
Embun berjalan cepat menuruni tangga. Hampir empat jam ia berada di kampus dan itu membuatnya tidak enak hati terhadap Mang Ujang yang lama menunggu. Padahal tadi rencana ia tidak akan lebih dari dua jam. Namun, justru lebih dari itu.
"Embun!" Suara panggilan kembali menghentikan langkah Embun. Ia menoleh untuk melihat sosok yang baru saja menyapa dirinya.
"Kak Dewa?" Kedua alis Embun saling bertaut, menatap lelaki itu. "Kak Dewa sedang apa di sini?"
Dewa berjalan mendekat dan berdiri tepat di sisi Embun. Pria yang masih tampak rapi dengan kemeja dan celana bahan itu memulas senyum tipis.
"Mau bertemu seseorang sekaligus mengurus sesuatu," jawabnya. "Oh ya, bagaimana keadaan Aby? Maaf, aku belum sempat menengok ke rumah sakit. Jadwalku sedang padat-padatnya."
Embun balas tersenyum. "Nggak apa-apa, Kak. Lagi pula Mas Aby sudah lebih baik dan masa kritisnya sudah lewat."
"Syukurlah. Semoga cepat sembuh, aku ikut senang kalau Aby baik-baik saja." Ia menjeda ucapannya dengan hela napas. "Ngomong-ngomong aku dengar dari anak-anak, tentang keterlibatan Vania dalam kecelakaan Aby. Apa itu benar?"
Embun tidak tahu harus menjawab apa. Karena semua masih terasa abu-abu baginya.
"Semua masih dalam penyelidikan kepolisian, Kak."
"Semoga pelaku sebenarnya cepat tertangkap," ucapnya penuh harap, diikuti anggukan oleh Embun. "Jadi bagaimana hubungan kamu dengan Aby? Maaf, bukannya aku mau ikut campur. Hanya saja ...."
Lagi-lagi Embun mengangguk diiringi senyum. "Hubungan aku sama Mas Aby baik-baik saja, Kak. Semua kesalahpahaman antara kami sudah berakhir."
Embun juga memberitahu Dewa tentang Aby yang berniat melakukan ijab kabul ulang. Meskipun terlihat kecewa, namun Dewa berusaha menutupi dengan senyuman.
"Aku ikut senang mendengarnya."
"Kalau begitu, aku duluan ya, Kak. Mang Ujang sudah menunggu di depan."
Dewa menganggukkan kepala, membuat Embun segera beranjak meninggalkannya. Pria itu hanya dapat memandangi wanita pujaannya yang semakin menjauh.
"Ngelus dada lagi kamu, Dewa!"
.
.
.
Sementara itu, di rumah sakit ...
__ADS_1
Deringan ponsel tanda pesan masuk membuat Aby terlonjak. Sudah sejak tadi ia terus gelisah menunggu benda pipih itu berdering. Tangannya terulur meraih ponsel dari meja nakas. Ia harus menelan rasa kecewa ketika nomor kontak yang tertera pada layar bukan lah dari istrinya ataupun Mang Ujang. Melainkan dari nomor tak di kenal.
Secepat kilat, Aby membuka pesan itu. Apa yang tampak pada layar ponsel membuat kedua bola matanya melotot. Rahangnya seketika mengetat. Ia pasti sudah membanting ponsel jika tidak mengingat masih membutuhkan benda itu.
Betapa tidak, seseorang baru saja mengirim foto Embun yang sedang berdua dengan Dewa di kampus. Hal yang membuat Aby kesal setengah mati.
"Dia ngapain menemui Embun di kampus?" gerutunya geram.
Bunda yang sedang duduk di sebuah kursi sambil membaca koran, seketika menoleh saat mendengar Aby menggerutu. "Kenapa, By?"
"Nggak apa-apa, Bunda." Aby menarik napas dalam-dalam demi mengurai rasa kesal yang tiba-tiba memenuhi hatinya.
Dibelenggu oleh rasa penasaran, Aby mencoba menghubungi nomor asing yang baru saja mengirimkan foto Embun. Namun, sudah tidak aktif lagi. Membuat Aby kembali mendengkus. Begitu banyak ujian dalam rumah tangganya dengan Embun. Mulai dari Vania, Dewa, dan sekarang seseorang yang bahkan tidak dikenal.
