Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 42 : DEAR EMBUN ....


__ADS_3

Untuk sesaat, waktu terasa berhenti bagi Embun. Ia merasakan getaran yang begitu kuat menyergap tubuhnya. Pemandangan mengerikan yang baru saja terjadi di depan mata membuatnya seperti kehilangan akal sehat. 


Rasa sakit dari tubuhnya yang membentur trotoar seolah tak berarti lagi. Detik itu juga ia bangkit dan berlari sekuat tenaga menuju suaminya, yang tengah terbaring tak berdaya di sisi jalan.


Sementara sebuah mobil yang telah menghantam tubuh Aby sudah melesat jauh menerobos keramaian jalan. Sedan mewah tersebut sempat menabrak trotoar, sebelum melakukan aksi tabrak larinya.


Embun meraih tubuh sang suami yang masih setengah sadar. Memeluknya dalam ketakutan bercampur tangis. Tubuh Aby berlumur cairan merah dengan beberapa luka. Ia terdengar beberapa kali melenguh, seolah sedang menahan rasa sakit yang teramat.


Suasana sekitar pun mendadak terasa mencekam. Orang-orang yang berada di sekitar kejadian berkerumun. 


"Mas Aby!" lirih Embun, mengusap wajah suaminya. Dalam kepanikan, ia memindai orang-orang yang berkerumun. "Tolong suami saya!" teriaknya sekuat tenaga.


Suasana semakin panik, ada yang hanya saling melirik sambil berbisik satu sama lain, ada yang sudah berjongkok di sisi Embun sambil meneliti tubuh Aby, dan ada pula yang terlihat sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya. Mungkin sedang menghubungi ambulance.


"Embun ...," lirih Aby, dengan sisa-sisa kesadaran. Tangannya yang lemah terangkat membelai wajah istrinya. Tatapannya mulai terlihat nanar. "Ka-mu ti-dak apa-apa, kan?" Suaranya nyaris tak terdengar saking lemahnya. 


"Kamu harus bertahan, Mas. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit." Embun hanya dapat memeluk sang suami dan menangis sejadi-jadinya. 


"Embun ...." Aby memanggil sekali lagi. "Maafin aku. Aku ... banyak salah sama kamu," ucap Aby dengan suara terputus-putus. Seiring dengan kesadarannya yang mulai menurun. 


Embun tak kuasa menjawab. Yang dapat ia lakukan hanya lah memeluk tubuh itu. Ketakutan dalam dirinya kian menjadi-jadi saat Aby terlihat kesulitan meraup udara. Dan, detik itu juga, sepasang matanya mulai terpejam.


Ia tak sadarkan diri lagi. 


Isak tangis kembali terdengar. Beberapa kali Embun histeris meneriakkan nama suaminya. 


...***...


Mobil berwarna putih dengan plat merah itu melesat di keramaian jalan. Suara sirine menggema turut mengiringi. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Embun menggenggam tangan suaminya. Sesekali terdengar memanggil nama diiringi isak tangis pilu. 


"Bangun, Mas!" Embun mengguncang pelan dada suaminya. 


Namun, tak ada respon apapun dari Aby.


Hanya dalam beberapa menit, mobil memasuki halaman rumah sakit. Beberapa pria dan wanita berpakaian putih dengan sigap membantu. Mendorong brankar pasien dengan tergesa-gesa memasuki Instalasi Gawat Darurat. 


Embun terduduk lemas di depan ruangan berpintu kaca itu. Pikirannya seperti kosong. Menatap beberapa pria dan wanita keluar dan masuk secara bergantian ke dalam ruangan. Di saat yang bersamaan, Embun seperti kehilangan akal sehatnya. Ia tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Embun masih terduduk dengan tatapan kosong saat mendengar suara langkah kaki saling berkejaran. Wanita itu perlahan menoleh. Di ujung lorong tampak ayah, bunda dan juga Galang berjalan dengan tergesa-gesa dan raut wajah panik. 


"Embun, bagaimana keadaan Aby?" tanya Bunda. 


Belum mendapat jawaban dari Embun saja, wanita itu sudah terisak-isak memikirkan putra bungsunya yang tengah mendapat penanganan dari dokter. 


"Bilang sama bunda, Embun ... Aby baik-baik saja, kan?" 


