Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Generasi Tuan Krabs!


__ADS_3

Informasi yang diberikan perawat membuat Aby kehilangan kata-kata. Sepenuh hatinya masih dipenuhi pertanyaan apakah pendengarannya tidak salah? 


Sementara Ayah dan bunda mengulas senyum bahagia. Tentu saja kehamilan Embun menjadi berita paling membahagiakan bagi mereka. 


"Istri saya ... hamil?" Suara Aby terdengar gemetar. 


"Memang Bapak belum tahu?" tanya sang perawat sedikit terkejut.


Tak mampu menjawab dengan lisan akibat lidahnya yang terasa kaku, Aby hanya menggelengkan kepala dengan tampang yang terlihat bodoh.


"Suster yakin istri saya hamil?" tanyanya lagi hendak memastikan. 


"Iya, Pak. Untuk memastikan bisa dilakukan pemeriksaan urin atau USG setelah pasien sadar." 


"Baik, Suster. Terima kasih banyak!" 


"Sama-sama. Sekarang pasien belum sadar. Kalau mau masuk, harap bergantian, ya." 


"Baik, Sus!" 


Setelah memberikan ucapan selamat, wanita itu pun berlalu. Bunda langsung mendekat dan memeluk Aby. Suasana haru mewarnai ruangan itu. 


"Selamat ya, By. Akhirnya kamu akan menjadi seorang papa. Bunda sangat bahagia mendengar kabar ini." 


"Iya, Bunda." 


Bunda melepas pelukan sambil mengusap ujung matanya yang basah. Pada saat itu terdengar langkah kaki yang cepat. Semua menoleh ke sumber suara. Mama Rima tampak berlari kecil dengan raut muka panik. Tadi, setelah mendapat kabar dari bunda, ia segera menuju rumah sakit. 


"Embun kenapa, Aby?" tanya sang mama dengan terisak-isak. Kekhawatiran sudah memenuhi hatinya. 

__ADS_1


Namun, Aby merangkul mertuanya demi menenangkan. Laki-laki itu mengulas senyum. "Embun nggak apa-apa, Mah." 


"Kalau nggak apa-apa kenapa Embun dibawa ke rumah sakit? Apa ada masalah sama Embun?" Pertanyaan beruntun itu membuat Aby kembali menggeleng.


"Suster bilang Embun pingsan karena efek kehamilan, Mah. Embun nggak apa-apa."  


Seketika tangis bunda terhenti. Ia menatap Aby seolah tak percaya. "Embun hamil?" 


"Iya, Mah."


Seluruh kekhawatiran mama luntur saat itu juga. Berganti menjadi rasa bahagia yang tak dapat ia sembunyikan. Mama mengusap air mata yang membanjiri kedua sisi pipinya.


"Sekarang embun di mana?" 


"Di dalam, Mah. Embun belum sadar. Tapi kata suster tadi, kalau mau masuk harus gantian." 


Mama beranjak menuju jendela kaca. Namun, mama tak dapat melihat putrinya di dalam sana, karena ruangan itu dibatasi oleh tirai.


*


*



Aby menjatuhkan tubuhnya pada kursi di sisi ranjang pasien. Menatap lekat-lekat wajah istrinya yang pucat. Satu tangannya menggenggam tangan Embun, sementara tangan satunya membelai puncak kepala. 


Aby mendekatkan wajahnya dan mencium kening penuh kasih. Meskipun masih dikuasai rasa khawatir, namun ada kebahagiaan yang membuncah di hati. Akan menjadi seorang ayah adalah berkah luar biasa bagi Aby. 


"Sayang," bisiknya sambil membelai wajah. 

__ADS_1


Setelah beberapa kai berusaha membangunkan, akhirnya Embun membuka mata perlahan. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah tatapan penuh cinta sang suami. Pandangan Embun lantas meneliti ruangan yang baginya asing itu. 


"Mas, ini di mana?" 


Aby masih menatapnya dengan senyuman. Kali ini dengan mata berkaca-kaca. "Kamu di rumah sakit. Bunda bilang kamu pingsan, jadi dibawa ke sini." 


Embun berusaha mengingat kembai kejadian tadi, ketika bertengkar dengan oma di dapur. Hal yang membuatnya marah dan kecewa sehingga meninggalkan omanya itu. 


Kamu masih lemas? Atau pusing?" tanya Aby. 


"Sedikit." Embun memijat kening. Ia memang masih merasakan denyutan di sana. Namun, sensasi mual sudah berkurang. Kini ingatannya tertuju pada oma. "Mas, aku minta maaf sudah tidak sopan sama oma." 


"Nggak apa-apa, Sayang. Bukan salah kamu. Mita sudah cerita semua." Dengan penuh kelembutan ia membelai wajah istrinya. Mata Aby yang berkaca-kaca membuat Embun menduga sedang terjadi hal serius dengan dirinya. 


"Apa kondisi aku semakin parah?" tanyanya. 


"Iya, kondisi kamu sedikit parah." terlukis kerutan di dahi mulus Embun. Jika memang keadaannya semakin parah, mengapa Aby terlihat sangat bahagia? Padahal biasanya ia muntah saja, sudah membuat Aby panik. 


Embun sudah hampir menangis. 


"Terutama untuk beberapa bulan ke depan," lanjut Aby. "Perawat bilang kamu ... hamil." 


Rasanya seluruh tubuh Embun membeku. Dalam hitungan detik cairan bening sudah memenuhi bola matanya. Ia bahkan belum dapat mempercayai ucapan suaminya. 


"Kamu bercanda, kan?" Tanpa terasa air matanya terjatuh. Embun sedang mengira Aby berbohong hanya untuk menghiburnya. 


"Nggak, Sayang. Perawat sendiri yang bilang tadi. Kamu akan menjadi seorang ibu. Selamat untuk kita." 


Embun melelehkan air mata. Membuat Aby langsung memeluk istrinya itu.

__ADS_1


Akhirnya Tuan Krabs berhasil mencetak generasi Krabby Patty. 


*****


__ADS_2