
Embun merasakan sesuatu yang berbeda dari sikap suaminya sejak pembicaraan tentang anak di hotel tadi. Entah hanya ia yang salah menafsirkan ataukah memang Aby sedikit berubah. Yang pasti, Aby tidak banyak bicara lagi setelahnya.
Bahkan saat menghabiskan waktu luang dengan berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, pria itu tak sehangat biasanya.
Sepanjang perjalanan pulang hingga tiba di hotel pun tak ada pembicaraan berarti, yang membuat Embun merasa segan untuk membuka suara.
"Mau langsung tidur?" tanya Aby sesaat setelah keluar dari kamar mandi.
"Mau ganti baju dulu," jawab Embun, meletakkan beberapa paper bag berisi barang belanjaan tadi.
"Aku duluan, ya." Aby membuka kemeja dan langsung menghempas tubuhnya di ranjang hotel yang empuk.
Lagi-lagi sikap dingin ditunjukkan Aby. Membuat Embun duduk di tepi tempat tidur. Memandangi punggung tegap suaminya yang tidak tertutupi pakaian, meskipun udara yang berhembus dari pendingin ruangan seakan menusuk ke tulang.
Hingga beberapa menit berlalu, Embun beranjak mengganti pakaian dan kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
"Mas, sudah tidur?" bisiknya pelan sekali.
Tiadanya jawaban dari Aby membuat sepasang bola mata Embun berkaca-kaca. Tidak pernah sebelumnya Aby bersikap sedingin ini kepadanya selama mereka berbaikan. Selain itu, Aby tidak pernah mendahuluinya tidur dan akan memastikan istrinya tidur lebih dulu. Tetapi, kini sosok yang selalu hangat dan lembut itu terkesan mengabaikan dirinya.
"Mas ...." Embun mengguncang bahu sangat pelan. Tetapi Aby masih diam.
Embun pun memilih membaringkan tubuhnya. Menarik selimut hingga batas dada dan mencoba memejamkan mata. Namun, hingga beberapa saat berlalu, ia tak kunjung menembus alam mimpi. Ada kegundahan besar yang tersimpan dalam hati.
Apa jangan-jangan Mas Aby marah?
Menggeser posisi semakin mendekat, Embun memeluk Aby dari belakang. Menciumi bahu kokoh itu berulang-ulang. Dari respon yang diberikan, Embun meyakini bahwa Aby masih terjaga.
Aby mendesahkan napas panjang, lalu membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan. Meskipun pencahayaan kamar temaram, namun ia dapat melihat wajah sedih istrinya. Merasa tak tega, Aby pun merengkuh tubuh mungil itu.
"Marah kenapa, sih? Nggak, kok," jawabnya, lalu mencium kening dalam dan lama.
__ADS_1
Embun mendongak, demi menatap wajah maskulin itu. Tatapan Aby kali ini sangat berbeda, bahkan senyum tipis pun tak nampak. Membuat nyali Embun menciut saat itu juga.
"Aku pikir kamu marah sama aku soal tadi."
"Soal yang mana?" Sebenarnya Aby mengerti ke mana arah pembicaraan istrinya. Tetapi entahlah, ia sedang tidak ingin membahas sesuatu yang dapat memicu pertengkaran.
"Soal anak," cicit Embun, dengan raut muka penuh rasa bersalah.
Tak ingin masalah tentang anak berlarut-larut, Aby menerbitkan senyum. "Kenapa harus marah? Aku memang menginginkan seorang anak. Tapi, kalau kamu belum siap, tidak apa-apa. Lagi pula kamu yang akan mengandung dan melahirkan, bukan aku."
Bukannya menjadi tenang, ucapan Aby malah menambah gumpalan rasa bersalah di hati Embun.
"Tapi, Mas ...."
"Udah nggak usah dibahas," potong Aby cepat. "Tidur, yuk. Sudah malam." Tangannya yang lebar mengusap rambut, turun ke punggung. Kembali mendekap istrinya dengan erat.
__ADS_1
Menikmati kehangatan itu, Embun membenamkan wajah di lekukan leher sang suami, yang menjadi tempat ternyaman baginya. Menyembunyikan kristal bening yang meleleh di ujung mata.
****