
Di kantor
Aby masih disibukkan dengan padatnya pekerjaan. Bahkan jam istirahat makan siang ia lewatkan begitu saja tanpa terasa. Ia baru sadar saat seorang rekan datang menyapa.
"Kamu dipanggil Pak Desta ke ruangannya."
Sejenak, Aby mengalihkan perhatian kepada pria yang baru saja menyapa. "Ada apa, ya? Tumben Pak Desta panggil."
"Nggak tahu. Pak Desta cuma titip pesan minta kamu ke ruangannya sekarang."
Aby tidak banyak bertanya. Ia mematikan laptop, lalu segera menuju lantai atas memenuhi panggilan pimpinan tertinggi di perusahaan itu.
"Selamat siang, Pak!" sapa Aby, sesaat setelah masuk ke sebuah ruangan.
"Siang." Pria seusia ayahnya itu menatap dengan senyuman ramah. "Silahkan duduk!"
Aby duduk sebuah kursi tepat di hadapan Pak Desta.
"Sebenarnya ada hal penting yang mau saya tanyakan ke kamu." Pria itu menjeda ucapannya dengan tarikan napas.
"Soal apa ya, Pak?" Meskipun tidak yakin sepenuhnya, namun Aby dapat menebak apa yang menjadi alasan dirinya dipanggil. Sudah pasti ada hubungannya dengan insiden semalam. Terlebih, pagi tadi ia sempat bertemu dengan Pak Radit di lobi kantor, meskipun tidak saling tegur.
"Kamu ada masalah apa sama Pak Radit?"
Pertanyaan itu membuat Aby mengulas senyum tipis. Dugaannya ternyata tidak salah. Sudah pasti Pak Radit sudah menghubungi pimpinan perusahaan karena kejadian itu.
"Maaf, Pak. Soal itu saya tidak bisa cerita banyak, karena ini menyangkut masalah pribadi," jawab Aby tanpa rasa ragu. "Tapi, kalau Pak Radit mencampur masalah pribadi dengan pekerjaan, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
Pak Desta menghela napas panjang. "Secara kasarnya memang begitu. Beliau memang memberi syarat kepada saya, untuk bisa melanjutkan kerjasama dengan perusahaan kita. Saya memanggil kamu hanya untuk memastikan."
Aby sudah menebak resiko apa yang akan didapatkan dari kejadian itu. Tentunya Pak Radit akan menggunakan kekuasaannya untuk memuluskan tujuannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, keputusan ada di tangan Bapak sepenuhnya. Saya mengerti kerjasama dengan perusahaan Pak Radit memang penting untuk kemajuan perusahaan ini. Tapi maaf, saya tetap tidak akan mencabut laporan saya, sekalipun harus diberhentikan."
Pria itu masih menunjukkan senyum ramah. "Kamu tenang saja. Saya sudah bicarakan masalah ini dengan pemilik May-Day. Dan beliau sudah mengambil sebuah keputusan."
Aby mengangguk mengerti. Ia sudah menduga dirinya akan dipecat oleh pemilik perusahaan.
"Beliau membatalkan semua kerjasama dengan perusahaan Pak Radit. Katanya, kita tidak membutuhkan kerjasama dengan seseorang yang tidak bisa membedakan urusan pribadi dengan pekerjaan."
Aby hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan Pak Desta. Biasanya sebuah perusahaan besar tidak akan melewatkan kerjasama dengan perusahaan yang memberi keuntungan besar. Dan setahunya, kerjasama dengan perusahaan Pak Radit cukup penting bagi May-Day.
"Bapak yakin?" tanya Aby hendak memastikan.
"Apa perlu saya sambungkan kamu dengan pemilik May-Day?"
Aby menggeleng cepat. Ia memang belum pernah bertemu dengan pemilik perusahaan yang setahunya adalah seorang dokter itu. "Tidak perlu, Pak. Terima kasih."
"Sekalian saya mau memberitahu, kamu ada promosi naik jabatan menggantikan Dewa, karena dia akan dipindah tugaskan ke cabang perusahaan yang lain. Menurut Pak Ardan dan Dewa, kamu bekerja lebih baik dibanding yang lain, dan kamu layak untuk posisi ini. Selamat, ya."
Apa yang disampaikan Pak Desta membuat Aby kehilangan kata-kata. Ia seperti terpaku di tempat.
Embun sedang duduk melamun di sofa ruang televisi saat tiba-tiba Aby datang dan memeluknya dari belakang. Spontan saja kelakuan suaminya itu membuat sangat terkejut. Hampir saja gelas melayang bebas ke wajah Aby.
"Kamu kenapa pasang muka sedih?" tanya Aby begitu menyadari raut wajah istrinya.
Embun menarik napas panjang. "Tadi siang bunda ke sini."
"Terus?" Kening Aby terlihat mengerut.
"Bunda kasih minuman itu." Embun menunjuk minuman kesehatan yang tadi dibawakan bunda. Bahkan kemasannya masih utuh, sama sekali Embun belum membukanya.
__ADS_1
"Memang ini minuman apa?" Aby meraih botol minuman dan membaca keterangan yang terdapat di sana.
"Katanya biar cepat hamil."
"Oh ... terus kenapa kamu sedih?"
"Kamu kan tahu keadaan aku. Bagaimana kalau bunda tahu dan meminta kamu—"
Belum sempat Embun menyelesaikan kalimatnya, Aby sudah meletakkan jari di depan hidung. "Kamu kok berpikir begitu sih? Ke mana Embun yang dulu kuat dan berani? Dulu setiap ada masalah kamu libas habis dengan santai."
Bola mata Embun seketika berkaca-kaca. "Sekarang kan beda kondisinya. Aku nggak percaya diri dengan keadaanku sekarang."
"Kenapa nggak percaya diri? Banyak kok perempuan yang divonis susah hamil tapi buktinya bisa hamil. Kamu harus selalu berpikir positif." Ia mengelus puncak kepala istrinya. "Habis ini kita ke dokter, yuk! Aku ada rekomendasi dokter kandungan yang bagus dari teman."
Embun mengangguk setuju. Ia menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Kamu juga masih muda. Waktu kamu masih sangat banyak. Kalau bukan tahun ini, mungkin tahun depan."
"Tapi kamu nggak akan bosan menunggu, kan?"
Aby menjawab dengan senyum diiringi gelengan kepala. Kemudian menarik tangan istrinya menuju kamar mereka.
"Mau ke mana?" tanya Embun, menahan langkah kakinya.
"Mau usaha dulu. Kamu nggak akan bosan berusaha, kan?" Aby mengedipkan sebelah matanya.
Membuat Embun menggeleng dengan pipi memerah.
"Bagus, katanya hasil tidak akan mengkhianati usaha. Yuk, kita usaha dulu sebanyak-banyaknya."
*****
__ADS_1