Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 66 : Kamu Tidak Pernah Sendirian


__ADS_3

Ketika menyadari Embun berusaha mengikis jarak, Aby bereaksi dengan cepat. Tak peduli lagi akan seperti apa reaksi Vania nanti, yang pasti Aby harus menjaga perasaan istrinya dan menegaskan kepada Vania, bahwa hanya Embun seorang yang memiliki hak mutlak atas dirinya sebagai istri sah. Laki-laki bertubuh jangkung itu kembali meraih jemari wanitanya dan menggenggam erat. Bahkan ketika Embun berusaha untuk menepis, Aby tak memberi celah. 


"Mas, lepasin dulu," bisik Embun, sembari menatap sosok berwajah pilu di balkon. Vania layaknya seseorang yang tengah patah arang. 


"Nggak akan!" tolak Aby. Sekilas melirik istrinya dengan ekor mata. "Vania harus mengerti bahwa hanya kamu yang berhak atas diriku." 


"Tapi Vania sedang kehilangan akal sehatnya." Embun mencoba bernegosiasi dengan sang suami. Kondisi Vania sekarang menciptakan sesak di dadanya. Sebagai sesama wanita, Embun tahu betul sakitnya kehilangan seseorang yang dikasihi. "Aku nggak apa-apa, Mas. Coba bujuk Vania dulu."  


"Apa dia mau seperti ini terus? Sampai kapan?" Kesabaran Aby sedikit terkikis. Semakin jenuh dengan pola hidup mantan kekasihnya itu. 


"Aku tahu, tapi—" 


"Mbun, ini nggak akan selesai hanya dengan kamu berhasil membujuk Vania. Kedepannya akan terulang lagi." 


"Itu karena kamu hanya menuruti keinginan dia tanpa memberi pemahaman."


Perhatian Aby kembali tersita oleh Vania. Ia menatap dengan intens mantan kekasihnya itu tanpa melepas genggamannya dari sang istri. Berpikir sejenak, lalu menatap mami.

__ADS_1


"Tante punya kunci cadangan kamar Vania?" 


"Kuncinya diambil semua sama Vania, By," jawab wanita itu. 


Sebelah tangan Embun menyentuh lengan suaminya. "Mas, aku nggak apa-apa. Siapa tahu kalau kamu bujuk, Vania mau turun. Menghadapi Vania sekarang tidak bisa dengan kekerasan. Nanti kita sama-sama beri dia pengertian." 


Aby sedang mempertimbangkan dalam hati, jika dipikirkan secara baik, perkataan Embun memang ada benarnya. "Oke, tapi ini karena kamu yang minta." 


Mengulas senyum, Embun mengangguk pelan. Untuk kali ini dirinya akan membiarkan Aby berusaha melunakkan Vania.


"Tapi hanya untuk kali ini. Kedepannya kalau Vania melakukan ini lagi, kita nggak akan ikut campur lagi." 


"Van ... nggak ada gunanya kamu terus seperti ini. Kamu masih muda dan layak untuk hidup lebih bahagia. Kenapa kamu harus mengurung diri kamu sendiri dengan cara seperti ini?" bujuk Aby, sedikit-sedikit melangkahkan kaki seraya mengulurkan tangan. Berharap Vania akan menyambutnya dan menyudahi drama panjang ini. 


"Aku nggak bahagia, By. Nggak ada yang benar-benar peduli sama aku. Mami sama papi nggak pernah punya waktu buat aku. Temanku semuanya jahat, mereka cuma datang saat ada maunya. Cuma kamu yang peduli sama aku." Vania menatap sendu. Sepasang mata sembabnya dipenuhi cairan bening, dan dalam hitungan detik sudah membanjiri pipi. 


"Kata siapa nggak ada yang peduli sama kamu? Lihat ke bawah, mami kamu sejak tadi menangis ketakutan. Kamu nggak kasihan?" Vania menolehkan kepala, menatap wanita hampir setengah abad yang telah melahirkannya ke dunia. "Banyak yang peduli sama kamu. Mami dan papi kamu, Mbak Siti, aku sama Embun juga kemari karena peduli sama kamu. Kita masih bisa berteman, jadi kamu nggak akan pernah sendirian."

__ADS_1


Kalimat penuh makna yang terucap dari bibir Aby perlahan melunakkan kerasnya hati Vania. Perlahan, wanita berambut sebahu itu menyambut uluran tangan pria di hadapannya. Aby menggenggam tangan Vania erat. 


"Apa Embun mau berteman dengan aku?" cicit Vania. Tiba-tiba teringat semua perbuatan buruknya di masa lalu.


"Kenapa nggak? Embun tahu kamu perempuan baik. Kamu ingat, saat Embun jatuh ke jurang? Semua orang bahkan aku sendiri berpikir kamu yang dorong dia. Tapi Embun percaya itu bukan kamu."


Vania masih ingat malam itu, betapa Mega dan teman-teman lain menekannya dengan tuduhan, yang membuat dirinya dijauhi dan disudutkan. Bahkan saat perjalanan pulang, Vania duduk seorang diri di kursi paling belakang.


"Dan kecelakaan itu, saat semua bukti mengarah ke kamu, Embun masih percaya bukan kamu pelakunya. Kamu perempuan yang baik, dan kamu layak bahagia."


Kristal bening yang menggenangi bola mata Vania kembali berderai.


"Sekarang kita turun, ya?" 


Vania menganggukkan kepala, membuat Aby segera menariknya ke dalam. Menghilangkan semua ketakutan yang sejak tadi menyergap semua orang. 


Papi menghela napas panjang, Tampak sangat lega. Sementara mami mengusap cairan bening yang meleleh di pipi. Ia menatap wanita seusia putrinya yang berdiri tak jauh darinya. Rasa malu merambat ke hati jika mengingat kalimat kasar yang pernah ia lontarkan kepada wanita itu.

__ADS_1


"Embun, terima kasih kamu sudah mau membantu Vania. Maafkan Tante yang sempat berbicara kasar terhadap kamu beberapa waktu lalu." 


******


__ADS_2