Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 85 : Ada apa ini?


__ADS_3

Tidak mudah berpikir jernih saat suasana hati sedang kacau bak benang kusut. Terkadang seseorang bahkan tidak mampu mengendalikan diri dengan baik. Inilah yang sekarang terjadi pada Aby. Bohong jika pertengkaran dengan Embun pagi tadi tidak menjadi alasan di balik berantakannya segala urusan hari ini. Ia benar-benar sedang frustrasi. 


Aby menyandarkan punggung di kursi. Matanya terpejam beberapa saat demi melepas penat. Sambil memikirkan apakah tindakannya beberapa hari belakang ini salah atau benar.


"Hey! Malah rebahan!" Tepukan yang mendarat di bahu menyadarkan Aby. Sepasang matanya kembali terbuka, hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah sebuah brosur produk terbaru perusahaan bergambar seorang wanita hamil dengan perut membesar, yang baru saja diletakkan Dewa di meja.


"Minggu depan peluncuran produknya. Pak Desta puas dengan hasil kerja tim kita, terutama kamu."


"Hemm ...." Tak ada ekspresi berlebihan dari Aby mendengar pujian dari pimpinan tertinggi perusahaan itu.


Ketika Dewa beranjak pergi, angan-angan pun melayang jauh. Aby kembali melirik gambar pada brosur. Pasti akan sangat lucu melihat Embun dengan perut membesar suatu hari nanti. Akan ada hari-hari mendebarkan menanti kelahiran sang buah hati. Tetapi, sepertinya Aby harus mengubur dalam-dalam keinginannya. Karena tanpa alasan yang jelas, Embun menolak keinginan Aby untuk memiliki anak dalam waktu dekat. 


"Semua orang yang sudah menikah pasti mau punya anak, kan? Tapi kenapa Embun malah sebaliknya?" 


Aby diam dalam pikiran yang melayang. Hanya satu orang yang dapat menjawab segala pertanyaan yang memenuhi benaknya sekarang.


"Mama ...." 


Dan benar saja, sore ini selepas jam kerja, Aby bertolak menuju rumah sang mertua. Kedatangannya pun disambut Mama Rima dengan senyum lebar. 

__ADS_1


"Aby?" Wanita itu melongokkan kepala keluar demi mencari putrinya, namun tak terlihat Embun di sana. "Kamu sendirian? Embun di mana?" 


Aby mengulas senyum tipis. "Embun di rumah, Mah. Aku baru pulang kantor langsung ke sini." 


Tatapan penuh tanya diarahkan Mama Rima kepada sang menantu. Tidak biasanya Aby datang seorang diri tanpa Embun. Apakah sedang ada sesuatu yang terjadi? 


"Kalau begitu masuk dulu. Kita ngobrol di dalam aja." Ia mempersilahkan sang mantu duduk di sofa ruang keluarga. "Sebentar, Mama buatkan teh dulu, ya." 


Aby menyahut dengan senyum dan anggukan. Hingga beberapa menit berlalu, Mama Rima kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi secangkir teh dan juga beberapa camilan. 


"Diminum, Nak Aby," ucap Mama Rima dengan ramah, lalu menjatuhkan tubuhnya pada sebuah kursi tunggal. 


"Makasih, Mah."


"Iya, Mah. Nanti aku bilang sama Embun," jawab Aby. "Em ... Mah, sebenarnya aku kemari mau menanyakan sesuatu." 


Seketika senyum ramah yang menghiasi wajah sang mertua meredup. Terlebih setelah menyadari raut wajah Aby yang tampak serius. Sekarang ia yakin jika memang sedang terjadi sesuatu terhadap anak dan menantunya. 


"Mau tanya apa, By?" 

__ADS_1


Aby terdiam beberapa saat dengan pandangan tertuju ke lantai. Seperti sedang memilih sebuah kata yang tepat agar sang mertua tidak salah paham dengan pertanyaan yang akan ia berikan. 


"Sebenarnya ini sesuatu yang agak pribadi. Tentang Embun." 


Kerutan di dahi Mama Rima semakin dalam. Jika memang hal pribadi, mengapa tak ia bicarakan berdua dengan istrinya?


"Memang ada apa dengan Embun?" 


"Sebelumnya aku minta maaf kalau harus menanyakan hal seperti ini ke Mama. Aku juga nggak enak sebenarnya, Mah."


Mama Rima mengangguk mengerti. Baginya Aby dan Embun adalah anaknya, bukan lagi menantu.


"Kalian berdua ada masalah?"


Aby mengangguk.


"Aku merasa Embun sedang merahasiakan sesuatu dari aku. Setiap aku bahas tentang rencana memiliki anak, dia seperti ketakutan." 


Mendadak raut wajah Mama Rima memucat dalam hitungan detik. Sepasang bola matanya pun berkaca-kaca. Dan tentu saja Aby dengan cepat dapat membaca reaksi terkejut sang mertua. 

__ADS_1


Kenapa reaksi mama sama seperti Embun? Ada apa sama Embun? 


*** 


__ADS_2