Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 93 : Kedatangan Ibu Mertua


__ADS_3

Suara bel yang sudah beberapa kali berbunyi menghentikan kegiatan Embun yang tengah mengumpulkan pakaian kotor untuk dicuci. Suaminya baru saja berangkat ke kantor, meninggalkan Embun sendirian di rumah. 


Embun memasukkan beberapa pakaian kotor yang telah dipisahkan ke mesin cuci, lalu beranjak menuju pintu depan. Seperti biasa, ia akan lebih dulu melihat siapa yang bertamu ke rumah melalui jendela. Wanita itu menghela napas panjang ketika mendapati Siska berdiri di ambang pintu. 


"Ada apa, Siska?" tanya Embun sesaat setelah membuka pintu. 


Siska menatap sang pemilik rumah dengan memelas. Dua buah koper berukuran sedang tergeletak di teras. "Maaf, aku ganggu. Embun, apa boleh aku numpang sebentar fi rumah kamu?" 


"Memangnya kamu kenapa?" Embun pura-pura tidak tahu kejadian pengusiran tadi. Padahal ia melihat dengan jelas ketika Siska diusir oleh tiga pria berbadan besar. 


"Aku diusir Mbak Andin dari rumah. Kalau boleh aku mau numpang di sini dulu sambil menunggu jemputan," ucapnya penuh harap.


Embun memasang raut wajah prihatin. Tetapi tubuhnya masih berdiri kokoh tanpa menyisakan celah di pintu. "Maaf, Sis. Suamiku nggak ada di rumah dan dia melarang aku menerima tamu sekalipun itu perempuan. Apalagi setelah kejadian semalam." 


"Tapi cuma sebentar, kok. Aku akan pergi sebelum suami kamu pulang." 


"Sekali lagi aku minta maaf, tapi kayaknya kamu ke rumah tetangga lain aja, ya." 


"Tapi, Embun—" 


Tanpa berbasa-basi, Embun menuntup rapat pintu rumah dan mengunci dari dalam. Peringatan Aby tadi untuk tidak mengizinkan Siska masuk ke rumah sudah cukup untuk membuatnya lebih waspada. 


"Ngeri juga punya tetangga seperti dia." Embun melirik dari balik tirai jendela.

__ADS_1


Baru saja akan kembali ke belakang untuk melanjutkan kegiatan mencuci, sudah terdengar lagi suara bel. Membuat Embun mendengkus kesal. Wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu dan langsung membuka. 


"Ada apa lagi, sih?" ucapnya sangat kesal. 


Namun, sosok yang berdiri di ambang pintu membuatnya seketika tertunduk malu. Ternyata yang datang adalah sang mertua.


"Bunda?" Embun mengusap wajahnya yang mendadak merah. Ia langsung menyambut hangat ibu dari suaminya itu dengan mencium punggung tangan.


"Kamu kenapa kelihatan kesal begitu?" tanya bunda. 


"Nggak apa-apa, Bunda. Tadi ada orang gila mau numpang di sini. Aku pikir dia yang datang lagi." 


Bunda mengedarkan pandangan demi mencari seseorang yang dimaksud menantunya. Mungkin saja masih berkeliaran di sekitar kompleks. 


"Oh ini ... nggak apa-apa, Bunda. Cuma jatuh semalam." Tak ingin mertuanya sampai khawatir, Embun memilih menyembunyikan kejadian semalam. 


"Beneran jatuh? Bukan karena ribut sama Aby, kan?" tanyanya curiga. 


"Bukan, Bunda!" jawab Embun cepat, sebelum sang mertua berpikir lebih jauh. "Aku nggak pernah ribut sama Mas Aby, kok." 


"Syukur, deh. Kalau Aby berani macam-macam, bilang sama bunda. Nanti bunda yang bicara." 


Embun mengulas senyum tipis. Kemudian mengajak sang mertua untuk duduk di ruang keluarga. Sementara Embun membuatkan minuman.

__ADS_1


"Kamu tidak ada kegiatan hari ini?" tanya Bunda.


"Nggak ada, Bunda. Makanya seharian di rumah aja," jawab Embun, yang kemudian membawa teh hangat untuk sang mertua.


"Kalau begitu hari ini temani bunda belanja, ya. Bunda mau beli sesuatu untuk ulang tahun ayah."


"Boleh, Bunda. Kebetulan aku memang nggak ada kegiatan."


Bunda menyeruput teh hangat buatan menantu kesayangannya itu. "Oh ya, kamu sudah ada tanda-tanda isi, belum?"


"Belum, Bunda."


Wanita paruh baya itu lantas mengeluarkan sesuatu dari tas dan menggeser ke meja. Kedua alis Embun berkerut tipis melihat benda yang baru saja diberikan bunda.


"Bunda bawa ini buat kamu." 


"Apa itu, Bunda?" 


Bunda memasang senyum penuh harap. "Itu minuman kesehatan. Kamu minum, ya. Siapa tahu kamu cepat hamil. Bunda itu udah tua, Mbun. Pengen punya cucu dari Aby."


Embun menundukkan kepala. Senyum di bibirnya perlahan meredup. 


Kalau bunda tahu keadaan sebenarnya, apa bunda akan minta Maaf Aby menikah lagi?

__ADS_1


**** 


__ADS_2