
Embun menatap pantulan dirinya di cermin dengan penuh teliti. Ia belum juga selesai berdandan, padahal Aby sudah siap sejak 30 menit lalu.
“Kenapa sih, Yang?” Sapaan itu membuat Embun menoleh ke arah pintu di mana suaminya baru saja muncul. Aby segera menyusul ke kamar, sebab Embun tak kunjung selesai berdandan.
“Ini, Mas. Penampilanku kok aneh, ya?” ucapnya sambil memutar tubuhnya di depan cermin meja rias.
“Aneh apanya? Enggak, kok.”
“Perutku gendut, Mas. Makanya baju apapun yang aku pakai terlihat aneh.”
Aby terkekeh mendengar gerutuan sang istri. Ia mendekat dan memeluknya dari belakang. Kemudian melingkarkan kedua tangan ke perut Embun yang kini terlihat semakin membesar.
“Namanya juga hamil, Sayang. Wajar-wajar aja, kok.”
“Tapi aku merasa aneh.”
“Nggak, Sayang. Kamu cantik dalam keadaan apapun.”
Pujian kecil itu berhasil mengukir senyuman di bibir Embun. Ah, belakangan ini Aby memang sangat pandai membuat hatinya berbunga-bunga. Tidak hanya karena perhatiannya, Aby juga terasa sangat manis dan tak segan menunjukkan betapa ia sangat mencintai istrinya.
“Udah, yuk. Berangkat.” Sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.
“Yakin aku pakai baju ini aja?” tanyanya hendak memastikan sekali lagi.
“Yakin, Sayang. Cantik!” Aby mengulas senyum getir. Kali ini ia akan memuji setinggi bintang di angkasa. Sebab jika Embun berganti gaun lagi, itu berarti Aby pun harus mengganti kemejanya. Karena malam ini mereka akan mengenakan pakaian senada.
Sekedar informasi, sebelumnya Aby sudah mengganti pakaian sebanyak tiga kali karena Embun tidak yakin dengan warna pakaian yang ia kenakan.
“Ya udah, ini aja.” Sekali lagi Embun memutar tubuhnya di depan cermin. Warna biru navy cukup menyamarkan ukuran perutnya.
*
*
__ADS_1
*
Aby menggandeng istrinya memasuki gedung hotel tempat acara berlangsung. Suasana tampak sangat ramai malam itu. Para tamu sudah berdatangan memenuhi gedung.
“Ramai ya, Mas,” bisik Embun sambil melirik ke kanan dan kiri, dengan tangan yang melingkar di lengan suaminya. Embun seperti sedang mencari seseorang yang mungkin dikenalnya di antara para tamu.
“He-em. Kayaknya ramai karena pendiri perusahaan akan datang malam ini. Tahun lalu juga ramai, tapi nggak seramai ini.”
"Pemilik perusahaan tempat kamu bekerja itu misterius ya, Mas."
"Iya. Katanya dia nggak terlalu suka dunia bisnis. Makanya perusahaannya diserahkan Pak Beny, lalu setelah Pak Beny pensiun diganti sama Pak Desta."
Sesekali Aby terlihat saling menyapa dengan beberapa staf lain yang kebetulan berpapasan. Beberapa di antaranya sempat terkejut, sebab datang dengan menggandeng Embun, mahasiswi yang pernah magang di kantor.
"Bukannya yang sama Pak Aby itu si Embun, ya? Yang pernah magang kan? Yang pernah dideketin sama Pak Andre," bisik salah satu staf wanita.
"Iya, kayaknya itu memang Embun sih. Tapi kayaknya dia lagi hamil besar, ya? Apa jangan-jangan nikahnya sama Pak Aby?" Yang lainnya balas berbisik.
"Mungkin juga sih. Tapi waktu itu ngakunya sepupu."
Di sisi lain, Embun semakin mengeratkan genggaman tangannya. Ia sedikit risih setelah menyadari beberapa staf lama sedang melirik ke arahnya. Sementara Aby malah terlihat sangat santai dan memasang sikap cool seperti biasa.
Tentu saja sebagian orang terheran, sebab status pernikahannya dengan Aby memang sempat dirahasiakan saat Embun magang di perusahaan itu.
"Sayang, kita duduk di sana, yuk!" Aby memilih sebuah meja yang berada di tengah. Ia menarik kursi untuk sang istri. "Mau makan sesuatu? Aku ambilkan."
"Nanti aja, Mas. Aku mau tunggu Vania. Siapa tahu Kak Dewa ajak Vania ke sini."
"Oh ...."
Obrolan itu pun harus terhenti dengan kehadiran Pak Desta yang tiba-tiba menyapa.
“Kamu sudah datang, By?”
__ADS_1
“Eh, iya, Pak.”
Lelaki itu tersenyum ramah kepada Aby dan Embun. “Kalau begitu mari, kita temui dulu pendiri May-Day. Kebetulan saya juga baru mau menyapa."
"Baik, Pak." Aby berdiri dari kursi, lalu mengulurkan tangan kepada Embun.
"Oh ya, katanya beliau sudah kenal kamu dengan baik, ya? Saya baru tahu, loh,” ucap Pak Desta.
Aby menatap CEO perusahaannya itu dengan kerutan tipis di kedua alisnya. “Tapi, saya belum pernah ketemu, Pak. Saya juga belum tahu siapa beliau.”
“Masa sih?” ucap lelaki itu turut heran. “Tapi katanya sudah sering ketemu kamu.”
Aby melirik Embun dengan penuh tanya. Namun, Embun pun terlihat sama bingungnya.
“Aku di sini aja deh, Mas. Kamu aja yang ke sana.”
“Masa kamu ditinggal sendiri di sini. Ayo, nggak apa-apa,” ucap Aby.
"Tapi, Mas ...."
"Udah, Sayang. Nggak apa-apa. Nggak peduli sama orang-orang yang liatin kamu."
Meskipun sedikit malu-malu, akhirnya Embun mengikuti keinginan suaminya. Mereka berjalan menuju tengah gedung di mana terlihat kerumunan. Tetapi, kerumunan itu langsung membubarkan diri saat melihat Pak Desta mendekat.
“Hey, Pak Desta. Lama nggak ketemu.” Pria paruh baya yang konon katanya pendiri May-Day itu menyambut dengan pelukan.
“Iya, Pak. Terakhir tahun lalu,” balas Pak Desta. “Oh ya, ini Abymanyu Fahreza, kepala divisi produksi yang waktu itu saya rekomendasikan ke Bapak untuk promosi naik jabatan.”
Kala sang pemilik May-Day tersebut menyambut dengan senyum ramah, Aby dan Embun malah terpaku di tempat. Keduanya nyaris tak percaya melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.
“Loh, Om?” sapa Embun. Masih tak percaya bahwa pemilik perusahaan tempat suaminya bekerja ternyata adalah Dokter Allan, tetangga lamanya sekaligus ayah Dewa.
Sama seperti Embun, Aby pun seolah kehilangan kata. Dokter yang menangani Embun selama ini ternyata adalah pemilik tempatnya bekerja.
__ADS_1
...****...