Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 36 : Upaya Untuk Rujuk?


__ADS_3

Baik ayah maupun Bunda belum sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Kedatangan Vania benar-benar mengejutkan keduanya. Bunda mendekati Vania dan duduk di sisinya. Dengan penuh kelembutan ia mengusap bahu gadis yang ia tebak seusia Embun itu.


"Maafkan Tante, Nak Vania. Apa kamu sudah bicarakan baik-baik dengan Aby?"


Vania mengangguk dengan diiringi derai air mata. "Sudah, Tante. Aby memutuskan hubungan secara sepihak. Saya tidak terima ditinggalkan begitu saja."


"Tapi, maaf sebelumnya, kamu tahu Aby sudah menikah. Dan sekarang Aby sedang berusaha memperbaiki rumah tangganya. Masa depan kamu masih panjang, Nak. Kamu cantik dan masih muda."


Bukannya reda, air mata Vania semakin deras mengalir.


"Begini saja, bagaimana kalau Nak Vania pulang saja dulu. Nanti biar Tante dan Om bicarakan dengan Aby. Tante juga akan minta Aby menemui kamu dan bicarakan semua baik-baik dengan kepala dingin."


Vania akhirnya mengangguk setuju. Membuat Bunda menghela napas panjang. Sementara sang ayah tidak banyak bicara. Seperti ada kemarahan yang tertahan dalam tatapan matanya.


.


.


.


Sejak tiba di kantor, Aby tidak dapat berkonsentrasi. Pikirannya terus tertuju pada ucapan Embun tadi pagi. Kepingan rasa bersalah itu semakin menyergap.


Talak? Benarkah ia telah menjatuhkan talak kepada Embun?


Dalam keadaan bimbang, Aby teringat kepada seseorang yang mungkin dapat membantunya untuk keluar dari Maslaah ini. Dengan cepat, ia meraih ponsel yang tadi diletakkan di atas meja dan mencoba menghubungi salah seorang kerabatnya. Aby mendekatkan ponsel dengan daun telinga dan menunggu selama beberapa saat.


"Halo, Awan. Sore ini kamu ada waktu nggak?" ucapnya tanpa basa-basi.


"Sore ini ... ada sih. Memang kenapa?" balas sepupunya itu.


"Aku mau ketemu? Ada sesuatu yang mau aku tanyakan. Dan aku rasa kamu paham dengan masalah ini."


Terdengar tawa kecil di ujung telepon yang membuat Aby mendes@h panjang. "Tumben amat. Memang hal apa yang mau kamu tanyakan?"


"Nanti aja kalau ketemu. Aku benar-benar butuh saran dari kamu."


"Ya udah. Sore nanti kita ketemu," kata pria itu.

__ADS_1


Panggilan terputus setelah perbincangan singkat itu. Aby mengarahkan pandangan ke jendela yang menyajikan pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar.


Namun, pikirannya masih terus tertuju kepada Embun. Bahkan saat mengunjungi pabrik untuk mengawasi jalannya proses proses produksi, ia lebih banyak melamun.


.


.


.


Sore hari di sebuah kafe ....


"Sudah jatuh talak yang akan berlaku 6 bulan setelah kamu mengucapkan akan menceraikan istri kamu."


Aby terhenyak mendengar penjelasan sepupunya itu. Ia membeku belenggu rasa bersalah. Ingin rasanya menghukum diri sendiri atas kebodohannya.


"Berarti Embun benar?" tanya Aby dengan kerutan tipis di kening.


"Iya. Embun memang benar, tanpa sadar kamu sudah menjatuhkan talak kepadanya. Saat kamu mengucapkan janji akan menceraikan Embun, maka telah jatuh talak yang akan berlaku enam bulan setelahnya."


Sesal terlihat jelas dalam tatapan Aby. Sepasang bola matanya tergenang cairan bening.


Awan hanya dapat mendecakkan lidah. Dirinya pun ikut menyesalkan tindakan sepupunya itu. "Makanya lain kali pikir dulu baik-baik. Pada saat kamu mengucapkan ijab kabul atas namanya, berarti sudah ada perjanjian antara kamu dengan Tuhan. Makna ijab kabul itu tidak hanya sebatas kamu menghalalkan perempuan sebagai istrimu. Setelah proses ijab kabul terlaksana, maka seluruh kehidupan Embun menjadi tanggung jawab kamu. Membimbing memanjakan, menjaga dan menjadi pelindungnya. Kalau kamu melanggar, artinya kamu sudah melanggar penjanjianmu dengan Tuhan."


