
Siang itu, Embun masih disibukkan dengan kegiatan memasak di dapur ketika terdengar suara pintu diketuk. Wanita itu bergegas menuju pintu, namun sebelumnya menyempatkan diri mengintip dari tirai jendela. Ada Siska di depan sana. Embun pun segera membuka pintu.
"Hai, Embun. Kamu sedang apa?" tanyanya penuh semangat.
"Aku lagi masak buat makan siang."
"Boleh aku masuk? Aku bosan sendirian di rumah."
"Boleh, ayo masuk!" ajak Embun seraya memulas senyum tipis.
Pandangan Siska berkeliling menelusuri rumah itu. Begitu masuk ke ruang tamu, sebuah pigura besar menyambut. Ia berdecak kagum dalam hati, pasangan muda itu terlihat sangat serasi dalam balutan pakaian pengantin.
"Rumah kamu bagus banget isinya, nggak seperti rumahku yang agak berantakan," pujinya seraya menatap sekeliling. Bagian dalam rumah tampak tertata rapi dan sangat menarik. "Kamu atur ini sendiri?"
"Nggak sendiri, bareng suamiku."
"Keren, loh!"
Embun melanjutkan kegiatan memasak, sementara Siska duduk di sebuah kursi kayu di samping kitchen set sambil memperhatikan Embun yang begitu cekatan memasak. Sesekali ia melirik buku panduan memasak.
"Oh ya, kalian tinggal di sini cuma berdua?" tanyanya lagi setelah menyadari suasana rumah cukup sepi. Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan orang lain di rumah itu.
__ADS_1
"Iya. Tadinya tinggal di rumah mertua. Tapi suami aku mau kami tinggal di rumah sendiri. Biar mandiri katanya."
"Memang lebih enak tinggal berdua sih. Kalau tinggal di rumah mertua biasanya direcokin." Ia tertawa kecil setelahnya.
"Mertuaku baik, kok. Kayak orang tua sendiri."
"Syukur deh. Soalnya kata temanku banyak mertua yang jahat. Ngomong-ngomong kalian beli rumah ini cash apa kredit?" tanyanya penasaran. Mengingat harga perumahan tempat tinggal mereka mencapai angka ratusan juta.
"Suamiku kemarin cash. Katanya kalau kredit berat dan lama."
"Wow ...." Siska berdecak kagum dalam hati. Dalam pandangannya, sangat keren jika pria semuda suami Embun itu bisa membeli sebuah rumah dari hasil bekerja sendiri. "Memangnya suami kamu bekerja di mana?"
"Di May-Day."
"Kamu sendiri nggak kerja, Embun?" tanyanya lagi. Kali ini bangkit dari kursi dan berdiri di samping Embun dengan membelakangi kitchen set.
"Aku masih kuliah semester akhir."
"Oh ...."
Embun mematikan kompor setelah masakannya selesai. Lalu segera menata makanan ke atas meja. Ia melirik jam yang melekat pada dinding. Biasanya Aby akan pulang di jam seperti ini jika makan siang di rumah.
__ADS_1
Sementara Siska menatap beberapa foto pernikahan yang menghiasi meja bufet. Ia sedikit heran setelah menyadari beberapa foto pernikahan tidak ada senyum antara Aby dan Embun. Keduanya tampak sangat kaku, tidak seperti foto pernikahan yang ia lihat pada umumnya. Di mana terpancar jelas kebahagiaan sepasang suami istri.
"Oh ya ... kenapa kamu mau menikah di usia yang terbilang muda banget? Aku aja yang sudah 26 tahun belum mau menikah. Apa kalian dijodohkan?"
Embun terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu pernikahannya dengan Aby termasuk perjodohan atau bukan. Sebab Aby hanya menggantikan kakaknya yang menghilang dua hari sebelum pernikahan.
"Iya, kami memang menikah karena perjodohan." Akhirnya, Embun memilih menjawab demikian.
"Tapi kalian bisa langsung menerima, ya? Kalau aku nggak akan bisa. Apa lagi kalau harus menikah dengan orang yang belum kenal dekat sebelumnya."
Embun hanya menyahut dengan senyuman. Siska tidak tahu saja apa yang dialami Embun di awal menikah. Ia harus menelan pahitnya pengkhianatan sang suami di malam pertama pernikahan mereka.
Tak lama berselang, pintu terbuka disusul dengan kemunculan Aby. Sesekali Siska mencuri pandang saat melihat Aby duduk di kursi sambil melepas sepatu. Pesona pria itu memang tak terbantahkan. Dilihat dari posisi mana pun tetap tampan.
Siska mengalihkan perhatian saat Aby berdiri dan hendak menuju dapur. Aby terlihat cukup terkejut dengan kehadiran seorang wanita di rumah mereka.
"Siang, Kak. Baru pulang kerja, ya?" Siska menyapa dengan senyum lebar.
"Iya." Aby mengulas senyum seadanya, lalu berlalu begitu saja menuju kamar.
Membuat senyum cerah yang memancar di wajah Siska meredup seketika.
__ADS_1
"Cuek banget sih suaminya Embun."
****