
Beberapa menit dihabiskan Aby dan Dewa untuk berkeliling mencari Embun. Namun, wanita itu belum terlihat di mana-mana. Kelas yang tadi diinformasikan Embun tempatnya menunggu juga dalam keadaan kosong.
"Kamu yakin Embun belum pulang?" Dewa menatap Aby seolah ingin memastikan sekali lagi.
"Aku yakin. Tadi Embun bilang ada di kelas sambil menunggu." Aby semakin terlihat gusar. Pandangannya menjelajah ke sekitar dengan harapan melihat sang istri.
"Tapi sepertinya Embun nggak ada di dalam kampus." Dewa menghela napas panjang sembari memikirkan sebuah tempat yang memungkinkan keberadaan Embun.
Sedikit banyak Dewa tahu tempat-tempat yang disukai Embun. Berbekal dari pertemanan mereka sejak kecil.
"Apa jangan-jangan Embun ke danau di belakang? Embun kan suka danau." Dugaan Dewa itu langsung ditepis oleh Aby. Meskipun baru mengenal Embun, namun Aby yakin istrinya itu tidak mungkin berada di sana.
"Embun mau ngapain di danau sore-sore begini? Di sana gelap dan Embun punya phobia sama gelap."
Dewa mengangguk mengerti. Kembali memikirkan beberapa tempat yang memungkinkan. Kantin yang menjadi favorit Embun juga tidak terlihat keberadaannya.
"Aku yakin terjadi sesuatu dengan Embun," tambah Aby. Dadanya mulai bergemuruh. Secepat kilat melewati ruangan demi ruangan sambil sesekali memanggil nama istrinya.
Sementara Dewa menghubungi seorang petugas keamanan kampus yang kebetulan ia kenal. Melalui info yang diberikan Dewa, beberapa petugas keamanan itu sudah berkeliling untuk mencari keberadaan Embun.
"Kita berpencar aja. Kamu ke gedung A, aku akan cari di gedung B," usul Dewa, yang kemudian dijawab Aby dengan anggukan. Mereka memang butuh berpencar. Mungkin saja salah satu dari mereka menemukan lebih dulu.
Baru saja Aby dan Dewa akan beranjak, sudah terdengar suara seperti benda terjatuh yang cukup keras dari sebuah ruangan, tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
"Suara apa itu?"
Keduanya sempat saling lirik selama beberapa detik, sebelum akhirnya mendekati sumber suara. Dewa mencoba menajamkan pendengaran, sambil memutar gagang pintu. Namun, pintu kokoh itu terkunci.
"Aaa!"
Suara jeritan terdengar, disusul suara benda terjatuh keras sekali lagi. Meskipun tersamar, namun, Aby sangat mengenali suara jeritan itu.
__ADS_1
"Itu suara Embun!" Pancaran kemarahan bercampur khawatir terlihat jelas dalam mata laki-laki itu. "Buka pintunya!" teriak Aby sambil mendorong pintu penuh amarah.
"Kita dobrak pintunya!" Dewa menepuk bahu Aby.
Dalam keadaan panik menguasai, keduanya mundur beberapa langkah. Lalu, menabrakkan tubuhnya pada pintu kokoh yang terbuat dari kayu bayam itu. Tiga kali mendobrak, pintu akhirnya terbuka setelah engsel-nya terlepas.
Pandangan Aby langsung tertuju kepada sosok yang tengah terduduk di sebuah kursi dalam keadaan terikat. Ia langsung menahan dada Dewa yang hendak melangkah maju.
"Mega, apa yang kamu lakukan? Tolong lepaskan istriku!" pinta Aby, mencoba untuk tidak bertindak gegabah. Salah sedikit saja, nyawa Embun taruhannya. Terlebih, sekarang Mega sudah meletakkan belati tepat di leher istrinya.
"Melepaskan dia? Setelah dia merebut kamu dari aku?" Mega menatap Aby dengan mata berkaca-kaca. "Tidak akan pernah!"
Aby semakin syok kala menatap bercak darah di pakaian istrinya.
"Kamu tahu, By. Aku susah-susah menyingkirkan Vania untuk bisa mendapatkan kamu! Aku mengambil mobil Vania dan berusaha menabrak Embun tapi justru kamu yang tertabrak!"