Aby lantas memilih menghubungi salah satu temannya. Ia menunggu beberapa saat hingga panggilan terhubung.
"Iya, By ...." Terdengar sahutan ramah di ujung telepon.
"Ver, kamu sibuk, nggak? Aku butuh bantuan kamu," ucapnya tanpa basa-basi.
"Bantuan apa?"
Aby memang tak salah menghubungi temannya itu. Vero memang tidak pernah keberatan jika dimintai bantuan.
"Itu sih gampang. Kamu kirim saja nomornya, nanti aku bantu cari tahu siapa pemiliknya."
Aby memulas senyum. Setelah mengucapkan terima kasih, ia memutus panggilan, lalu mengirimkan nomor asing itu kepada temannya.
.
.
.
Hari sudah sore ketika Embun tiba di rumah sakit. Ia yang hampir seharian berada di luar berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan suaminya dirawat. Ia tahu Aby sudah gelisah sekarang. Terlebih ponselnya mati karena kehabisan baterai dan ia lupa membawa charger. Dan di perjalanan tadi, Mang Ujang memberitahu bahwa Aby beberapa kali menghubunginya.
Benar saja, saat membuka pintu, Aby tampak duduk bersandar seorang diri dengan gelisah. Ia terlihat menghela napas panjang saat melihat istrinya memasuki ruangan itu.
"Kamu sendirian, Mas? Bunda mana?" Embun mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Aku minta bunda pulang dulu. Baru aja, kasihan bunda kecapean."
Embun meletakkan tas ke atas meja dan mendekati suaminya. Membuat Aby meraih tangannya. "Kamu dari mana saja? Kenapa lama di kampus?"
"Maaf, Mas. Aku lama karena menunggu dosen pembimbing," jawab Embun masih santai.
Aby mengangguk mengerti. "Tadi ketemu siapa di kampus?"
Pertanyaan itu menciptakan kerutan di dahi Embun. "Ketemu banyak orang lah, Mas. Namanya juga kampus, ya pasti banyak orang."
Jawaban santai itu pun membuat Aby gemas setengah mati. Ingin sekali ia menggigit istrinya itu. "Aku nggak minta kamu menyebut semua orang yang kamu temui di kampus."
Bibir Aby yang mengerucut lucu membuat Embun terkekeh. Ia sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Dan Embun dapat menebaknya.
''Tadi aku sempat ketemu sama Kak Dewa."
"Si Dewa ngapain temui kamu di kampus?" tanyanya ketus.
"Bukan menemui aku sebenarnya. Katanya Kak Dewa ada urusan di kampus, sekalian mau ketemu seseorang. Kebetulan ketemu aku. Kak Dewa juga titip salam untuk kamu. Katanya belum sempat menjenguk kamu karena jadwalnya padat."
"Terus kalian bicara apa saja?"
Bibir Aby kembali mengerucut setelah mengajukan pertanyaan itu. Namun, tiba-tiba ia teringat pada kesalahannya yang lalu. Embun yang tidak punya hubungan khusus dengan Dewa saja mampu membuat Aby kesal dan cemburu. Lalu, bagaimana dengan Aby, yang jelas-jelas masih melanjutkan hubungan dengan Vania, padahal ia sudah memiliki Embun sebagai istri.
Menyadari kesalahannya, Aby kembali menggenggam tangan istrinya dan menatap penuh sesal.
"Aku minta maaf. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan kamu saat melihat aku bersama Vania. Kamu pasti sakit hati."
"Nggak usah dibahas lagi. "Apa ada yang kirim foto aku sama Kak Dewa ke kamu?"
Aby mengangguk. "Ada, tapi dari nomor tidak dikenal."
"Nomor tidak dikenal?" Dahi Embun tampak berkerut tipis. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, mungkinkah pengirim foto Aby bersama Vania dan foto Embun bersama Dewa.adalahnorang yang sama?
"Mana, coba aku lihat?"
Embun meraih ponsel milik Aby dan membuka pesan berisi gambar pertemuannya dengan Dewa.
Seperti dugaan Embun, foto tersebut berasal dari nomor yang sama.
__ADS_1
***