
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Aby tiba di rumah. Sejenak ia melepas lelah dengan bersandar di mobil. Hari ini cukup melelahkan baginya.
Baru saja turun dari mobil, Aby sudah dikejutkan dengan keberadaan Siska, yang sedang duduk di tembok pembatas antara rumah mereka. Pakaiannya yang serba ketat memamerkan lekukan tubuhnya yang ramping. Wajahnya pun dipoles dengan make up yang bagi Aby cukup berlebihan di jam tidur.
"Selamat malam, Kak. Baru pulang, ya?" sapa Siska ramah. Wanita itu tersenyum lebar dan langsung berdiri.
"Iya," jawab Aby seadanya.
Mendadak senyum yang terlukis indah di bibir Siska meredup. Jika ia pikir Aby akan melirik atau sekedar mengobrol sebentar, maka salah besar. Karena pria itu malah membuang pandangan dan langsung masuk ke rumah tanpa memerdulikan keberadaan dirinya di sana.
Sapaannya pun dibalas Aby dengan sikap dingin. Siska hanya dapat menatap nanar pintu yang baru saja tertutup.
"Cuek amat sih?" ujarnya dengan bibir mengerucut.
Sementara itu, di dalam rumah ....
Aby memulas senyum saat melewati ruang keluarga. Embun terlihat sedang tertidur di atas sofa dengan TV yang masih menyala. Sepertinya ia ketiduran karena menunggu suaminya pulang.
Perlahan Aby mendekat. Berjongkok di sisi sofa dan membenamkan ciuman di kening. Tangannya yang lebar membelai rambut sang istri. Tak tega membangunkan, Aby pun menggendong tubuh kecil itu. Membuat Embun segera terbangun ketika merasakan tubuhnya melayang.
"Mas, turunkan aku!" pintanya seraya melingkarkan tangan di punggung leher suaminya.
"Aku gendong aja ke kamar."
"Jatuh nanti, aku berat."
"Berat apanya? Nggak sama sekali!"
Embun mengeratkan tangan yang melingkar di tubuh suaminya ketika melewati tangga menuju kamar. Aby terlihat begitu santai membopong tubuhnya. Hingga akhirnya, ia merebahkan istrinya di tempat tidur.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu, gerah. Kamu tidur duluan aja."
Embun hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, aby keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggang. Ia melihat Embun yang ternyata masih duduk bersandar.
"Kamu belum tidur?" tanyanya.
"Nungguin kamu."
Aby meraih celana piyama yang diletakkan Embun di tepi ranjang. Seperti biasa, Aby tidak pernah mau menggunakan baju saat tidur. Dadanya dibiarkan terbuka saja sepanjang malam.
Begitu menaiki tempat tidur, Embun langsung beringsut memeluk suaminya, menyesap aroma segar yang menguar dari tubuh tegap itu.
"Kamu sudah makan?" tanya Aby sambil membelai pucuk kepala istrinya.
"Sudah, tadi sama Siska. Mas sudah?"
"Sayang, ada sesuatu yang mau aku beritahukan ke kamu."
Sejenak Embun mendongak menatap suaminya yang tampak serius. "Sesuatu apa?"
"Aku harus keluar kota dalam waktu dekat, ada masalah dengan supplier bahan baku di luar kota. Nggak lama, kok. Paling lama satu minggu."
"Terus aku?"
"Selama aku di luar kota, kamu bisa tinggal di rumah bunda atau di rumah mama."
Sebenarnya Embun sangat tidak rela jika harus ditinggal Aby keluar kota. Hubungan mereka sedang manis-manisnya, dan ia tidak akan bisa jika harus jauh dari Aby walaupun hanya untuk beberapa hari.
__ADS_1
"Tapi nggak lebih dari satu Minggu, kan?" tanya Embun ingin memastikan.
"Nggak. Begitu urusannya selesai, aku langsung pulang."
Setelah berbincang sebentar, Aby membaringkan tubuh mereka. Selimut ia tarik hingga batas pinggang. Keduanya berbagi kehangatan dengan saling mendekap satu sama lain. Dan ini lah yang akan dirindukan Embun jika Aby tidak ada di sisinya, karena sudah terbiasa menggunakan lengan suaminya sebagai bantal.
"Ada sesuatu lagi yang mau aku bicarakan," bisik Aby beberapa saat kemudian.
"Apa?"
Aby menatap istrinya mesra. "Sayang, sepertinya aku mau cepat punya anak, deh. Kemarin bunda juga bilang, berharap kamu cepat hamil."
Embun sedikit terkejut mendengar keinginan Aby. Selama menikah, ini adalah pertama kali suaminya itu membahas tentang anak.
"Tapi aku masih kuliah. Boleh nggak, kalau hamilnya nanti aja habis wisuda? Jadi aku akan lebih banyak waktu di rumah."
"Kan nggak masalah. Banyak kok mahasiswi yang kuliah walau sedang hamil. Lagian kamu wisudanya beberapa bulan lagi, kan?"
"Iya, sih. Tapi malu kalau ke kampus perutnya buncit."
"Malu kenapa sih, orang kamu punya suami. Kalau kamu nggak punya suami, baru malu."
"Tapi ...." Ucapan Embun menggantung. Sebenarnya, ia sama sekali tidak keberatan jika Aby menginginkan seorang anak. Tetapi, baginya akan lebih baik jika direncanakan dengan matang.
Aby menatap istrinya yang sudah terlihat meragu. Tak ingin Embun terbebani dengan keinginannya, ia menarik wanita itu ke peluknya lebih dalam.
"Ya udah, nggak apa-apa kalau belum mau hamil. Aku nggak akan maksa."
"Tapi Kinder Boy akan terus usaha sampai berhasil," tambahnya dalam hati.
__ADS_1
...*****...