Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 62 : Aktor Paling Berjasa Di Muka Bumi


__ADS_3

Perlahan kelopak mata Embun terbuka saat meraba pembaringan dan tidak menemukan sang suami di sisinya. Embun menatap sekeliling. Suasana kamar yang temaram menandai bahwa di luar masih gelap. Benar saja, saat menatap jam yang melekat di dinding, waktu masih menunjuk ke angka empat. 


Embun merubah posisi dengan duduk bersandar. Pintu menuju balkon kamaar yang terbuka sedikit menandakan bahwa suaminya sedang berada di balkon. Segera saja Embun membalut tubuh polosnya dengan jubah piyama. Lalu, menyusul suaminya ke balkon. Aby tampak berdiri dengan posisi membelakanginya. 


"Mas ...." 


Lamunan Aby membuyar ketika merasakan sepasang tangan melingkar di pinggang. Juga dengan kepala Embun yang sudah bersandar di punggung tegapnya. 


"Kamu terbangun?" 


"Iya," jawabnya singkat. "Kamu belum tidur, ya?" 


Aby menghela napas panjang, kemudian membalikkan tubuhnya dan membenamkan tubuh mungil Embun ke dalam peluknya. Lalu, menciumi ubun-ubun wanitanya itu. 


"Tadi tidur sih. Tapi bangun lagi," jawabnya seraya mengeratkan pelukan. Tubuh Embun yang mungil dengan tinggi badan hanya sebatas dagu terasa menggemaskan bagi Aby. 


"Kenapa? Lagi banyak pikiran?" 


"Huum. Padahal otaknya cuma satu tapi pikirannya banyak." 


Embun tertawa kecil mendengar candaan suaminya. Sekarang ia merasa Aby sangat berbeda. Begitu perhatian, penyayang, lembut dan terkadang lucu. Pantas saja Vania dan Mega benar-benar takluk pada pesona suaminya itu. 


"Memikirkan masalah yang tadi?" tebak Embun, masih dengan tangan yang melingkar di pinggang suaminya. 


"Iya. Jujur saja, aku jadi merasa takut kamu ke mana-mana sendirian." 


Walaupun Mega sudah tertangkap, namun apa yang terjadi kepada Embun belakangan ini membuatnya sedikit paranoid. Mulai dari Embun yang jatuh ke jurang, kecelakaan di restoran hingga penyekapan semalam. Aby pikir harus menjaga Embun lebih ketat. 

__ADS_1


Aby melepas pelukan setelah beberapa saat kemudian. 


"Kita ke kamar aja, yuk. Udara di luar dingin." Ia merangkul bahu istrinya memasuki kamar. 


Embun mengganti jubah piyama dengan piyama dress berbahan satin. Keduanya pun kembali berbaring dengan posisi saling memeluk di bawah selimut. 


"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" 


"Boleh saja." 


"Kamu sama Mega kenal di mana? Kenapa dia bisa terobsesi seperti itu sama kamu?" 


Aby terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya menjawab, "Mega itu adiknya Reno, sahabatku semasa SMA sampai kuliah dulu." 


Embun langsung mendongak menatap suaminya. Ia tampak terkejut mendengar pengakuan Aby. "Apa Mas pernah dekat sama dia?" 


"Sama sekali tidak. Dulu aku memang sering nginap di rumahnya Reno. Tapi jarang bicara sama Mega. Aku cuma pernah menolong dia dalam sebuah kecelakaan. Lalu ...." Ucapan Aby terpotong. Ia sedang memilih kata yang tepat untuk diucapkan agar istrinya tidak sampai salah paham. 


"Tidak lama setelah itu, Mega bilang suka sama aku, dan aku tolak baik-baik. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau jadinya akan seperti ini." 


"Terus bagaimana nanti reaksi teman Mas kalau tahu adiknya melakukan tindakan kriminal?" 


"Nggak tahu. Reno masih di luar kota untuk urusan pekerjaan. Dia juga bekerja di May-Day." 


"Satu kantor dengan Mas?" 


"Nggak sih. Dia di cabang lain." 

__ADS_1


"Oh ...." Embun mendongak dan mencium bibir suaminya singkat. Membuat Aby menatapnya dengan senyum. Istri yang tadinya dingin dan galak itu telah menjelma menjadi sosok yang manja dan selalu ingin dibelai. 


"Tidur, yuk. Sebelum Johnny Deepply bangun." 


"Johny Deepply itu siapa?" tanya Embun, tanpa sempat membedah nama yang baru saja disebut suaminya. 


"Aktor paling berjasa di muka Bumi!" 


Aby mendekap istrinya semakin dalam. Hingga beberapa menit kemudian, keduanya kembali larut dalam buai mimpi. 


.


.


.


Vania baru saja keluar dari jeruji besi, tempatnya mendekam beberapa hari ini. Setelah menjalani beberapa kali pemeriksaan, berikut bukti-bukti yang didapatkan dari penyelidikan pihak kepolisian, Gadis itu dinyatakan tidak bersalah. 


Polisi juga menemukan sidik jari mega yang menegaskan bahwa wanita itulah yang memanipulasi keadaan. Memanfaatkan keadaan Vania untuk mencelakai Embun. 


Mami sudah menyambut putrinya pagi itu. Ia belum dapat membendung luapan air mata atas rasa bahagia setelah putrinya dinyatakan tidak bersalah. 


"Syukurlah, kamu bisa pulang hari ini, Van," ucap Mami seraya memeluk putrinya.


Tak ada respon berlebih dari Vania, selain wajah datar dan sedikit pucat. Namun, kehadiran sosok yang baru saja melewati pintu membuat senyumnya mengembang sempurna. 


"Aby!" 

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, ia berlari menghambur memeluk pria di hadapannya.


*** 


__ADS_2