Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Ulang Tahun Perusahaan


__ADS_3

Kondisi kesehatan oma semakin membaik. Setelah dirawat selama beberapa hari, oma telah diizinkan untuk pulang ke rumah. Seluruh anggota keluarga pun menyambut dengan bahagia. Ada makan malam yang hangat.


Sikap Oma terhadap Embun kini semakin lembut. Galak dan judes yang selama ini ia tunjukkan menghilang tanpa bekas. Setelah melihat ketulusan Embun merawatnya di rumah sakit tanpa mengeluh sedikit pun. Sementara cucu yang selama ini dianggapnya kesayangan malah sama sekali tak memerdulikan dirinya.


Bahkan selama beberapa hari oma di rumah sakit, Mita hanya datang sesekali untuk mengantarkan bubur jika diminta bunda. Dan hal itu benar-benar membuat Oma kecewa. Karena selama ini, ia sangat memanjakan Mita.


Lihatlah, di meja makan Oma duduk di dekat Embun. Sepertinya predikat cucu kesayangan sudah dimenangkan oleh Embun. Bahkan sejak pulang tadi, Oma sedikit mengabaikan Mita.


"Embun, habis ini kamu istirahat ya, Nak. Kamu pasti capek merawat Oma satu Minggu ini," ucap oma, sembari mengusap puncak kepala sang menantu.


"Iya Oma. Tapi aku nggak capek, kok. Di rumah sakit kan cuma temani Oma ngobrol. Nggak ada yang berat."


Wanita itu tersenyum.


"Terima kasih, Sayang. Maafkan sikap Oma yang selama ini tidak adil terhadap kamu. Kami semua beruntung Aby menikahi wanita sebaik kamu," tambah Oma. Ujung matanya melirik Mita. Kemudian bersyukur dalam hati karena rencananya menjodohkan Aby dan Mita tak terwujud. "Rasanya oma sudah tidak sabar mau gendong cicit Oma."


Embun hanya mengulas senyum. Begitu pun Mama Rima yang malam itu turut hadir. Akhirnya wanita paruh baya itu merasa lega setelah melihat sendiri Embun diterima dengan baik di keluarga suaminya.


"Oh ya, By. Kalian nginap di sini malam ini, kan?" tanya Bunda.


"Enggak, Bunda. Kita mau pulang dulu."


"Oh ya sudah. Tapi besok-besok nginap di sini lagi, ya."


"Iya, Bunda."


*


*

__ADS_1


*


Selepas makan malam Aby, Embun dan Mama Rima memutuskan untuk pulang. Semuanya langsung menuju kamar untuk istirahat.


Embun duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut. Sementara Aby duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponsel. Sesekali ia melirik sang istri yang tak kunjung selesai.


"Sebenarnya kamu sisir rambut apa sisir jalan tol, sih? Lama amat!"


Embun terkekeh mendengar ucapan suaminya. Ia melirik Aby melalui pantulan cermin.


"Kenapa, Mas?"


"Kalau mau tidur nggak usah sisiran sampai berjam-jam. Nanti juga berantakan lagi." Gerutuan panjang itu kembali mengundang tawa.


Embun langsung meletakkan sisir dan mendekat ke tempat tidur. Tanpa basa-basi, Aby langsung menerkam dan mengurungnya ke dalam pelukan.


Sekedar informasi, selama beberapa hari menemani Oma, ia sangat merindukan pelukan malam dengan sang istri yang tidak dapat dilakukan di rumah sakit. Sebab Aby adalah tipe lelaki yang enggan memperlihatkan kemesraan di hadapan orang lain.


"Mas, katanya mau libur," ucap Embun tatkala merasakan tangan Aby mulai menyelinap ke daerah terlarang.


"Aku tahu!" Aby langsung memotong ucapan Embun. "Yang libur cuma si Jarwo. Perangkat lainnya tetap aktif." Sambil menciumi pipi istrinya yang mulai tampak tembem seperti bakpao.


"Kirain lupa."


"Enggak dong!" Masih segar dalam ingatan Aby, pesan dokter untuk tidak beraktivitas berlebihan, salah satunya membatasi kegiatan malam mengingat kandungan Embun yang rawan. Karenanya ia memilih menahan diri dan meliburkan monster andalannya. "Padahal Om Dokter Allan itu dokter kandungan loh, bukan dokter ahli kel@min."


Lagi, tawa Embun menggema di keheningan malam.


"Untung kamu bukan besi, Tong! Kalau iya, kamu pasti karatan!"

__ADS_1


*


*


*


Beberapa bulan kemudian ....


Menunggu hari kelahiran sang buah hati adalah saat-saat paling mendebarkan. Apalagi bagi mereka yang baru pertama kali menjadi orang tua. Terkadang cemas dan bahagia bercampur satu.


Itulah yang dialami Embun. Ia sedang berdebar menantikan kelahiran sang buah hati yang kata dokter berjenis kelamin laki-laki.


Saat ini ia sedang berada di balkon rumah untuk melakukan senam hamil. Kadang Embun mengikuti kelas senam. Tetapi hari ini ia sedang ingin melakukannya di rumah dengan bantuan video yang ia tonton melalui ponsel.


"Sayang!" Panggilan itu membuyarkan konsentrasi Embun. Ia lantas beranjak ke dalam rumah demi memastikan tidak salah dengar.


"Sudah pulang, Mas?" Embun langsung menghampiri suaminya. Hal pertama yang dilakukan Aby adalah membungkukkan badan dan mencium perut sang istri yang semakin membesar.


"Iya. Kamu lagi ngapain di balkon?" Ia mengusap kening istrinya yang berkeringat.


"Habis senam," jawab Embun. "Tumben pulang cepat. Biasanya lembur."


"Kan malam ini ulang tahun perusahaan, Sayang. Kamu lupa?"


"Ah, iya. Aku hampir lupa." Embun baru ingat, bahwa malam ini adalah ulang tahun perusahaan tempat suaminya bekerja.


"Katanya bos perusahaan akan datang juga malam ini."


"Memang pemilik perusahaan tempat kamu bekerja itu siapa, Mas?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Nggak tahu, Sayang. Selama bekerja di May-Day aku belum pernah ketemu." Ia mengusap puncak kepala sang istri. "Kamu siap-siap, ya. Temani aku malam ini."


...****...


__ADS_2