Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 41 : Menikah Ulang?


__ADS_3

Dugaan Aby bahwa Embun mengalami phobia terhadap kegelapan ternyata benar adanya. Semalaman, sejak lampu di kamar padam, Embun tak pernah beranjak dari sisi suaminya. Bergeser sedikit pun tidak. Malah ia terlelap dengan menjadikan lengan Aby sebagai bantal. Dan wajahnya menempel sempurna di dada sang suami.


Perlahan Embun membuka mata ketika merasakan cahaya matahari yang menyelinap melalui celah jendela terasa menyilaukan mata. Tubuhnya menggeliat, kelopak matanya mengerjap beberapa kali. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah suaminya yang masih begitu lelap. Lengkap dengan tangan kekar yang melingkar di perutnya. Bahkan wajah mereka berada dalam posisi yang sangat dekat, sehingga saat Embun mendongak, ia hampir saja mencium dagu suaminya itu.


"Ya ampun!"


Tersadar, Embun memindahkan tangan Aby. Membuat pria itu menggeliat, lalu membuka matanya secara perlahan. Aby merentangkan tangan ke samping. Sebelah tangannya bergerak mengusap lengan yang terasa pegal.


"Aduh, kok pegal gini sih?" keluhnya, seraya memberi pijatan secara perlahan.


Tak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya, Embun segera menyibak selimut. Turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Ia ada kuliah pagi ini.


Sementara Aby membenarkan selimut dan mencari posisi ternyaman. Rona merah yang terlihat di pipi Embun membuat hatinya kembang kempis.


"Lucu banget sih dia."


.


.


.


"Mah ... Mama ...." Embun memanggil sang mama seraya mengetuk pintu. Tak lama berselang terdengar sahutan dari luar.


"Kenapa, Mbun?" tanya Mama, yang suaranya terdengar dari balik pintu.


"Pintunya terkunci dari semalam, Mah. Kuncinya hilang, tolong bukain pakai kunci cadangan."


"Kok bisa terkunci?" tanya Mama seolah heran.


"Nggak tahu, Mah."


"Ya sudah, tunggu sebentar."


Suara mama terdengar perlahan menjauh. Sepertinya sedang beranjak menuju sebuah lemari, tempat semua kunci cadangan di rumah itu tersimpan.


Tak berselang lama pintu terbuka. Mama Rima terlihat berdiri di ambang pintu dengan dahi berkerut. Ia meneliti putrinya yang sudah rapi dengan pakaian kasual. Sementara Aby tak terlihat di kamar. Sepertinya sedang berada di kamar mandi.


"Maksudnya kamu sama Aby terkurung di kamar?" tanya Mama Rima, membuat Embun mengangguk pelan.


"Iya, Mah. Semalam juga listrik padam."


"Masa sih? Mama nggak tahu, loh," ujar Mama Rima, seraya membelakangi putrinya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu berjalan menuju dapur, dengan Embun yang mengekor di belakang punggungnya. Di meja makan sudah tersedia pula beberapa menu sarapan. Embun pun segera duduk dan meraih segelas jus jeruk buatan sang mama.


"Jadi kamu bagaimana semalam? Kan kamu phobia sama gelap."


Pertanyaan Mama Rima menciptakan semburat merah di pipi Embun. Sangat memalukan jika teringat kejadian semalam. Di mana ia terus menempel di tubuh Aby.


Sementara Mama Rima menatap seolah menuntut sebuah jawaban. Tentu saja ia sangat penasaran tentang apa yang terjadi terhadap putrinya. Teringat suatu malam ketika hujan deras disertai petir menyambar, Embun kala itu sangat ketakutan dan menjerit histeris. Mama pun harus menemaninya tidur di kamar.


"Nggak apa-apa," jawabnya, seraya berusaha menyembunyikan rona merah di pipi.


"Oh, syukur kalau kamu nggak apa-apa. Lagian ada Aby yang menemani kamu semalam, kan?"


Embun tak menyahut lagi. Ia memilih fokus dengan menu sarapan. Tak berselang lama, Aby keluar dari kamar. Sudah rapi dengan kemeja dan celana bahan. Seperti biasa ia terlihat sangat sempurna.


