Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 51 : Ijab Ulang?


__ADS_3

Vania terduduk lesu dengan posisi telungkup di lantai samping tempat tidur. Sejak ditetapkan sebagai saksi atas kecelakaan yang menimpa Aby dan Embun, ia tidak dapat beristirahat benar-benar. 


Wajahnya sudah memucat, matanya sayu dengan kantong mata menghitam. Selain itu, tubuhnya terlihat lebih kurus. Vania tidak tahu harus berbuat apa sekarang. 


"Non Vania, buka pintunya." Suara ketukan pintu bersamaan dengan panggilan dari Mbok Siti membuyarkan lamunan Vania. Ia menoleh dan menatap pintu. 


"Kenapa, Mbok?" sahutnya lemah. 


"Buka dulu pintunya, Non!" 


Dengan malas, Vania memaksakan diri bangkit. Berjalan dengan terseok menuju pintu. Tampak Mbok Siti berdiri di ambang pintu dengan wajah khawatir. 


"Ada apa, Mbok? Aku kan sudah bilang nggak mau diganggu." 


Vania baru saja akan menutup kembali pintu, namun, Mbok Siti menghalangi dengan meletakkan kaki di celah pintu. Membuat Vania menatapnya kesal.


"Mbok Siti ini kenapa, sih? Kan sudah dibilang aku mau sendiri." Kesabaran Vania mulai terkikis. Ini adalah pertama kai ia berkata dengan suara keras kepada pengasuhnya sejak bayi itu. 


Jari Mbok Siti saling meremas. Ia tampak ragu untuk berucap. "Itu Non, di depan ... ada polisi." 


Informasi yang diberikan Mbok siti membuat Vania menarik napas dalam. Seketika dadanya terasa sesak. Sepasang mata sayu miliknya terpejam beberapa detik. 


"Mau apa lagi polisi ke sini? Bukannya beberapa hari lalu aku baru diperiksa, ya?" 


Lagi-lagi, pertanyaan Vania membuat Mbok Siti kehilangan kata-kata. Ia sangat tidak tega menyampaikan apa yang terjadi sekarang. 


"Polisi datang dengan bawa surat penangkapan, Non." 


Spontan saja sepasang bola mata Vania kembali terbelalak. Lalu, dalam hitungan detik sudah penuh oleh cairan bening. 


"A-apa?" 


Wanita itu mengusap wajah kasar. Refleks ia menggigit jari-jari lentiknya, seperti kebiasaannya selama ini ketika sedang gugup. 


"Mbak Vania Athalia?" Suara bariton itu membuat Vania menoleh. Karena Mbok Siti lama memanggil Vania, akhirnya petugas kepolisian menyusul. 


Vania menatap tiga orang petugas kepolisian dengan mata berkaca-kaca. Ingin melawan tetapi tenaganya seperti habis terkuras. 


"Maaf, kami kemari untuk membawa Mbak Vania ke kantor polisi. Mbak Vania sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ini surat penahanannya." Pria berseragam yang berdiri gagah itu memperlihatkan sebuah surat. 


Vania tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Mbok Siti dengan tatapan seperti meminta tolong. 


"Mbok, tolong hubungi Mami sama Papi," pinta Vania, ketika dua orang petugas kepolisian memegangi lengannya. 


Mbok Siti tampak mengusap air mata yang meleleh di pipi. Sebab ia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang dibesarkannya itu akan terlibat sebuah kasus berat seperti sekarang. 


"Baik, Non. Non tenang ya, saya akan hubungi bapak sama ibu." 


Dengan langkah gontai, Vania meninggalkan rumah bersama beberapa petugas kepolisian. 


**** 

__ADS_1


Aby dapat bernapas lega setelah mendengar kabar ditetapkannya Vania sebagai tersangka dan polisi telah menahannya. Setidaknya Embun sudah benar-benar aman sekarang. Tidak ada lagi yang akan mengancam keselamatannya. 


"Syukurlah kalau Vania sudah ditangkap. Bunda lega sekarang," ucap bunda kepada Aby. 


"Iya, Bunda. Aku juga lega. Embun sudah aman sekarang." 


"Sekarang tinggal memikirkan ijab ulang," sambung bunda.


Aby mengangguk sambil tersenyum. Ia memang sudah tidak sabar untuk mengucapkan ijab kabul ulang, agar tidak ada lagi keraguan dalam pernikahannya dengan Embun. 


"Lagi pula kamu kenapa bisa punya hubungan dengan perempuan seperti dia. Apa sejak awal kamu tidak tahu seperti apa dia?" tanya sang bunda lagi.


Aby tertegun. Dirinya pun tak menyangka bahwa Vania bisa senekat ini. Padahal selama berpacaran Vania terlihat seperti gadis baik.


"Kamu beruntung karena Embun dan mamanya mau memaafkan kamu. Kalau orang lain belum tentu mau menerima kamu kembali," tambah ayah, yang masih cukup kecewa dengan perbuatan Aby terhadap Embun. 


"Sudah, Ayah. Yang penting sekarang adalah masa depan Aby sama Embun. Biarkan mereka berdua memperbaiki semuanya." 


