
"Kok bisa terkunci?" Embun memutar gagang pintu beberapa kali. Namun, pintu kayu itu tak kunjung terbuka. "Mama! Mama!" panggilnya beberapa kali dengan setengah berteriak.
Namun, hingga beberapa menit berlalu, sang mama tak kunjung menyahut.
"Mama sepertinya sudah tidur, makanya nggak dengar kamu panggil." Aby menghela napas panjang. "Kunci kamar kamu di mana?" tanyanya, dengan tangan yang kini masih merangkul bahu Embun.
"Tadinya selalu di sini." Embun sudah tampak gelisah. Sejak dulu, ia memang sangat takut dengan kegelapan.
"Ya udah, kamu tenang dulu, jangan takut. Aku cari dulu kuncinya." Menyadari ketakutan yang sedang mendera istrinya, Aby mencoba menenangkan.
Ia mengangkat tangannya yang menggenggam ponsel. Lalu, ia arahkan ke beberapa sudut kamar. Termasuk meja rias dan tempat tidur. Laci meja nakas pun ia buka dan mencari kunci di sana. Sementara Embun, terus menempel di punggungnya. Kedua tangannya mencengkram kuat kaus yang membalut tubuh suaminya.
"Kamu benar-benar takut, ya?" tanya Aby, ketika merasakan Embun membenamkan wajah di punggungnya.
Embun hanya menjawab dengan anggukan kepala, tanpa suara. Hanya hela napasnya yang terdengar memburu.
Akhirnya, ia kembali melingkarkan tangan di bahu sang istri, sementara tangan satunya bergerak menyapu isi laci meja. Namun, pencariannya tak membuahkan hasil. Kunci kamar hilang bak ditelan Bumi.
"Kamu yakin kuncinya selalu ada di pintu?"
lagi-lagi Embun menjawab dengan anggukan kepala. Mencoba mengingat di mana kunci kamar berada. Sebab selama ini, ia memang jarang mengunci pintu kamar.
"Ya udah, aku cari lagi."
Baru saja Aby akan beranjak menuju meja rias, langkahnya sudah terhenti karena Embun menarik pakaiannya dari belakang. Aby lantas melingkarkan tangan di pinggang, lalu kembali mencari kunci di atas meja rias. Beberapa alat kecantikan milik Embun yang tertata rapi di atas meja ia geser. Beberapa laci juga ia buka. Hingga akhirnya pencarian sampai ke lemari pakaian, namun kunci tak kunjung ditemukan.
"Nggak ada kuncinya," ucap Aby kemudian.
"Aku mau keluar, aku takut!" lirih Embun.
Aby benar-benar dibuat terheran oleh istrinya itu. Dibalik sikap Embun yang baginya sangat galak, ternyata ada jiwa seorang gadis penakut. Hal yang membuat Embun terlihat sangat menggemaskan bagi Aby.
"Iya, tapi cara keluarnya gimana? Aku nggak akan kuat dobrak pintunya kayak di film-film," ujar Aby, seraya menghela napas panjang.
Keluar melalui jendela pun tidak mungkin, karena jendela kamar Embun terpasang terali besi.
Aby mendesis kala merasakan cengkraman kuat di lengannya.
"Auh, sakit, Mbun! Jangan dicakar!" Aby mengusap lengan kanannya yang baru saja menjadi sasaran empuk kuku-kuku Embun yang tajam dan terawat.
__ADS_1
"Aku mau keluar!" Embun terdengar masih ketakutan. Tangannya melingkar di lengan Aby, meskipun tak lagi mencakar seperti tadi.
"Iya, tunggu. Aku akan cari cara."
Embun melirik ke sana ke mari. Keringat sudah mulai membasahi kening dan beberapa bagian tubuhnya.
Beberapa menit berselang, cahaya yang berasal dari ponsel milik Embun yang digenggam Aby perlahan meredup, hingga padam akibat baterai melemah.
Seketika Embun menjerit ketika kamar kembali diselimuti kegelapan. Wanita itu membenamkan wajahnya di lengan sang suami. Membuat Aby segera menariknya ke dalam pelukan, sembari membujuk dan menenangkan.
"Nggak apa-apa, jangan takut!" Ia mengusap punggung dan puncak kepala.
