Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 84 : Mulai Tidak Mengerti Dengan Kamu!


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Aby melaju menuju ibu kota setelah seminggu menghabiskan waktu di Bogor. Tiga jam perjalanan terasa sangat lama karena beberapa kali harus bertemu kemacetan. Hingga akhirnya, mobil memasuki halaman rumah. 


Rasa lelah tergambar jelas dari dua wajah yang baru menuruni mobil. Aby membuka bagasi bagian belakang dan mengeluarkan beberapa barang. Sementara Embun mengambil paper bag yang tadi ia simpan di kursi belakang. 


"Hai, Embun. Sudah balik dari Surabaya, ya?" Sapaan ceria dan penuh semangat menjadi sambutan pertama pasangan itu. Sepertinya tetangga satu dinding dengan mereka itu memang senang menyambut tetangga yang baru tiba di rumah. Dan kebiasaan Siska tidak pernah berubah, yaitu menggunakan pakaian serba ketat meskipun di jam tidur seperti sekarang. 


Tetapi seperti biasa, Aby bersikap acuh tak acuh dan terkesan tak begitu memerdulikan sang tetangga. Ia bahkan masuk begitu saja dengan membawa koper tanpa membalas sapaan Siska. sementara Embun hanya mengulas senyum seadanya. 


"Hai, Siska," balasnya, dengan senyum tipis. "Maaf, aku masuk dulu." Lalu tanpa berbasa-basi segera masuk ke rumah.


Siska hanya menatap pintu rumah minimalis itu dengan kerutan di kedua alisnya. 


"Ada apa sih sama Embun?  Nggak biasanya cuek." 


Di dalam rumah


Perjalanan malam ini membuat sepasang suami dan istri itu kelelahan. Setelah saling bergantian masuk ke kamar mandi dan memakai pakaian tidur, keduanya naik ke ranjang. Aby masih duduk berselonjor dengan memainkan ponsel, sementara Embun terbaring di sampingnya. 


"Belum mau tidur, Mas?" Embun menatap suaminya yang terfokus dengan layar ponsel. 


"Bentar lagi. Kamu tidur duluan aja." 

__ADS_1


.


.


.


Embun merasakan perubahan cukup drastis dari sikap Aby beberapa hari belakangan ini. Meskipun sikapnya tetap lembut seperti biasa, namun, sejak perdebatan tentang anak, Aby belum pernah lagi meminta dilayani. Padahal sebelumnya, aktivitas malam menguras tenaga itu seolah menjadi ritual wajib sebelum tidur.


Embun masih melamun menatap hidangan sarapan ketika pintu kamar terbuka. Memunculkan sosok Aby yang sudah rapi dengan pakaian kerja. Namun, pria itu malah melewati meja makan begitu saja. 


"Aku nggak sarapan, mau langsung ke kantor." 


Ucapan dingin Aby mendesak Embun untuk segera menyusul suaminya. Sebelum sampai di pintu, Embun sudah menarik lengan laki-laki itu hingga langkah kakinya terhenti. 


"Mas, kamu kenapa sih? Aku merasa beberapa hari ini kamu sedikit berubah. Kamu masih marah sama aku?" 


"Berubah kenapa? Enggak perasaan." Aby melirik arah jarum pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Memastikan dirinya belum terlambat ke kantor.


"Apa karena masalah anak?" 


Aby memang tidak menampik bahwa masalah beberapa hari belakangan dipicu oleh penolakan Embun atas keinginan Aby untuk memiliki anak. Tetapi, jika saja Embun memiliki alasan yang masuk akal, tidak ada alasan bagi Aby untuk marah.

__ADS_1


Satu hal yang membuatnya benar-benar kecewa adalah karena Embun seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Bukankah sebagai pasangan suami-istri seharusnya tidak ada rahasia lagi di antara keduanya? 


"Menurut kamu apa aku bisa marah hanya karena kamu belum siap punya anak?" tanyanya sedikit kesal.


"Lalu apa masalahnya, Mas? Beberapa hari ini kamu bersikap seperti ini ke aku?"


Entah sadar atau tidak, kedua tangan Aby melesat cepat, mencengkram lengan Embun. Tatapannya yang tajam menusuk membuat Embun kehilangan kata-kata.


"Aku memutuskan untuk memilih kamu bukan semata-mata agar kamu bisa memberi anak. Kamu tahu, membina rumah tangga itu tidak mudah. Kalau kamu saja tidak mau terbuka bagaimana kita bisa bertahan?"


Meskipun nada bicara Aby terdengar santai, namun terasa menusuk ke hati Embun.


"Aku sudah bilang punya alasan sendiri tentang itu, kan?"


"Tapi apa alasannya?" Hela napas Aby terdengar berat. "Aku mulai nggak ngerti sama kamu, Mbun! Bukan penolakan kamu yang membuat aku kecewa, tapi keraguan kamu sama aku." 


Perlahan cengkraman Aby merenggang, tetapi tak merubah sorot matanya yang tajam menghujam. Embun hanya dapat menatap nanar punggung tegap suaminya yang perlahan menjauh. Suara pintu yang dibanting keras membuat tubuhnya terlonjak. 


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2