
"Bu, Aby sama Embun kan baru hampir setahun menikah. Banyak kok pasangan yang bertahun-tahun menikah belum punya anak. Lagi pula Embun sama Aby masih muda." Perkataan panjang lebar dari bunda itu membuat Oma mendes@h panjang. Ia tampak tidak begitu senang dengan menantunya yang terkesan membela Embun.
"Itu untuk pasangan yang sehat," potong Oma cepat, lalu melirik cucu menantunya. "Tapi Embun kan ada riwayat kista. Ibu tidak yakin dia bisa memberikan penerus untuk keluarga kita."
"Cukup, Oma!" Hampir saja Aby membentak sang Oma.
Hati Embun seperti tersayat mendengar kalimat menyakitkan yang terlontar begitu saja. Ia menundukkan kepala demi menyembunyikan genangan kristal bening yang memenuhi bola matanya. Perasaan bersalah dan malu menyergap ke hatinya. Ada sedikit tanda tanya bagaimana Oma tahu tentang hal itu. Padahal hanya beberapa orang saja di keluarga suaminya yang tahu, termasuk ayah dan bunda.
"Punya kista bukan berarti tidak bisa punya anak, Bu. Sekarang kedokteran sudah canggih. Banyak metode pengobatan yang bisa diusahakan," tambah bunda. Wanita itu merasa bersalah dengan sikap Oma yang seakan tak memerdulikan perasaan Embun.
Perdebatan di meja makan pun menciptakan suasana canggung. Embun tidak tahan. Hawa panas terasa merambat ke seluruh tubuh. Untuk sekedar tersenyum saja sudah tidak dapat dilakukannya.
Jika saja tidak sedang berada di tengah keluarga besar, mungkin dia sudah memberontak. Tetapi, Embun sama sekali tidak ingin menjadi penyebab permasalahan, sehingga memilih untuk diam.
Melihat ekspresi istrinya, Aby hanya dapat menggenggam tangannya. Pembicaraan tentang anak memang adalah hal sensitif bagi Embun.
"Maaf, Bunda, Ayah, Oma ... aku permisi mau ke kamar duluan." Tanpa menunggu lagi, Embun berlalu begitu saja.
"Sayang, tunggu!" Aby bangkit dan menyusul langkah istrinya yang setengah berlari menuju tangga.
Begitu memasuki kamar, Embun langsung masuk ke kamar mandi. Menabrakkan tubuhnya pada wastafel dan memuntahkan seisi perut.
Kejadian di meja makan membuat dadanya sesak dan berakhir dengan mual. Aby yang berdiri di belakang Embun hanya memijat leher belakang istrinya. Sekarang ia benar-benar kesal dengan Omanya.
*
__ADS_1
*
*
"Oma nggak usah didengar. Anggap aja angin lalu." Aby mendudukkan istrinya di sofa setelah keduanya berganti pakaian dan siap-siap untuk tidur.
Embun masih tampak lemas setelah memuntahkan isi perut di kamar mandi. Seperti biasa wajahnya akan pucat setelah muntah.
"Oma memang nggak suka sama aku dari awal, Mas," ucap Embun.
Tiba-tiba ia teringat hari pernikahannya dengan Aby. Oma sempat menyindir dirinya dengan kalimat yang bagi Embun cukup kasar. Memanfaatkan keadaan untuk bisa masuk ke keluarga itu.
"Nggak usah didengar," bujuk Aby, masih berusaha menenangkan istrinya. "Kamu mau pulang sekarang?"
"Ya udah, kamu baring, ya. Biar aku pijat."
Anggukan kepala yang diberikan Embun membuat Aby langsung menggiring istrinya ke tempat tidur. Begitu lembut ia memijat jengkal demi jengkal tubuh istrinya, hingga Embun merasa sangat nyaman dan membaik. Tenaganya yang sempat hilang kembali lagi.
"Makasih, Sayang." Hati Aby melambung mendengar panggilan itu. Ini adalah pertama kali Embun menyematkan panggilan sayang untuknya.
"Enak kan?" tanya Aby, dengan tangan masih bergerak memberi pijatan di lengan dan bahu.
"Enak."
"Mau lebih enak lagi?" Tangan Aby sudah menyusup di balik piyama yang digunakan Embun. Memijat lembut benda apa saja yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Tapi ...." Embun menahan tangan Aby yang hendak melucuti pakaiannya.
"Kangen sama kamu. Sudah berapa hari ulat khatulistiwa libur."
Ingin sekali Embun menjambak suaminya yang kadang memberi istilah aneh itu. Tetapi saat itu juga ia membeku, karena Aby telah membungkamnya dengan ciuman. Tak dipungkiri, Embun pun sangat merindukan aktivitas hangat bersama suaminya itu.
Sentuhan lembut Aby membuatnya terbuai. Ia takluk dan membalas pagutan suaminya. Suara lenguhan pun memenuhi seisi kamar ketika dia tubuh itu menyatu. Jika biasanya Aby begitu buas, malam ini ia sangat lembut memperlakukan Embun.
Pergumulan malam itu berakhir dengan ciuman dalam yang dibenamkan Aby di kening. Keduanya terkulai dengan dada kembang kempis demi meraup oksigen.
Embun merasa sangat damai. Pelukan hangat Aby seperti penawar, menghilangkan beban berat yang selama beberapa bulan ini memenuhi kepalanya.
"Besok kalau oma bicara sembarangan ke kamu langsung jauhin aja. Jangan tinggal dengerin!" Aby merapikan anak rambut yang menutupi dahi istrinya, yang terasa lembab karena keringat hasil aktivitas tadi. "Nanti biar aku bicara sama Oma. Aku nggak suka siapapun berbicara kasar sama kamu meskipun itu Oma."
Dalam dekapan suaminya, Embun mengangguk. Senyum tipis terlukis di bibirnya. Rasanya tidak masalah jika Oma berbicara kasar terhadapnya, yang penting Aby tidak terpengaruh dengan ucapan pedas Oma.
"Kalau Oma minta kamu meninggalkan aku karena nggak bisa kasih anak bagaimana?"
Aby hanya berdecak. Ia benar-benar tidak suka mendengar perkataan Embun barusan. Tetapi laki-laki itu langsung mendekap istrinya lebih dalam hingga tubuh keduanya yang masih terbalut sisa keringat menyatu sempurna.
"Aku mencintai kamu. Sangat! Aku nggak akan meninggalkan kamu dengan alasan apapun."
Sebelah tangan Aby menyusup ke dalam selimut dan mengelus perut istrinya yang rata. Entah mengapa beberapa hari belakang ini ia sangat suka melakukannya.
****
__ADS_1