Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Apa Kamu Pernah Menyesal?


__ADS_3

“Kamu kenapa, Mas?” Karena larut dalam lamunan, Aby sampai tidak sadar bahwa Embun sudah duduk di sampingnya.


“Nggak apa-apa, Sayang. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu.”


Embun menatap wajah suaminya yang terlihat suram. Padahal sebelum berangkat ke hotel tadi, Aby terlihat baik-baik saja. Sekarang suaminya itu tampak penuh beban.


“Memikirkan apa?”


Menghembuskan napas panjang, Aby menggenggam tangan istrinya. Sebelah tangannya mengulur membelai puncak kepala.


“Mikirin kamu. Aku minta maaf, ya.”


“Minta maaf kenapa, sih? Memang kamu punya salah apa?” Kerutan di dahi Embun semakin terlihat jelas.


“Apa kamu pernah menyesal menikah sama aku?” Bukannya menjawab, Aby malah membalas dengan pertanyaan lain.


Mulut Embun terbuka lebar mendengar pertanyaan aneh suaminya. “Kamu bicara apa sih, Mas? Kenapa aku harus menyesal?”


"Aku sedang merasa tidak cukup baik untuk kamu. Seandainya saja waktu itu ...."


Meskipun kebingungan dengan tingkah aneh Aby, namun Embun berusaha untuk memahami. Ia yang begitu peka langsung paham ke mana arah pembicaraan Aby.


“Mas, kamu suamiku. Dan siapapun kamu, aku akan tetap mencintaimu.”


Aby merasa seperti akan melayang di udara. Sebab ini adalah pertama kali Embun mengungkapkan cinta kepadanya.


“Kamu serius?”

__ADS_1


“Memangnya kamu butuh berapa rius?”


Ucapan konyol Embun menciptakan tawa kecil di bibir Aby. Ia menarik tubuh wanita itu dan memeluknya erat. Ciuman manis ia labuhkan bertubi-tubi.


“Makasih, Sayang. Maafin aku karena pernah menyakiti kamu di malam pertama pernikahan kita. Kedepannya aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik untuk kamu.”


Keduanya saling memeluk dan mengungkapkan cinta. Aby hendak membaringkan Embun, namun tiba-tiba ....


“Aduh!” Embun meringis sambil menyentuh perut.


“Kamu kenapa?”


“Nggak tahu, Mas. Perutku tiba-tiba sakit.”


Mendengar kata sakit perut membuat Aby langsung panik. Refleks merubah posisi yang semula duduk di tempat tidur.


“Kan bisa maju bisa mundur, Mas!”


“Aduh, gimana ini? Sakitnya dari kapan, sih?”


“Sebenarnya dari tadi sore. Tapi nggak sakit banget. Ini baru terasa sakitnya, Mas.”


Aby semakin panik.


“Ya sudah, tunggu sebentar, aku panggil mama dulu.”


Lelaki itu langsung menuju lantai bawah untuk meminta pertolongan kepada Mama Rima. Ia mengetuk pintu dengan sedikit keras, hingga mengejutkan sang mama.

__ADS_1


“Kamu kenapa, By?” tanya Mama Rima, sesaat setelah membuka pintu.


“Embun, Mah! Embun sakit perut! Mungkin mau lahiran.”


Kala Aby terlihat sangat panik, Mama Rima malah terkekeh setelah melihat wajah menantunya yang sedikit pucat.


Bagi orang seusia Mama Rima yang sudah berpengalaman, proses persalinan sudah menjadi hal biasa. Berbeda dengan Aby yang merupakan pengalaman pertama.


“Kamu tenang, By. Jangan panik. Ayo, kita lihat Embun dulu.”


Keduanya lantas menuju lantai atas. Embun masih duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap perut.


"Perut kamu sakit, Nak?" tanya Mama Rima.


"Nggak lagi, Mah."


"Loh katanya tadi sakit," ucap Aby. Langsung duduk di sisi istrinya.


"Sakitnya kadang datang kadang hilang, Mas. Lima menit lalu sakit. Ini hilang lagi."


"Kok bisa begitu?" Aby menatap dengan sedikit heran. Sesekali ikut mengusap perut istrinya.


"Aduh, ini sakit lagi," ringis Embun. Kedua alis Embun saling bertaut. Tangannya meremas ujung tempat tidur.


"Ini mau lahiran apa kreditan, sih? Kok sakitnya dicicil-cicil?"


...****...

__ADS_1


__ADS_2