Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Kamu Sudah Cantik Sejak Masih Berbentuk Zigot!


__ADS_3

Embun dan Vania saling memeluk. Sejak masa magang, keduanya memang tidak pernah lagi bertemu karena magang di tempat yang berbeda dan jaraknya cukup jauh. Selain itu juga terhalang oleh kesibukan masing-masing. Sehingga kadang hanya berkomunikasi melalui pesan WhatsApp.


"Bagaimana magangnya?" tanya Embun.


"Biasa aja. Atasan aku agak galak." Vania terkekeh setelah mengucapkan kalimat itu. Dewa yang merupakan atasannya memang sedikit galak.


Embun ikut tertawa.


"By the way, kenapa muka kamu pucat? Kamu sakit, Mbun?" Kedua alis Vania saling bertaut setelah mengajukan pertanyaan itu. "Kamu juga kelihatan lemas banget." 


"Aku nggak apa-apa, Van. Kata dokter ini hanya pengaruh kehamilan awal." 


Bola mata Vania refleks melebar, bibirnya melukis senyum. "Hah, kamu hamil?" 


Embun menganggukkan kepala, membuat Vania memeluknya lagi. "Wah selamat ya. Aku ikut senang mendengarnya. Kamu dan Aby pasti sangat bahagia." 


"Iya, makasih, Van." 


Vania turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Embun. Sedikit banyak ia tahu bahwa beberapa bulan belakangan ini Embun memang cukup tertekan akibat vonis awal seorang dokter yang mengatakan dirinya akan sulit hamil. 


"Untung kamu konsultasinya ke Om Allan. Papanya Kak Dewa memang dokter yang hebat," tambah Vania penuh semangat.


"Oh ya, kamu sedang apa di rumah Kak Dewa? Apa jangan-jangan ...." Embun menatap curiga. Sebab tidak tidak biasanya Dewa membawa pulang seorang gadis untuk dikenalkan dengan keluarganya. 

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa, Mbun. Aku cuma diajak Kak Dewa main ke rumahnya. Hari ini Kak Maysha pulang dari luar negeri." 


Embun mengangguk mengerti. Teringat kakak sulung Dewa yang saat ini menetap di luar negeri bersama suaminya.


"Tapi kalau memang ada hubungan apa-apa juga bagus. Kak Dewa itu baik orangnya. Aku sudah kenal sejak kecil," lanjut Embun.


Mendadak pipi Vania menjadi merah. Membuat Embun kembali tertawa. 


"Aku belum mau menjalin hubungan baru, Mbun. Untuk saat ini aku sama Kak Dewa cuma berteman."


"Kalau cuma berteman kenapa muka kamu merah?" Gurauan Embun semakin menambah rona merah di pipi Vania.


"Embun!" pekik Vania sambi melayangkan cubitan ke lengan Embun.


*


*


*


Aby duduk bersandar di ranjang dengan laptop di pangkuannya. Ia sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda karena kejadian pingsannya Embun tadi. 


Tak lama berselang, Embun keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Aby melirik sekilas dan terpaku. Istrinya itu tampak sangat manis dengan piyama berbahan satin dengan warna nude. 

__ADS_1


Pandangan Aby mengikuti ke mana Embun berjalan. Sekarang wanita itu sedang duduk di meja rias sambil menyisir rambut panjangnya. 


Hmm ... istriku memang cantik sekali. Semakin cantik di mata Aby sejak mengetahui istrinya tengah berbadan dua. 


Mematikan laptop, Aby mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang. Ia benamkan ciuman gemas di pipi.


"Nggak perlu dandan kalau mau tidur. Kamu sudah cantik sejak masih berbentuk zigot," bisik laki-laki itu.


Embun meletakkan sisir. Padahal ritual menjelang tidur belum tuntas karena Aby sudah lebih dulu menggiringnya ke tempat tidur. Setelah mendapatkan posisi berbaring yang nyaman, tangannya menyusup ke dalam piyama. Lalu mencium permukaan perut di balik piyama.


"Pantesan belakangan ini aku suka ngelus perut kamu. Ternyata sudah ada kecebongnya." 


Embun tertawa kecil mendengar nama yang disematkan Aby untuk janin dalam perutnya. 


"Makasih, Sayang. Mulai sekarang kamu nggak boleh capek. Nanti aku akan ambil orang untuk bantu pekerjaan kamu di rumah. Jadi kamu sama mama nggak perlu repot urus rumah lagi." 


Belaian lembut diberikan Embun pada rambut suaminya. "Nggak usah, Mas. Aku masih bisa sendiri kalau cuma bersih-bersih sama masak." 


"Kalau mual sama pusing lagi bagaimana? Kan pesan suster kamu nggak boleh kerja yang berat-berat." 


Embun menghela napas panjang. Jika Aby sudah mengambil sebuah keputusan, maka akan sulit untuk merubahnya. 


"Sekarang tidur, yuk. Karena kamu nggak boleh capek, jadi aku rela minion puasa untuk sementara waktu." Seringai tipis terbit di sudut bibir Aby.

__ADS_1


Cubitan keras pun dilayangkan Embun untuk suaminya yang punya seribu istilah untuk monster kecilnya itu. 


**** 


__ADS_2