
"Kak Dewa?"
Untuk beberapa saat Vania terpaku di tempat. Menyelami manik hitam lelaki yang berdiri tepat di hadapannya. Namun, kemudian menunduk saat teringat insiden memalukan kemarin. Mengira Dewa adalah Aby sehingga menghambur dan membenamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu.
Tanpa banyak bicara, Dewa sudah mengambil posisi duduk di sisi Vania dengan menyisakan ruang kosong di antara mereka. "Kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu sedang apa sendirian di sini?"
"Aku ... cuma mau cari udara segar."
Dewa menatap gadis itu penuh selidik. Sebab setahunya, Vania baru kemarin keluar dari tahanan dan dalam kondisi mental yang kurang sehat. Keberadaannya di taman seorang diri malam ini patut dipertanyakan.
"Kamu nggak kabur dari rumah, kan?"
Pertanyaan itu membuat Vania terdiam. Entah harus menjawab apa. Kalau ditanya kabur atau tidak, ia memang terhitung sedang kabur karena pergi secara diam-diam.
"Enggk, kok. Aku sudah bilang mami mau jalan-jalan sebentar."
"Dan mami kamu kasih izin untuk pergi sendiri?"
"Iya!" jawab Vania secara singkat dan jelas.
Tentu saja Dewa tidak akan percaya begitu saja. Tatapan penuh selidik terus ia arahkan kepada gadis itu. Meskipun Vania berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tetapi matanya yang basah seolah menjelaskan apa yang tak dapat dilisankan oleh mulut.
"Kamu nggak tahu kalau perempuan sendirian di luar malam-malam itu bahaya?" Dewa berusaha mengingatkan.
"Tahu, tapi aku bisa jaga diri. Lagi pula Kak Dewa ngapain malam-malam sendirian di sini?" Pertanyaan bernada ketus itu hanya disambut Dewa dengan kekehan kecil. Taman itu adalah tempat favoritnya jika sedang dalam keadaan sedih, dan sekarang Dewa sedang patah hati akibat kisah kasih dengan tetangga yang tidak kesampaian.
__ADS_1
"Sama seperti yang kamu lakukan." Sebuah jawaban aneh yang menciptakan kerutan di dahi mulus Vania.
"Maksudnya?"
"Berusaha melupakan seseorang yang pernah ada itu memang susah. Tergantung kamu mau terus ada di tempat yang sama atau pergi mencari kebahagiaan di tempat lain." Pandangan Dewa teralihkan pada langit bertabur bintang, kemudian menghirup banyak-banyak udara sejuk yang berhembus.
"Kebahagiaan di tempat lain?" Vania masih menatap penuh tanya, membuat Dewa mengangguk pelan.
"Tidak jauh dari sini ada festival. Mau ke sana nggak?"
Vania berpikir sejenak. Sebuah festival? Seumur hidupnya sama sekali belum pernah mengunjungi tempat seperti itu. "Nggak ah. Itu kan cuma tempat hiburan buat anak-anak."
"Kalau gitu kenapa kita nggak jadi anak-anaknya aja?"
Dahi Vania kembali berkerut. Baru saja mulutnya akan terbuka untuk melayangkan sebuah pertanyaan, tetapi Dewa sudah menarik pergelangan tangannya.
Tidak pernah terbayangkan oleh Vania sebelumnya jika mengunjungi sebuah tempat hiburan yang menurutnya hanya untuk anak-anak ternyata begitu menyenangkan. Ia tertawa, berteriak, bahkan menjerit sepuasnya ketika mencoba salah satu wahana, yang membuatnya merasakan takut dan senang di saat bersamaan.
Vania seolah tak peduli sedang berada di mana dan bersama siapa. Yang pasti saat ini ia merasa seperti melayang di udara.
"Sesenang itu ya, kamu?" Dewa menatap Vania yang duduk di hadapannya. Gadis itu mencengkram lengannya dengan kuat ketika wahana kincir angin itu menggantung di udara.
"Senang. Aku baru pertama kali ke tempat seperti ini." Binar di mata Vania tak terbantahkan. Sorot matanya berkeliling penuh kagum.
"Memang selama ini ke mana aja?" tanya Dewa basa-basi.
__ADS_1
"Main aja sama Aby." Sebuah jawaban bernada ambigu yang mengukir kerutan di alis tebal Dewa. Otaknya langsung membedah kata 'main' yang kemudian ia simpulkan sebagai kegiatan negatif.
"Main? Kamu sama Aby main di mana?"
"Tergantung. Kadang di hotel kadang di restoran. Kadang juga di rumah aku," jawab Vania polos. Seolah tak ada beban apapun saat menjawab pertanyaan dari Dewa.
"Apa?" Dewa berteriak di tengah keramaian. Matanya melotot tajam. Tanpa dapat dikendalikan sudah memaki kebejatan Aby, walaupun hanya dalam hati.
"Sering, ya? Berapa kali?" tanyanya sangat penasaran. Bola mata Vania berputar seperti hendak menghitung seberapa sering. Ah, sepertinya ia tidak tahu berapa kali saking seringnya.
"Em ... hampir setiap hari."
Dewa sudah merasakan tarikan napasnya berat. Satu tangannya terkepal kuat. Jika Aby ada di hadapannya sekarang, mungkin kepalan tinju Dewa sudah melayang.
"Kasihan Embun dapat suami penjahat kel@min."
Dewa lantas menatap Vania iba. Gadis seperti ini pasti mudah diperdaya oleh lelaki buaya. Ia akan menyerahkan apapun demi laki-laki yang dicintainya. Termasuk sesuatu yang menurut Dewa menjadi hak suami Vania nanti.
"Kamu kok mau aja digituin sama Aby?"
"Memang kenapa? Aku suka sama Aby," jawab Vania enteng. Membuat Dewa mengusap dadanya yang mendadak seperti terhimpit batu besar. Bukan hanya Vania yang ia pikirkan, tetapi juga Embun yang malang.
"Bangs4t si Aby. Mentang-mentang Vania sakit mental main dimakan aja. Pantas aja Vania susah lepas."
****
__ADS_1