Pertanyaan itu seperti menggores sembilu di hati Embun. Dirinya pun tak tahu bagaimana kondisi suaminya saat ini. Ia hanya berharap Aby tidak terluka parah. 


Sepuluh menit ... 


Tiga puluh menit ....


Satu jam .... 


Bahkan tiga jam telah berlalu. Pintu kaca itu akhirnya terbuka, memunculkan seorang pria dengan jas putih. Serentak bunda, Ayah, Galang dan Embun berdiri. 


"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" tanya ayah. Menatap seolah menuntut sebuah jawaban.


Kelopak mata Embun terpejam seiring dengan air mata yang menetes. Kejadian barusan benar-benar seperti pukulan baginya. 


"Tolong anak saya, Dokter," lirih bunda terisak-isak.


"Insyaa Allah, Bu. Kami akan memberikan yang terbaik. Tapi, doa keluarga juga sangat dibutuhkan."


Setelah sang dokter beranjak, bunda duduk di sisi menantunya. Saling berpelukan untuk saling menguatkan. Galang duduk berjongkok di hadapan bundanya.


"Ayah sama bunda jangan khawatir. Aby pasti akan baik-baik saja," ucap Galang berusaha menguatkan. 


...*****...


Beberapa saat berlalu. Aby baru saja dipindahkan ke ruang ICU. 


Suasana sudah sedikit lebih tenang. Ayah, bunda dan Galang duduk di kursi ruang tunggu. Sementara Embun berdiri di depan jendela kaca. Dengan tatapan mengarah kepada suaminya, yang kini terbaring tak berdaya. Dengan sejumlah peralatan medis yang melekat di tubuhnya. Perlahan tangis Embun mereda, menyisakan suara sesegukan. 


Tak berselang lama, seorang perawat terlihat keluar dari ruangan itu dengan pakaian steril. Belum ada yang diizinkan memasuki ruangan itu. 

__ADS_1


"Keluarga pasien yang mana?" tanyanya. 


Embun langsung menatap sang perawat. "Saya istrinya, Sus." 


Wanita itu memulas senyum tipis. "Sepertinya ini milik pasien. Kami temukan di dalam saku kemeja." Ia menyerahkan sebuah amplop putih dan juga sebuah kotak kecil menyerupai kotak perhiasan. 


"Terima kasih, Suster." 


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau butuh apa-apa, saya ada di ruangan sebelah sana." Ia menunjuk sebuah loket tak jauh dari tempat Embun berada sekarang. 


Embun hanya menyahut dengan anggukan kepala. Ia menatap benda di tangannya dengan tangan gemetar. Bola matanya kembali melelehkan cairan bening, saat membuka kotak kecil itu dan menemukan sebuah cincin. Ada pula tulisan tangan Aby yang tertera pada kertas putih.


Embun terduduk di kursi. Tatapannya kosong. Butuh waktu beberapa menit untuk membuka kertas putih dengan beberapa bercak merah itu. 


Dear Embun .... 


Aku minta maaf. Aku tidak pernah menjalankan kewajibanku sebagai suami sejak awal kita menikah. 


Aku selalu merasa menjadi korban. Melupakan kamu sebagai orang yang paling terluka dengan keadaan ini. 


Aku tahu perbuatanku adalah sebuah kesalahan yang tidak termaafkan. Dan bodohnya, aku baru menyadari semuanya. 


Seandainya saja, waktu bisa diulang, tidak akan ada pengkhianatan di malam pertama pernikahan kita. Jujur, aku sangat menyesal. 


Sampai rasanya tidak layak untuk meminta maaf kepada kamu, atau sekedar meminta kamu kembali. 


Tapi, walaupun begitu, aku tetap berharap akan ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya. Membayar semua kesalahanku dengan menghabiskan seluruh sisa waktu yang kupunya untuk kamu. 


Aku sadar, mungkin belum ada cinta di antara kita. Biarkan semuanya berjalan bersama waktu. Aku percaya, cinta akan tumbuh karena terbiasa. 


Embun ... maukah kamu menikah lagi denganku? 


_____ 


Embun memeluk secarik kertas putih itu di dadanya. Isak tangis kembali terdengar. 


............

__ADS_1


__ADS_2