Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 64 : Ancaman Lagi?


__ADS_3

Vania terduduk melamun di ruang kosong antara ranjang dan lemari. Sejak tiba di rumah beberapa jam lalu, ia mengurung diri di kamar. Bahkan ia tak mengindahkan ketukan pintu yang sudah terdengar beberapa kali. 


"Van, buka pintunya. Jangan seperti ini, Sayang. Ayo keluar, mami mau bicara sebentar." Mami membujuk sekali lagi. Namun, setelah beberapa saat menunggu tak ada sahutan. Kekhawatiran kian bertambah. "Bagaimana ini, Pi." 


Sepasang suami istri itu tampak bingung. Mbak Siti yang sejak tadi ikut membujuk Vania tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal, dirinyalah yang paling mengenal seperti apa Vania dan bagaimana membujuknya ketika sedang marah. 


Wanita yang usianya hampir setengah abad itu menatap kedua majikannya secara bergantian. "Bu, hanya ada satu cara untuk membujuk Non Vania." 


"Bagaimana caranya, Siti?" Wanita itu menatap penuh tanya. 


Mbak Siti tampak ragu untuk menjawab. "Cuma Den Aby yang bisa, Bu. Tapi saya ragu Den Aby mau ke sini." 


Selama ini, jika Vania melakukan sesuatu yang berbahaya, Mbak Siti akan menghubungi Aby untuk meminta tolong. Hanya lelaki itu lah satu-satunya yang mampu meluluhkan Vania. 


Mami tidak tahu harus berkata apa. Terlebih beberapa hari lalu ia sempat mendatangi rumah Aby dan menghina Embun habis-habisan. Sebagai seorang suami, Aby pasti keberatan dan marah jika istrinya dihina seseorang. 


Sembari menyeka air mata, ia berkata, "Tapi apa Aby mau ke sini untuk membujuk Vania?" 


"Saya tidak tahu, Bu. Tapi selama ini hanya Den Aby yang bisa membujuk Non Vania." 


.


.


.


"Gimana rasanya?" Embun menatap suaminya dengan mata berbinar setelah Aby mencoba masakan yang baru dibuatnya. 


Aby mengunyah dengan kerutan tipis di kedua alis tebalnya, seolah sedang menilai rasa dari masakan buatan sang istri. "Enak sih. Cuma garamnya kurang, micinnya kebanyakan, dan daging ayamnya terlalu matang." 

__ADS_1


Bibir tipis Embun berkerucut, tetapi entah mengapa terlihat sangat menggemaskan di mata Aby. Ingin sekali ia menggigitnya. 


"Kalau gitu apanya yang enak?" protes Embun. 


Aby terkekeh seraya membelai puncak kepala sang istri. Baginya bukanlah rasa yang penting, tetapi niat tulus saat membuatnya. "Nggak apa-apa. Bunda bilang, nggak semua perempuan yang baru menikah langsung pintar masak. Belajar itu satu-satu, mulai dari dapur sampai kasur. Semua pasti akan mahir pada waktunya." 


Ucapan sok bijak dari suaminya itu membuat Embun menerbitkan senyum manis. 


"Mau sosis nggak, Sayang?" tawarnya seraya mengedipkan sebelah mata. Kali ini kalimat rayuan akan ia berikan.


"Sosis bakar, ya?"


"Terserah kamu, mau sosis bakar atau sosis panggang."


Tadi, Aby memang membeli sosis mentah di swalayan. Embun Kemudian bangkit dari tempat duduknya. Namun, baru akan melangkah, Aby sudah menarik tangannya. 


"Eh, mau ke mana?" 


Terlihat kerutan di dahi Aby. "Hah? Ambil sambel buat apa?" 


"Buat dicocol lah." 


Refleks kelopak mata Aby membulat sempurna. "Kamu tega, Mbun?" 


"Kan nggak enak kalau nggak dicocol ke sambel." 


Tiba-tiba Aby meraba tengkuk lehernya yang mendadak terasa meremang. "Si Jarot bisa semaput kalau dicocol ke sambel." 


Spontan saja pipi Embun menjadi merah saat berhasil membedah ucapan suaminya. Aby benar-benar berubah menjadi sosok yang me5um. 

__ADS_1


"Kenapa bilang sosis? Aku kan mikirnya sosis beneran!"


Aby hanya tergelak ketika Embun melayangkan tepukan di dada.


Suara deringan ponsel pun menjadi pemutus obrolan sepasang suami istri itu. Aby meraih benda pipih yang berada di atas meja makan. Alisnya kembali berkerut saat melihat nama yang tertera pada layar. 


"Siapa, Mas?" 


"Ini nomor telepon rumahnya Vania." 


"Jawab aja, siapa tahu penting. Katanya Vania bebas bersyarat hari ini, kan?" 


Aby lantas menggeser simbol hijau pada layar. Baru menempelkan benda itu ke daun telinga, sudah terdengar suara mami yang panik.


"Aby, bisa tolong tante? Vania mau bunuh diri lagi dengan memanjat ke balkon. Tolong tante, Aby. Tante tidak tahu harus minta tolong sama siapa." 


Pria itu terlihat cukup terkejut. Ia tahu seperti apa Vania saat menginginkan sesuatu. Wanita itu akan mengancam apa saja agar keinginannya terpenuhi. 


Belum sempat Aby menjawab, panggilan sudah terputus, setelah terdengar suara jeritan ketakutan dari wanita itu.


"Kenapa, Mas?" tanya Embun setelah melihat raut wajah serius suaminya. 


"Katanya Vania mengancam mau bunuh diri lagi. Mereka minta aku ke sana buat bujuk Vania." 


Rahang Embun terbuka lebar mendengar berita itu. "Jadi kamu akan ke sana?" 


"Embun, aku tahu seperti apa Vania kalau menginginkan sesuatu. Dia benar-benar akan nekat melompat dari balkon kamarnya. Tapi, kalau  kamu keberatan aku nggak akan ke sana," terang Aby, seraya menggenggam tangan istrinya. 


Wanita itu menatap mata suaminya dalam-dalam. "Kalau Vania meminta kamu meninggalkan aku dengan mengancam mau bunuh diri lagi, apa kamu akan memenuhi keinginannya?" 

__ADS_1


****


__ADS_2