Aby terdiam selama beberapa saat. Tatapannya kosong. Pikirannya dihantui oleh rasa bersalah. Ia merasa sudah terlalu banyak menyakiti Embun.


"Aku harus bagaimana, Wan? Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya?"


Awan menarik napas dalam. Punggung tegapnya bersandar di kursi. "Kalau kamu benar-benar mau memperbaiki kesalahan, yakinkan Embun dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama."


"Itulah susahnya. Embun belum mau memaafkan aku. Dan dia masih mau menggugat cerai."


"Itu salah kamu sendiri. Karena itulah seorang suami tidak boleh sembarangan mengucapkan kata cerai, karena dapat berakibat fatal. Kamu mengaku sebagai laki-laki lajang kepada orang lain saja, sudah bisa jatuh talak. Apa lagi ketika kamu jelas-jelas mengucapkan mau pisah," jelas pria itu panjang lebar.


Seperti dihimpit bongkahan batu besar, Aby merasakan sesak di dada. Udara di ruangan luas itu seolah tak cukup baginya untuk bernapas. Keadaan ini serba sulit baginya.


"Saat itu aku benar-benar terdesak, Wan. Kamu sendiri tahu aku masih menjalin hubungan dengan Vania." Ia semakin frustrasi. "Jadi, aku harus bagaimana sekarang?"

__ADS_1


Awan menghela napas panjang. "Kalau kamu memang ada niat rujuk, masih ada kesempatan."


Aby menatap penuh tanya. Seolah tak sabar untuk mendengar penjelasan selanjutnya. Sepertinya tak salah ia meminta bertemu dengan Awan.


"Sebenarnya ada beberapa pendapat yang berbeda. Tergantung kamu mau ikut pendapat yang mana. Ada pendapat bahwa boleh langsung rujuk dengan kata dan perbuatan, tapi ada juga yang berpendapat harus ijab kabul ulang. Kalau kamu ragu dengan itu, kamu boleh ajak Embun untuk nikah ulang."


Aby mengangguk mengerti. Setidaknya ada sedikit rasa lega dalam hati.


"Tapi itu juga kalau Embun masih mau sama kamu," sambung Awan tanpa memerdulikan ekspresi saudara sepupunya.


.


.


.


Mobil memasuki halaman rumah setelah sang penjaga membukakan gerbang. Aby menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil. Matanya terpejam selama beberapa saat.


Setelah berbicara dengan Awan di kafe tadi, ia memantapkan hatinya untuk memperbaiki hubungan dengan Embun. Entah bagaimana pun caranya, apapun akan ia lakukan untuk mendapat maaf dari istrinya itu. Meskipun mungkin ia harus jatuh bangun mengejar kata maaf dari istrinya.


Setelah menetralkan perasaannya, Aby segera turun dari mobil. Lalu, berjalan menuju pintu. Ketika melewati ruang tengah, terlihat bunda sedang duduk seorang diri.


"Kamu sudah pulang?" tanya sang bunda.


"Iya, Bunda. Tapi habis ini aku mau ke rumah Mama Rima. Mau ketemu Embun." Aby dapat melihat raut wajah sang bunda yang tak biasa. Dan itu membuatnya bertanya-tanya. "Bunda kenapa? Kayak tegang begitu. Apa ada masalah?"


Wanita itu menatap putra bungsunya dengan penuh keraguan. "Aby, kamu sudah ditunggu ayah di ruang kerjanya. Kamu temui ayah dulu, ya."


Aby pun melirik sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup. Ia sedikit heran, namun tak banyak bertanya.


"Ya udah, Bunda. Aku ketemu ayah dulu."


Baru saja Aby melangkah masuk ke ruangan itu, sudah disambut ayah dengan tatapan tajam. Dahi Aby berkerut dalam.


"Bunda bilang ada yang mau ayah bicarakan sama aku."


Pria paruh baya itu tak langsung menjawab. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri putranya.

__ADS_1


Tanpa kata, dua tamparan keras mendarat mulus ke pipi Aby.


...****...


__ADS_2