya lembut.


"Mami mau apa ke sini lagi?" tanya Vania, masih enggan menatap sang mami. 


Mami membelai puncak kepala putrinya. Namun, Vania masih terdiam dengan tatapan kosong. 


"Kamu tenang aja, Sayang. Mami sama Papi pasti keluarkan kamu dari sini. Kamu bisa sabar sedikit lagi, kan?" 


"Untuk apa pulang? Aku suka tempat ini. Di sini nggak ada yang ganggu aku, Mi." 


Jawaban Vania membuat air mata mami semakin deras mengalir. Ia memeluk putrinya erat. Namun, tak ada reaksi apapun dari Vania.


Sejak putus dari Aby, Vania memang jadi kurang bisa mengontrol emosinya. Kadang marah, sedih, melamun, bahkan menangis. Mami kerap mendapat laporan dari Mbok Siti perihal Vania.


"Sayang ... setelah keluar dari sini, kamu lupakan Aby. Di luar sana banyak laki-laki yang lebih baik dari Aby." 


Tetapi Vania malah mendorong sang mami hingga tubuhnya mundur ke belakang. Kemudian kembali duduk dengan memeluk lutut. 


"Aku sayang sama Aby, Mi. Dia penyayang, perhatian, dan selalu menuruti apa yang kuminta. Nggak kayak Mami sama Papi yang lebih suka kerja." Vania melamun sambil menggigiti kuku-kukunya. 

__ADS_1


"Tapi kalau kamu memang sayang sama Aby, kenapa kamu harus nekat mau mencelakai Aby dan Embun?" 


Vania menatap maminya. Kemudian kembali menatap lantai dengan tatapan kosong. "Aku nggak mau Aby celaka. Aku memang habis dorong Embun di kelas. Tapi dia udah maafin aku, Mi." 


"Tapi kamu mau tabrak dia dengan mobil kamu. Ada rekaman CCTVnya, Van." Di tengah tangis, kesabaran wanita itu sedikit berkurang. Membuat sang suami mengusap bahunya. 


"Sabar, Mi. Jangan tekan Vania, dia bisa tambah depresi." 


Vania tak mengindahkan ucapan maminya, malah menyandarkan punggungnya pada dinding. Kembali melamun. 


.


.


.


Sehari setelah mengantarkan Galang ke bandara, sekarang giliran Aby dan Embun yang tiba di rumah baru mereka. Embun menatap takjub kala memasuki rumah yang sudah dalam keadaan sangat bersih. Lantai mengkilat, tak sedikit pun terlihat debu di sana.


"Wah rumahnya sudah bersih. Kemarin masih sedikit berantakan," ucap Embun penuh semangat. 


"Aku sudah minta orang bersihkan. Jadi saat kita masuk tidak perlu repot lagi." Aby menyeret dua buah koper besar memasuki rumah dan meletakkan di dekat sofa ruang tamu. 


Aby merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Beberapa hari ini waktunya tersita oleh peluncuran produk baru di perusahaan tempatnya bekerja.


Sofa panjang dan empuk menjadi pilihannya untuk merebahkan tubuh lelahnya. Kemudian menutup mata dengan menggunakan sebelah lengannya. 


Sementara Embun merapikan beberapa foto yang menghiasi lemari Buffett. Ketika berbalik, ia tertegun menatap suaminya yang sudah terlelap. Wajah tampan yang terlihat sangat lelah, dengan rambut sedikit berantakan. Tetapi anehnya, justru terlihat sangat s3xy di mata Embun. Belum lagi proporsi tubuh Aby yang nyaris sempurna. 


Embun masih tertegun memandangi setengah wajah suaminya yang tidak tertutup lengan. Ketika tiba-tiba merasakan tubuhnya ditarik kuat hingga jatuh tepat di atas dada bidang suaminya itu.


Dengan gerakan super cepat, Aby sudah merubah posisi hingga keduanya terbaring saling berhadapan dengan berbagi sofa yang sempit.


"Mas, kamu ...." Embun menatap suaminya yang tengah terpejam. Hanya tangan kekarnya yang memeluk erat hingga dua tubuh itu benar-benar menempel. 


Perlahan, Aby membuka mata. Embun kembali terpaku menyadari betapa tampan suaminya itu. Jantungnya terasa terpompa lebih cepat. 


Sudut bibir Aby terangkat membentuk senyum tipis. Tatapannya hangat dan lembut. Lalu berbisik,


"Sayang ... apa gerbangnya sudah bisa dibuka?" 


...*****...

__ADS_1


__ADS_2