Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 58 : Sudah Baikan?


__ADS_3

Kata orang aktivitas bercinta dapat menumbuhkan benih-benih kasih sayang antara pasangan, serta mendekatkan satu sama lain dan membentuk ikatan batin. Aby merasa ungkapan tersebut memang benar adanya. Sentuhan dengan Embun semalam menciptakan rasa hangat yang sulit ia mengerti. 


Pagi hari, Aby keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Laki-laki itu memulas senyum kala pandangannya mengarah kepada sang istri yang masih begitu lelap di bawah selimut. Perlahan ia mendekat, lalu mengusap punggung polos istrinya yang terbaring dalam posisi tengkurap. 


"Bangun, Sayang. Sudah pagi. Kamu nggak ada mata kuliah hari ini?" 


Namun, tak ada jawaban dari wanita itu. Aby pun mencium pipi, sebelum akhirnya bangkit dan mengenakan pakaian kerja. Sambil menyisir rambut, ia bersiul. Membayangkan aktivitas menguras tenaga yang terjadi semalam. 


Ia kembali menatap istrinya melalui pantulan cermin. Embun belum juga bergerak dan Aby yakin istrinya itu benar-benar kelelahan. Karena semalam, ia kembali menguji kekuatan megalodon miliknya. 


"Hey, Sayang. Bangun." Ia berbisik lembut. 


Karena tak kunjung terbangun, akhirnya Aby memutuskan mengusik sang istri dengan ciuman demi ciuman. Awalnya, Embun sama sekali tak terganggu. Tetapi, lama kelamaan ia mulai menggeliat. Suara Aby yang awalnya terdengar samar semakin jelas ditangkap indera pendengarannya. 


Perlahan, Embun membuka mata dan mendapati Aby tengah tersenyum memandanginya. Terukir kerutan dalam di kening ketika melihat suaminya itu sudah rapi dengan pakaian kerja. 


"Aduh, badanku kayak remuk." Embun merubah posisi tubuhnya. Kembali menatap sang suami, lalu bangun dengan memeluk selimut di dadanya. Kemudian merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. 


"Jadi gimana? Mau istirahat di rumah aja hari ini?" Aby bertanya sekaligus mengusulkan. Sambil mengancingkan ujung lengan kemejanya. 


"Aku ada mata kuliah jam sepuluh." Embun membenarkan posisi duduknya. Kedua tangannya masih memegang selimut yang hampir melorot. Memamerkan bahu putih bersih nan menggoda, dengan beberapa tanda merah yang ditinggalkan Aby dari aktivitas semalam. 


Sebuah pelukan hangat diberikan Aby untuk istrinya. Tangannya bergerak mengusap rambut, dan turun ke punggung. Sesekali ia menciumi bahu polos dengan sisa aroma parfum yang bercampur bau keringat. 


"Makasih untuk semalam. Kamu luar biasa," bisik Aby tepat di telinga Embun. 


Wanita itu tersipu mendengar pujian dari suaminya. Lalu, menyandarkan kepala di dada bidang itu. Aroma segar yang menguar dari tubuh Aby benar-benar memanjakan penciumannya. Tanpa sadar, Embun sudah mendongak dan mencium lekukan leher suaminya. 


Semakin candu karena rahang dan dan dagu suaminya itu benar-benar bersih dari bulu-bulu halus. Ya, Aby tidak pernah membiarkan bulu-bulu halus tumbuh di wajahnya. 


"Jadi gimana? Mau berangkat bareng atau kamu nanti aja? Aku ada meeting jam sembilan pagi." 


"Mau bareng. Nanti aku sambil tunggu di kantin aja." 


"Ya udah, cepat bangun dan mandi. Nanti kita sarapan di kedai yang waktu itu." 


Dengan lembut Aby melepas pelukan. Kemudian mencium kening istrinya, sebelum akhirnya bangkit menuju meja dan melingkarkan arloji di pergelangan tangan. 


Sementara Embun terdiam beberapa saat memandangi punggung tegap suaminya. Tubuh kokoh itulah yang semalam melahapnya tanpa ampun, hingga terkapar tak berdaya. Embun bahkan masih merasakan sisa-sisa dari buasnya Aby semalam, tepat di bagian bawah tubuhnya yang kini terasa ngilu. 


"Ah, sakit!" 

__ADS_1


Embun mendesis kala melangkahkan kaki untuk pertama kali. Bagian bawah tubuhnya terasa nyeri. Aby yang tengah mengenakan sepatu menatapnya seketika. 


"Bisa jalan sendiri ke kamar mandi?" 


"Bisa." Dengan langkah terseok-seok, Embun menuju kamar mandi. Aby menatapnya dengan senyum penuh kebanggaan. 


