Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 61 : Tidak Akan Membuatnya Lagi


__ADS_3

Setelah memastikan tidak ada luka serius di tubuh istrinya, Aby membawa Embun meninggalkan rumah sakit. Kejadian tadi membuatnya khawatir dan ketakutan berlebihan. Apalagi setelah melihat cairan merah yang mengalir dari leher istrinya. Beruntung, Mega tidak menggores belati dengan dalam dan hanya melukai permukaan kulit, sehingga tidak perlu mendapat jahitan. 


Mereka lantas menuju kantor polisi. Tadi, Dewa dan petugas keamanan kampus langsung menyeret Mega ke kantor polisi. Selain itu, Embun juga harus memberi kesaksian sebagai korban. Wanita itu tidak pernah menyangka, bahwa Mega yang pernah cukup dekat dengannya ternyata menginginkan Aby dan tega menjadikan Vania sebagai tumbal atas kejahatannya.


Cukup lama waktu yang mereka habiskan di kantor polisi. Karena bukan hanya Mega yang diberondong ratusan pertanyaan. Embun pun begitu. Namun, setelah itu Embun diizinkan pulang, sementara Mega akan tetap ditahan untuk sementara. 


"Terima kasih untuk bantuan kamu hari ini. Aku tidak tahu harus bagaimana membalasnya," ucap Aby kepada Dewa, sesaat setelah keluar dari kantor polisi. Kini, mereka sudah berada di parkiran.


"Sama-sama, aku senang bisa membantu." 


Aby menatap lekat rekan sekantornya itu. Masih ada beberapa pertanyaan yang memenuhi benaknya tentang hubungan Mega dan Dewa. Aby masih ingat tadi saat bertemu di parkiran kampus, Dewa sempat berkata sedang ada janji dengan Mega. 


"Boleh aku tanya sesuatu yang agak pribadi?" tanya Aby ragu-ragu. 


"Soal apa?" 


"Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan Mega?" 


Dewa terkekeh mendengar pertanyaan itu. Memang ada beberapa orang yang sempat mengira ada kedekatan khusus antara mereka. Beberapa orang juga mungkin mengira Mega menyukai Dewa, bukan Aby.


 "Tidak ada hubungan apa-apa sebenarnya. Dia cuma beberapa kali membahas tentang kamu, Vania dan Embun. Tadinya aku pikir dia prihatin karena dia adalah temannya Embun. Tapi ternyata ada maksud lain." Dewa menepuk bahu Aby. "Kamu harus lebih hati-hati kedepannya." 


Aby mengangguk. Setelah kejadian hari ini, ia akan lebih berhati-hati, terutama jika menyangkut istrinya.


"Sekali lagi terima kasih."

__ADS_1


***


"Malam ini kita nginap di rumah mama aja, ya," usul Aby, sambil sesekali melirik istrinya. Ia menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan kantor polisi. 


"Memang kenapa kalau di rumah kita?" 


Sebenarnya Embun ingin menginap di rumah mereka sendiri. Jika di rumah mama ataupun mertuanya, mereka mungkin akan khawatir melihat keadaannya sekarang yang terlihat cukup kacau. Pakaiannya kotor dan rambutnya sedikit berantakan. Belum lagi bercak darah yang menempel pada pakaian. 


"Memang kamu nggak apa-apa kalau cuma kita berdua?" Aby pikir, Embun mungkin masih menyimpan ketakutan karena kejadian tadi. Sehingga ke rumah mama adalah pilihan terbaik untuk saat ini. 


"Nggak apa-apa. Kalau ke rumah mama, aku takut mama akan kepikiran. Lagi pula pelaku sebenarnya sudah tertangkap."


Aby mengangguk pasrah, lalu menarik sang istri untuk bersandar di bahunya. Setibanya di rumah, Aby menggendong istrinya memasuki kamar, meskipun beberapa kali Embun menolak karena masih sanggup untuk berjalan sendiri. 


"Sebentar, aku siapkan air hangat dulu." 


.


.


.


Sudah larut malam, namun Embun belum juga dapat memejamkan mata. Kejadian beberapa jam lalu masih membekas dalam ingatan. Ia membenarkan posisi dan melingkarkan tangan kepada tubuh yang sejak tadi memeluknya. 


"Kenapa belum tidur?" tanya Aby saat merasakan pergerakan istrinya. 

__ADS_1


"Aku sedang memikirkan Vania." 


Kelopak mata Aby yang terpejam refleks terbuka mendengar nama yang disebutkan istrinya. "Kenapa dengan dia?" 


"Aku kasihan melihat keadaan dia sekarang. Vania akan dibebaskan dari tahanan, kan? Vania kan tidak salah." Ia menatap suaminya penuh harap. Bagaimana pun juga, Embun akan merasa bersalah jika Vania harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. 


"Kamu tenang saja, kalau terbukti tidak bersalah, pasti akan segera dibebaskan." Aby membenamkan ciuman singkat di kening. "Sekarang tidur, yuk! Sudah larut." 


"Aku belum bisa tidur," keluh Embun, yang sejak tadi sudah berusaha memejamkan mata, namun tetap tidak bisa.


"Kenapa? Mau dibantu supaya bisa tidur?"


"Bagaimana?" Embun menatap suaminya, membuat Aby mengedipkan sebelah mata.


"Melakukan yang kayak semalam. Habis itu kamu pasti ngantuk." Jawaban Aby pun membuat Embun tersipu. Dalam keadaan seperti ini saja, Aby masih memikirkan urusan ranjang.


Menatap istrinya dalam. Jarinya mengusap bekas sayatan di leher. Rasa bersalah tiba-tiba menghantui. Jika saja tidak membuat ki$smark di leher, mungkin Mega tidak akan kalap dan melampiaskan amarahnya terhadap Embun. 


"Aku minta maaf, karena ulahku memberi tanda di leher, kamu harus berurusan dengan orang seperti Mega." 


Embun hanya menjawab dengan anggukan kepala. Membuat Aby meraup bibirnya, lalu berbisik,  


"Tapi kamu tenang saja, lain kali aku tidak akan membuatnya di tempat yang mudah terlihat." 


Semakin merona saja pipi Embun mendengar kalimat vulg@r dari mulut suaminya. Tanpa dapat dikendalikan, wanita itu sedang memikirkan tempat tidak terlihat yang dimaksud Aby.

__ADS_1


"Cuma ngebahas gituan aja si Johntravolta udah tegang, padahal belum diapa-apain," ucap Aby dalam hati.


............


__ADS_2