Ayah menghela napas panjang. Setelah kejadian itu, ia merasa semakin tidak enak dengan besannya itu. Namun, ia tetap berharap Aby tidak mengulang kesalahan yang sama.


Sementara Galang yang duduk di hadapan kedua orang tuanya menatap mereka satu persatu. 


"Oh ya, Bunda ... Ayah ... setelah Aby ijab ulang, aku mungkin akan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Korea." 


Baik bunda, ayah, maupun Aby tampak terkejut mendengar keputusan Galang yang dinilai tiba-tiba. Sebab penyelidikan atas penyekapan dirinya juga belum membuahkan hasil. 


"Kak Galang mau apa di Korea? Mau operasi plastik?" ledek Aby sambil terkekeh. 


Bunda dan ayah ikut tertawa. Setidaknya mereka dapat bernapas lega sekarang, karena Aby dan Galang sudah akur dan kembali seperti dulu. Tidak lagi merebutkan satu wanita. 


"Memangnya kamu mau apa di Korea, Nak?" tanya bunda. 


"Aku ada tawaran kerja, Bunda. Kebetulan di bidang yang sesuai sama aku. Jadi aku terima aja." 


Bunda dan ayah manggut-manggut. Meskipun berat dengan keputusan Galang, namun mereka tetap mendukung. Galang mungkin membutuhkan lingkungan baru untuk melupakan patah hatinya. 


*** 


Hari  yang ditunggu akhirnya tiba. 


Dua keluarga sudah berkumpul di satu ruangan. Semuanya terlihat sangat bahagia. Aby sudah duduk mantap di hadapan seorang wali nikah. Hari ini, ia akan mengucapkan ijab kabul lagi.


 


 Aby masih ingat beberapa waktu lalu saat mengucapkan ijab kabul dengan perasaan berat akibat dipaksa keadaan. Namun, sekarang sangat berbeda karena ia akan melakukannya dengan sepenuh hati tanpa paksaan. 


Sementara Embun merasakan debaran kuat di dadanya saat mendengar suara lantang Aby yang terdengar merdu mengucapkan ijab kabul. Lalu, disambut dengan beberapa saksi yang menyerukan kata 'sah'.


Ia mencium punggung tangan suaminya, dan dibalas Aby dengan kecupan di kening. 


Semua orang pun larut dalam rasa bahagia dan turut mendoakan kebahagiaan sepasang suami istri itu. 

__ADS_1


"Nak Aby, mulai sekarang, mama serahkan anak mama kepada kamu. Jaga dan sayangi Embun sepenuh hati," pesan Mama Rima dengan bola mata berkaca-kaca.


Aby mengangguk seraya mencium punggung tangan mertuanya.


"Iya, Mah. Aku janji akan menjaga Embun sepenuh hati."


Mama Rima menatap Embun. "Kamu juga Embun. Jadilah istri yang berbakti kepada suami. Mulai sekarang, Aby adalah seseorang yang harus selalu kamu hormati."


Embun mengangguk pelan. Lalu memeluk mamanya dalam suasana haru.


.


.


.


Malam harinya .... 


Inilah malam yang ditunggu-tunggu semua Vembaca dari Sabang sampai Merauke ^_^ 


Aby sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan sebuah laptop di pangkuannya. Sudah beberapa kali ia menengok ke kamar mandi, namun Embun belum juga keluar. 


Tak lama berselang, Embun tampak keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah mandi. Aby langsung mematikan laptop dan meletakkan ke atas meja. Ia turun dari tempat tidur dan mendekati istrinya yang sekarang berdiri di depan lemari sambil memilih pakaian. 


"Sayang ...." Embun terlonjak ketika merasakan lengan kokoh yang melingkar di perut. Selain itu, ini adalah pertama kali Aby menyematkan panggilan sayang kepadanya. 


"Lepas dulu, Mas! Aku mau ganti baju." 


"Nggak usah ganti baju." Ia membalikkan tubuh Embun hingga berdiri tepat di hadapannya. 


Aby memulas senyum kala membelai wajah istrinya yang malam ini terasa aduhai baginya. Belum lagi aroma tubuhnya yang sangat wangi. Bisa Aby pastikan malam ini ia akan bekerja keras semalaman. 


Tangannya yang kokoh kembali melingkar di pinggang ramping istrinya, hingga tubuh mereka benar-benar menempel. Embun menundukkan pandangan. Rasa panas terasa merambat ke seluruh tubuh. Ia yakin sekarang pipinya sedang merona. 


"Yuk, Sayang," ajak Aby sambil mengedipkan sebelah mata. 


"Belum boleh, Mas," tolak Embun dengan halus, saat berhasil menangkap ajakan suaminya.


"Kenapa belum boleh?" 


Embun tampak ragu. Ia tahu jawabannya akan mengecewakan sang suami malam ini.


"Aku datang bulan." 


   


Spontan pupil mata Aby melebar. Ucapan Embun bagaikan sambaran petir baginya. Tubuhnya pun mendadak lemas. Sepertinya rencana bekerja keras akan gagal total malam ini. 


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih?" 


Titanoboa-nya bisa ngambek ini.

__ADS_1


...........


__ADS_2