Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Khawatir Semakin Parah


__ADS_3

Hay Readerlicious Cantikly, Hari ini aku sudah up 4 bab, loh. Biar kalian bahagia. Besok lagi yaaa...


Sekarang aku harus crazy up lagi di Lapak Daniza.


"Anda Poas saya lemes deh !!!"


Apa sih yang tidak untuk kamu? Iya, Kamu!


🤣🤣🤣


Gak usah di Vote lagi yaaa. Soalnya novel ini sudah ada lebel End- nya.


Komen aja banyakin.


Edisi malak komen. wkwkkw


*


*


*


****


Mita pun ikut panik melihat Embun yang pucat dan tak sadarkan diri di pangkuan bunda.


"Bunda, lebih baik kita bawa Embun ke rumah sakit," ucap Mita cepat.


"Iya, Nak. Aduh, Embun ... bangun, Sayang!" Bunda menepuk pipi menantunya beberapa kali, namun, Embun tak kunjung tersadar.


Hanya dalam hitungan detik, ayah dan Oma sudah datang dari arah dapur. Keduanya tampak terkejut. Namun, hanya ayah yang mendekati Embun dan berdiri . Sementara Oma berdiri terpaku di tempat.


"Embun kenapa?" tanya ayah panik.


"Nggak tahu, Yah. Tiba-tiba pingsan!" Sepasang mata bunda melelehkan air mata. Dia mengusap wajah menantunya yang pucat. "Cepat, Yah! Kita bawa Embun ke rumah sakit."


"Iya -iya! Ayah tidak tahu harus bagaimana. Ia tak akan mampu menggotong Embun seorang diri ke mobil. "Mita, tolong panggilkan Mang Dadang cepat!"


"Iya, Ayah!"


Mita dengan cepat berlari keluar meminta tolong kepada seorang sopir. Kurang dari dua menit gadis itu sudah kembali bersama Mang Dadang. Mereka pun membopong Embun bersama.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, bunda tidak henti-hentinya menangis sambil berusaha membangunkan Embun yang berada di pangkuannya.

__ADS_1


"Cepat, Mang Dadang!"


"I-Iya, Bu!"


Sementara ayah yang duduk di kursi depan sesekali menatap ke belakang dengan panik. Bunda terus menangis, sementara Mita membalurkan minyak kayu putih ke sekitar leher, kening dan kaki.


Wajah Embun yang sangat pucat dan tak kunjung sadar membuat semua khawatir.


Bunda saat itu tersadar. Ia meraih ponsel dan segera menghubungi Aby.


*


*


*


Di kantor


Aby sedang memeriksa berkas bersama seorang rekan kerja ketika ponsel miliknya berdering.


Pria itu tersenyum sekilas, lalu meminta izin untuk melihat siapa yang menghubunginya. Begitu melihat nama bunda di layar, dahinya sedikit berkerut. Tidak biasanya bunda menghubungi di jam kerja jika bukan untuk sesuatu yang penting.


"Maaf, saya jawab telepon sebentar!" ucap Aby.


"Silahkan, Pak!"


"Iya, Bunda," ucap Aby sesaat setelah panggilan terhubung.


"Aby, kamu di mana?"


Jantung Aby terasa semakin bergemuruh ketika mendengar nada bicara bunda yang panik. Bahkan terdengar terisak.


"Aku di kantor, Bunda. Kenapa, bunda kok kedengaran panik?"


"Embun pingsan. Bunda sama ayah lagi di jalan mau ke rumah sakit bawa Embun."


Seketika bola mata Aby membulat. Seluruh tubuhnya terasa gemetar. Hampir saja ponsel di tangannya terjatuh.


"Embun pingsan, Bunda?" tanyanya panik.


"Iya, Nak! Kamu cepat nyusul ya! Kita bawa Embun ke Rumah sakit Cipta Harapan."


"I-Iya, Bunda. Aku ke sana sekarang. Bunda, aku titip Embun, ya."

__ADS_1


"Iya, Nak!"


Panggilan terputus. Aby terlihat semakin panik. Tiga rekan kerja yang tadi berdiskusi dengannya menatap penuh tanya.


"Ada apa, Pak?" tanya salah satu dari mereka.


"Maaf, sepertinya saya harus pergi. Istri saya sedang dilarikan ke rumah sakit." Sebenarnya Aby tidak enak pergi begitu saja. Namun, ia tiada peduli. Baginya Embun lebih penting dari apapun.


"Iya, Pak, silahkan. Kita bisa bicarakan ini besok!"


Tanpa menunggu lagi, Aby berlari cepat menuju lobi. Ia memarkir mobil di halaman depan kantor. Mobil pun melesat di tengah keramaian jalan.


*


*


*


Aby berlari kecil menyusuri Instalasi Gawat Darurat sambil mencari keberadaan istrinya. Tak lama setelahnya, ia melihat ayah, bunda dan Mita sedang duduk menunggu di depan sebuah ruangan berpintu kaca.


"Bunda, bagaimana Embun?" tanya Aby masih dengan kepanikan yang sama.


"Embun sedang ditangani di dalam. Kamu tenang, ya. Duduk dulu, Nak!" bujuk bunda.


Namun, bukannya tenang, Aby malah semakin gelisah. "Kenapa Embun bisa pingsan sih, Bunda?"


"Embun habis bertengkar sama Oma, Kak," jawab Mita.


"Bertengkar? Kok bisa?" Aby menatap ayah dan bunda demi mendapat penjelasan lebih. Namun keduanya diam.


"Oma yang salah, Kak!" Lagi, Mita menjawab. "Aku lihat sendiri bagaimana Oma marahin Embun. Padahal, Embun udah baik mau buatin Oma teh. Tapi Oma malah marah-marah dan bilang tehnya kemanisan. Oma juga bilang Embun tidak pantas ada di keluarga kita." Jawaban panjang Mita membuat kedua tangan Aby mengepal sempurna.


Geram rasanya. Kali ini ia akan mengambil sikap tegas dan menjauhkan Embun dari Omanya yang galak itu.


Tak lama berselang, pintu kaca itu terbuka dan memunculkan seorang wanita berpakaian putih. Memecah ketegangan yang sempat mewarnai. Aby, ayah, bunda dan Mita segera berdiri menghampiri wanita itu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Sus?" tanya Aby tampak sangat khawatir. Ia takut pingsannya Embun disebabkan oleh kista yang parah.


Ayah, bunda dan Mita pun tampak cukup tegang. Apa lagi tadi Embun sangat pucat.


Sang perawat tersenyum ramah, lalu membuka masker yang menutup hidung dan mulut.


"Pasien tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan. Pada trimester pertama kehamilan, gejala mual, muntah, pusing sampai pingsan memang biasa terjadi." Jawaban yang diberikan perawat senior itu membuat semua orang yang ada di sana membeku.

__ADS_1


"Ha-hamil?" Suara Aby terdengar gemetar. Sepasang matanya berkaca-kaca.


...*****...


__ADS_2