Baik Aby maupun Dewa sangat terkejut mendengar ucapan Mega. Tidak ada yang menyangka bahwa Mega ternyata adalah dalang di balik semua peristiwa yang terjadi.
"Tenang, Mega! Apa kamu sadar yang kamu lakukan ini kejahatan serius?" Aby mencoba mengulur waktu sambil mencari celah untuk menyelamatkan istrinya.
"Aku tahu! Karena itu aku menjadikan Vania sebagai kambing hitam!" Ia berteriak sekali lagi. Satu tangannya masih memegang belati yang diarahkan ke tubuh Embun. "Aku juga menghasut Dewa untuk merebut Embun dari kamu! Tapi Dewa yang bodoh itu sama sekali tidak bisa melakukan semua itu? Kenapa harus Embun yang mendapatkan kamu, padahal aku yang lebih dulu mencintai kamu?!"
Aby hampir tak percaya mendengar ucapan wanita yang baginya sudah gila itu. Ia memberi isyarat kepada Dewa melalui gerakan mata. Tanpa Mega sadari, kamera ponsel Dewa sejak tadi menyorot dirinya.
"Aku mohon tenang dulu. Ayo, kita bicara baik-baik," bujuk Aby, berusaha bersikap setenang mungkin. "Apa yang kamu inginkan?"
Bola mata Mega melelehkan cairan bening.
"Aku cuma menginginkan kamu. Aku pikir aku sudah berhasil menyingkirkan Vania dan membuat Embun menggugat cerai. Tapi kenapa semalam kamu malah tidur sama perempuan ini?" Ia menunjuk Embun dengan belati. "Tapi tenang aja, aku sudah menghilangkan jejak yang yang kamu tinggalkan di lehernya."
Aby merasa jantungnya seperti akan berhenti berdetak saat itu juga. Ia melirik istrinya yang sudah terlihat sangat lemah.
__ADS_1
"Tunggu! Kamu mau aku, kan?" Aby maju perlahan sambil mengulurkan tangan. "Aku akan menuruti apapun yang kamu inginkan."
"Benar? Apa kamu bisa meninggalkan Embun demi aku?" Mega memandang penuh harap.
Perlahan, ia menarik belati dari hadapan Embun.
Melihat adanya kesempatan, Dewa langsung merangsek maju, membekuk tubuh Mega hingga belati di tangan wanita itu terjatuh.
Sementara Aby bergerak cepat dengan melepaskan tali yang melilit tubuh istrinya. Embun yang sudah terlihat sangat lemah menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan sang suami.
"Jangan takut, kamu sudah aman sekarang," bisik Aby, seraya mengeratkan pelukan ke tubuh istrinya.
Embun belum sanggup berkata-kata. Kejadian yang begitu cepat dan menakutkan ini membuatnya seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir.
Aby berjongkok di hadapan istrinya. Memeriksa setiap jengkal tubuhnya demi memastikan tidak ada luka serius. Selain, luka goresan di bagian leher.
"Lepaskan aku!" teriak Mega. Sekuat tenaga meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Dewa. Tetapi tentu saja tenaganya kalah jauh.
Beberapa petugas keamanan yang sedang berkeliling dibuat terkejut dengan suara teriakan yang tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Lalu, berbondong-bondong menuju sumber suara.
Mega pun berhasil dibekuk. Mereka membawa wanita itu segera keluar dari ruangan.
"Aku takut, Mas. Aku mau pulang," lirih Embun, masih dengan tubuh gemetar hebat. Dan Aby, dapat merasakan itu.
"Iya, kita pulang sekarang. Sudah, jangan takut! Kamu sudah aman." Ia mendekap Embun lebih erat. Sesekali menciumi kening. Tanpa menunggu lagi, Aby menggendong tubuh istrinya keluar dari ruangan itu. Sebelum pulang ke rumah, ia harus membawa Embun ke rumah sakit terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan Aby masih memikirkan rentetan kejadian. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa Mega akan bertindak segila ini karena terobsesi dengan dirinya.
Tapi, bagaimana bisa? Ia tidak memiliki kedekatan dengan Mega. Selain saat ia menyelamatkan wanita itu dari sebuah kecelakaan. Mega memang pernah mengungkapkan perasaannya kepada Aby. Namun, Aby menolak secara halus.
*****
__ADS_1