"Kamu kenapa, Aby?" tanya Mama ketika menyadari Aby terus mengusap lengan kanannya.


"Nggak apa-apa, Mah. Cuma pegal sedikit."


"Kok bisa?"


Aby melirik Embun, membuat wanita itu menundukkan kepala.


"Nggak apa-apa, Mah. Mungkin kecapean menyetir kemarin."


Melihat gelagat sepasang suami istri itu, Mama Rima hanya mengatupkan bibir rapat, seraya menatap anak dan menantunya bergantian.


Sarapan pun berlalu dengan kebisuan Embun. Hanya Aby dan Mama Rima yang sesekali mengobrol.


.


.


.


"Ayo, aku antar ke kampus."


Aby buru-buru menyusul Embun yang sudah berjalan lebih dulu keluar rumah.


"Nggak usah. Aku bisa naik ojek online."


"Ayolah, Mbun. Kampus kamu kan dekat dengan kantor aku."


Aby segera membuka pintu mobil bagian depan. Embun menatapnya sekilas, sebelum akhirnya naik ke mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya saling diam.

__ADS_1


"Kamu pulang jam berapa?" tanya Aby, sesaat setelah mereka tiba di kampus.


"Siang," jawab Embun singkat.


"Aku jemput, ya," tawar Aby. "Kebetulan habis istirahat makan siang nanti, aku mau ke pabrik untuk periksa proses produksi untuk produk baru."


"Nggak usah repot-repot. Aku bisa pulang sendiri naik taksi online," jawabnya datar.


Ia hendak melepas sabuk pengaman yang melintang di tubuhnya. Baru saja akan membuka pintu mobil, Aby sudah bergerak cepat dengan mengunci kembali pintu mobil. Membuat Embun menatapnya dengan mata memicing.


"Ada apa lagi, Mas?" tanyanya.


Menyadari dinginnya sikap Embun, Aby menarik napas dalam-dalam. Benar kata Mama mertuanya. Ia harus memiliki stok kesabaran ekstra menghadapi Embun. Karena jika sudah terlanjur kecewa, akan sulit untuk meluluhkannya.


Tangan Aby mengulur, menggenggam jemari sang istri, meskipun Embun sempat menepis. Membuat Aby merangkum kedua bahunya. Menatap ke dalam matanya.


"Aku mohon dengar aku dulu. Satu kali ini saja," pintanya bersungguh-sungguh.


Embun yang merasa terkunci oleh Aby seolah kehilangan kata-kata. Tak ingin terperangkap oleh pria itu, Embun memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Embun, aku tahu kamu sakit hati sama aku. Aku salah karena sudah mengkhianati kamu di malam pertama pernikahan kita. Dan aku sangat menyesal. Aku nggak akan meminta kamu menjawab sekarang. Aku tahu kamu juga butuh waktu. Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa aku serius mau memulai dari awal sama kamu." Ia menjeda ucapannya dengan Hela napas. "Mari kita menikah ulang."


Embun masih terdiam. Entah harus menjawab apa. Sebenarnya, ia pun tidak tahu perasaan apa yang ia miliki untuk Aby, selain rasa kecewa. Tetapi, pesan Mama Rima masih terngiang dalam benaknya sejak semalam.


Tidak semua masalah dalam pernikahan harus diselesaikan dengan perpisahan.


Embun menarik tangannya yang masih digenggam Aby.


"Aku akan pikirkan lagi. Sekarang tolong buka pintunya. Aku mau keluar."


Aby memulas senyum sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Baru saja Embun akan turun, ia sudah kembali menarik tangannya, hingga wanita itu menoleh seketika.


Tiba-tiba Embun merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Rasa hangat pun perlahan menjalar ke hati. Aby baru saja membenamkan ciuman di keningnya.


Untuk beberapa saat, waktu seakan terhenti. Kelopak mata Embun terpejam kala merasakan benda kenyal itu terasa hangat menyentuh keningnya.


"Kamu hati-hati, ya," bisik Aby, seraya membelai puncak kepala sang istri.


Embun seperti terpaku di tempat. Apa lagi, saat Aby membelai pipinya dengan lembut.


.


.

__ADS_1


__ADS_2