"Hape kamu mana?" tanya Embun. "Nyalain senternya!"
"Hape aku juga mati dari tadi, Mbun."
Suasana kamar benar-benar gelap. Sama sekali tak ada cahaya. Aby pun berinisiatif membuka tirai, sehingga sedikit cahaya yang berasal dari luar jendela memberi sedikit penerangan di kamar.
"Jangan dibuka tirainya, aku takut!" lirih Embun.
"Tapi kalau tirainya nggak dibuka nggak ada cahaya sama sekali."
Aby pun tak banyak bicara. Ia menuruti keinginan Embun dengan kembali menarik tirai jendela hingga kamar menjadi gelap gulita.
"Tuh kan, gelap."
"Biarin aja, yang penting jangan buka tirai."
Selama beberapa saat, Aby terdiam di tempatnya berdiri sambil memeluk Embun. Sebuah kesempatan dalam kesempitan yang membuatnya ingin tertawa di atas ketakutan istrinya.
"Bagaimana kalau kita tidur aja," tawar Aby kemudian. Setelah merasa lelah mencari kunci kamar.
"Tapi aku takut."
"Aku temani tidurnya."
Tak punya pilihan lain, Embun menyahut dengan anggukan kepala. Sehingga Aby segera menuntunnya ke tempat tidur. Pria itu membaringkan sang istri dan membalut tubuhnya dengan selimut.
.
__ADS_1
.
.
Sekarang mereka sudah terbaring dalam balutan selimut yang sama. Embun membenamkan wajah di dada suaminya, dengan menjadikan lengan kekar Aby sebagai bantal. Tak dapat ia pungkiri, kedekatan ini menciptakan sebuah rasa yang sulit ia pahami.
Jantungnya berdebar kuat. Tubuhnya yang semula terasa dingin akibat disergap ketakutan perlahan mulai menghangat. Embun yakin pipinya sudah memerah saat ini.
Sementara Aby memeluk sambil mengusap rambutnya berulang-ulang. Berharap Embun akan segera terlelap. Namun, hingga beberapa saat kemudian, Embun tak kunjung tidur. Hanya matanya yang terpejam di dalam dekapan Aby.
"Boleh aku tanya sesuatu?" bisik Aby setelah beberapa saat terjadi kebisuan di antara mereka.
"Mau tanya apa?"
"Kenapa kamu setakut ini sama gelap? Lagi pula, ini kan kamar kamu sendiri. Apa yang harus di takutkan?" tanya Aby heran.
Sebab tadi saat mengobrol dengan Mama di ruang televisi, mertuanya itu sama sekali tak menyebutkan bahwa putrinya sangat takut dengan kegelapan. Ia hanya menyebutkan kebiasaan-kebiasaan Embun.
Bukannya segera menjawab, Embun malah semakin melesakkan tubuhnya ke pelukan Aby. Juga menarik selimut hingga menutupi kepala.
"Jangan tanya, aku nggak mau cerita!"
Aby menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman dalam kegelapan. Aby pasti sudah menyemburkan tawa jika tidak mengingat posisi Embun yang sedang ketakutan. Semakin lama, Embun terasa semakin menggemaskan baginya.
Kamu lucu banget sih. Dan kenapa aku baru sadar semua ini.
Pria itu mengatupkan bibir setelahnya. "Ya udah, nggak apa-apa kalau nggak mau cerita. Sekarang kamu coba tidur, ya. Sudah mau larut malam ini."
"He-em."
Aby menarik napas dalam-dalam. Mencoba menetralkan perasaannya. Sentuhan Dengan Embun menciptakan sensasi panas yang terasa merambat ke seluruh tubuh. Terlebih, tubuh Embun terasa sangat menempel pada tubuhnya.
Jika saja tidak pernah ada masalah dalam rumah tangga mereka sejak awal, mungkin malam ini akan menjadi malam yang indah untuk Aby.
Ah, sudahlah, nasi telah menjadi bubur. Aby hanya dapat mencoba bersabar.
"Gini amat sih. Ya ampun, pipa Rucika ngapain bangkit lagi, ah?"
Namun, gerutuan itu hanya dapat ia teriakkan dalam hati. Meratapi nasibnya malam ini.
__ADS_1
****