"Ini Brontosaurus tangguh juga, ya!" pujinya kepada monster kecil yang bersembunyi di balik celana. 


.


.


Sudah beberapa kali Aby melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjuk ke angka 07:15. Hampir tiga puluh menit ia menunggu, namun Embun tak kunjung keluar kamar. 


"Dia ngapain sih di dalam?" tanyanya kepada diri sendiri. 


Karena tak kunjung keluar, ia segera kembali ke kamar. Menghela napas panjang saat menatap istrinya yang masih duduk di meja rias. 


"Masih lama?" 


Embun menatap suaminya sekilas, lalu kembali menatap cermin sambil mengoleskan spons bedak ke bagian lehernya. "Sebentar, Mas. Ini di leherku banyak tanda merahnya." 


"Masa sih? Coba aku lihat."


"Nggak apa-apa. Tutupin pakai bedak aja," usulnya. "Cepat yuk, kita kan mau mampir sarapan dulu." 


"Iya, Mas." 


Embun segera memoles leher dengan bedak hingga cukup tersamar. Lalu, segera bangkit mengikuti langkah suaminya yang sudah keluar lebih dulu. 


.


.


"Pulangnya jam berapa?" tanya Aby sesaat setelah mobil terhenti di depan gedung kampus. Mereka juga baru saja mampir di sebuah kedai untuk sarapan. 


"Agak sore kayaknya." Embun menjawab singkat sambil menatap pantulan wajahnya pada kaca spion. 


"Aku jemput, ya," tawarnya sambil mendekat dan membantu melepas seatbelt. 


Embun mengangguk diiringi senyum manis. Baru saja akan membuka pintu mobil, Aby sudah menarik pergelangan tangannya hingga membentur dada bidang laki-laki itu. 

__ADS_1


"Kamu selalu buru-buru turun kalau aku antar," protes Aby. Seraya menjelajahi wajah istrinya. 


Dengan gerakan cepat dan lembut, ia sudah menyatukan kedua bibir itu. 


.


.


Embun sedang menghabiskan waktunya sore itu dengan duduk di kelas seorang diri sambil menanti kedatangan suaminya. Aby baru saja mengabarkan agak terlambat menjemput karena ada rapat dadakan. Sebuah buku bacaan digunakan Embun sebagai pengusir jenuh. 


"Hai Embun!" 


Perhatian Embun sejenak teralihkan kepada Mega yang datang secara tiba-tiba dan duduk tepat di hadapannya. Wanita yang selalu tampak tersenyum ramah itu sedang menatapnya penuh selidik. 


"Kamu kenapa hari ini kayak lemas gitu? Kamu sakit?" tanyanya.


Embun menggeleng pelan. Hari ini ia memang merasakan lemas pada tubuhnya akibat begadang bersama Aby semalam. "Nggak, kok. Cuma kecapean." 


"Oh ... terus kenapa belum pulang?" tanyanya lagi, mengingat hari sudah sore dan kampus mulai sepi.


"Aku menunggu suamiku. Katanya ada rapat di kantor, makanya agak telat jemput." 


Entah mengapa Mega tampak sedikit terkejut mendengar jawaban Embun. "Menunggu suami? Kamu sudah baikan sama Kak Aby? Bukannya waktu itu kamu mau menggugat cerai?" 


Embun langsung menatap Mega heran. Belum pernah sekali pun ia menceritakan masalah rumah tangganya dengan seseorang. Lalu, apakah Mega mengetahui masalah mereka dari Vania? 


"Kamu tahu dari mana masalah itu? Aku kan nggak pernah cerita masalahku ke orang lain?"


Mega tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan jari. "Siapa sih yang nggak tahu masalah kamu sama Vania? Hampir semua orang tahu, kok," jelas perempuan cantik berambut menyerupai warna madu itu. "Jadi gimana? Kamu jadi cerai?" 


Dahi Embun kembali berkerut tipis. Ia yakin Mega belum tahu bahwa dirinya dan Aby telah melakukan ijab kabul ulang dan telah bersama kembali. 


"Enggak kok. Aku sama Mas Aby sudah sepakat mau memulai semuanya dari awal lagi." 


"Kalian baikan?" 


Embun mengangguk sebagai jawaban. Senyum tipis terlihat di sudut bibirnya.


Sementara Mega terdiam sejenak. Wanita itu malah terfokus pada tanda merah di sekitar leher Embun. Ia yakin tanda itu adalah sisa percintaan yang ditinggalkan Aby.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang kalau kalian baikan. Vania juga sudah ditahan, kan?"

__ADS_1


...****...


__ADS_2